Ikhlas di Era Medsos

Author :

Salah satu isi ceramah ust. Marzuki Umar malam itu adalah tentang fitnah akhir zaman. Beliau menyampaikan hadist bahwa ummat akhir zaman akan menghadapi fitnah yang lebih besar dari dajjal. Fitnah Dajjal ini wujudnya bolak baliknya kebenaran. Yang benar jadi salah. Yang salah jadi benar. 

Fitnah yang lebih besar dari dajjal yaitu syirik kecil atau riya' dan sum'ah. Melakukan amalan karena ingin dilihat dan didengar orang lain. Ingin dipuji. Jadi amalannya tidak ikhlas. Bukan karena Allah tapi karena manusia.

Di era sekarang lahir media sosial. Di medsos setiap orang bisa menjadi wartawan bagi dirinya sendiri. Bisa posting dan menyebarkan apa saja tanpa ada sensor dari redaksi. Tanggung jawab ada pada diri pemilik akun medsos. Salah satu yang banyak diupload yaitu amalan kebaikan. Apakah dari alasan ini medsos bisa menjadi fitnah akhir zaman? 

Bisa saja karena memamerkan amal saleh dapat mengganggu keikhlasan. Dapat menjadi jalan riya' karena amalan saleh dilihat orang lain. Tidak lagi menjadi amalan rahasia. Kalau ini terjadi, medsos bisa menjadi fitnah besar karena menjadi jalan syirik kecil. 

Apakah harus berhenti menggunakan medsos? Tentu tidak. Cuma perlu hati-hati dan menjaga hati. Jangan sampai medsos menjadi perusak pahala karena menggerus keikhlasan. 

Bagaimana cara menjaga keikhlasan? Saya teringat ceramah Aa Gym. Agar mudah diingat saya bagi tiga. Pertama, belajar memiliki amalan rahasia. Jangan semua amalan ingin diketahui dan dilihat orang lain. Kata kuncinya tahu dan lihat, disingkat TaLi. 

Terkait posting amal saleh di medsos, perhatikan, tidak semua amal saleh harus diperlihatkan dan diberitahukan ke orang lain. Jika memang harus diposting, cek kembali niat dan tujuannya apa. Jika untuk diri sendiri agar diketahui orang lain sebagai orang saleh, lebih baik dihentikan. Jika tujuannya untuk dakwah dan menggugah orang lain untuk beramal, melakukan hal yang sama, silakan lanjutkan. 

Kedua, dalam beramal jangan harapkan pujian manusia. Kata kuncinya Harap Pujian disingkat HP. Berharaplah hanya kepada Allah. 

Peluang mengharap pujian dari followers di medsos sangat tinggi. Ada notifikasi siapa yang like dan dislike. Ada komentar bisa berupa pujian atau sebaliknya. Tetap jaga hati. Bukan itu yang diharapkan. Jika dipuji jangan lupa diri, ucapkan masya Allah, semua karena Allah. Ucapkan alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah. 

Ketiga, dalam beramal jangan berharap mendapatkan balas budi dari manusia.  Berharaplah hanya kepada Allah. Kata kuncinya Budi. Ketiga kiat ikhlas dari Aa Gym bisa disingkat TaLi HP Budi.

Ketiga kiat di atas di era medsos sekarang tentu sangat sulit. Meskipun sulit, yakinlah insya Allah bisa. Mohonlah pertolongan dari Allah agar dapat menjaga keikhlasan. Selamat berjuang menjadi manusia ikhlas di era medsos.

Previous PostTrump: Fir'aun Abad XXI
Next PostMengejar Lailatul Qodar
ARSIP MESSAGE OF THE DIRECTOR