Kajian Bulanan Athirah Bone; Integrasi Asmaul Husna Al-Ghaffar dalam Kehidupan Sehari-hari
WATAMPONE – Sekolah Islam
Athirah Bone menggelar Kajian Bulanan sebagai upaya rutin memberikan penyegaran
rohani dan meningkatkan kualitas keimanan seluruh warga sekolah. Kegiatan ini
dilaksanakan pada Jumat, 12 Desember 2025, bertempat di Masjid Sekolah Islam
Athirah Bone.
Kajian Bulanan kali ini diikuti
oleh seluruh guru dan karyawan, mulai dari unit SD, SMP, hingga SMA, dengan
menghadirkan narasumber eksternal yang kompeten di bidang keagamaan.
Tema utama yang diangkat adalah "Integrasi
Asmaul Husna ‘Al Ghaffar’ dalam Kehidupan." Narasumber pada kesempatan ini
adalah Drs. KH. M. Tahir Arfah, M.Pd.I., seorang dosen senior di Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Bone yang juga dikenal sebagai pemuka agama di Kab. Bone.
Sosok yang memiliki kepakaran di
bidang Pendidikan Agama Islam (PAI), memaparkan sejumlah poin penting mengenai
Asmaul Husna, khususnya mengenai nama Allah, Al-Ghaffar.
Dalam paparannya terkait pemaknaan
Asmaul Husna: KH. Tahir Arfah menekankan bahwa perintah menghafal Asmaul
Husna agar dapat masuk surga harus dimaknai secara luas, yakni dengan mengimani,
memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hafalan
sempit. Kata Ghaffar dan Ghafur
memiliki akar kata yang sama, yaitu Ghafara, yang berarti menutup.
Beliau menjelaskan bahwa Ghafur berbicara tentang kualitas dosa,
sementara Ghaffar berbicara tentang kuantitas dosa.
Pada kesempatan
tersebut peserta diingatkan akan bahaya meragukan akidah, karena sedikit
keraguan dapat meruntuhkan iman. Kajian ini juga menguraikan macam-macam tauhid
sebagai fondasi keimanan yang kuat. Dengan mengimani Al-Ghaffar, setiap
muslim harus menanamkan dalam diri bahwa Allah senantiasa membukakan pintu
ampunan, dan ampunan Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa hamba-Nya.
Dalam sesi
yang berfokus pada taubat, KH. M. Tahir Arfah menggarisbawahi lima dimensi
penting yang perlu diperhatikan dalam bertaubat: 1. Kesadaran akan dosa yang
diperbuat, 2. Menyesali perbuatan dosa tersebut, 3. Memohon ampun atas dosa yang disesali, 4. Berjanji
pada diri untuk tidak mengulangi hal serupa, 5. Bertaqwa sebagai wujud nyata
setelah taubat.
Beliau juga memaparkan manfaat
istigfar sebagai sarana untuk senantiasa mencari ampunan Allah.
Dalam sesi terakhir pemateri
memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk mengajukan pertanyaan
seputar tema yang sedang dibahas. Sebagai penutup, narasumber menyampaikan
implementasi Al-Ghaffar dalam kehidupan sosial. "Sebagaimana Allah
SWT menutup aib-aib kita (dosa), kita sebagai hamba-Nya juga berusaha untuk
menutup aib-aib orang lain," tutupnya.
Kegiatan Kajian Bulanan ini
diharapkan menjadi penyegar rohani yang berkelanjutan bagi seluruh keluarga
besar Sekolah Islam Athirah Bone, memastikan bahwa nilai-nilai keagamaan
terintegrasi penuh dalam lingkungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Nurholis_Tim Athirah Web (ig: @nurholismuh)

