Bedah Buku, Guru SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bahas Manajemen Kelas
MAKASSAR - Sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Sekaitan dengan itu, guru sepatutnya menjadi orang tua kedua bagi siswa, sehingga siswa betah belajar di sekolah.
"Kita
perlu berlatih menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi siswa. Jadikan
siswa mau belajar, sehingga mereka bisa berprestasi," kata Kepala SMA
Islam Athirah Bukit Baruga M Ridwan Karim SPd MPd saat menyampaikan bedah buku
di ruang guru SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Jalan Raya Baruga, Makassar,
Sulawesi Selatan, Kamis (26/7/2018).
Pihaknya membedah buku
yang berjudul "Manajemen Kelas". Di setiap Rabu, setiap guru SMA
Islam Athirah Bukit Baruga secara bergantian membedah buku.
Turut hadir mengikuti
pertemuan, wakasek kesiswaan SMA Islam Athirah Bukit Baruga Abdul Azis SPd,
wakasek sarana lingkungan Wardah SPd, dan wakasek kurikukum Dr Bakry. Hadir
pula para guru mata pelajaran, asisten guru, dan guru pendamping.
Terkait penciptaan
iklim kelas yang kondusif, Ridwan Karim mengutarakan, tugas guru dibagi menjadi
dua. Pertama, guru sebagai pemimpin belajar. Kedua, guru sebagai manajer kelas.
Guru sangat menentukan terkait siswa mau belajar apa dan bagaimana kondisi
belajarnya. Guru menentukan kondusifitas kelas. "Guru menentukan
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sebab guru adalah
manajer kelas," pungkas Ridwan.
Mengutip pendapat
Radno Harsanto, Ridwan Karim mengemukakan, kelas terbagi menjadi empat.
"Pertama, kelas yang selalu gaduh. Karenanya, guru harus bergelut agar
kelas tidak gaduh," ucapnya.
Jenis yang kedua,
kelas yang termasuk gaduh, tetapi suasananya lebih positif. Guru dengan
sungguh-sungguh menciptakan suasana yang menyenangkan, tetapi hasil belajar
siswa tidak maksimal. Banyak peserta tidik yang kurang memberi perhatian di
kelas.
Ketiga, sambung
Ridwan, kelas yang tenang dan disiplin. Guru memberi perhatian terhadap bentuk
pelanggaran. Siswa takut pada guru sebab guru menekankan pada aturan yang
disepakati. Jika melanggar, siswa dihukum. "Kondisi kelas seperti ini
tercipta kalau guru ada di dalam kelas. Tetapi, saat guru tinggalkan kelas,
siswa menjadi gaduh," ungkap Ridwan.
Tipe kelas yang
keempat, ujar Ridwan, yaitu kelas yang menggelinding sendirinya. Ada kesadaran
yang besar dari siswa untuk belajar. Suasana kelas nyaman karena guru tidak
berfokus pada penegakan disiplin. Tetapi, guru berfokus pada pembelajaran.
"Jika muncul suara-suara dari peserta didik dan terasa mengganggu, guru
cukup memberi sedikit peringatan dan kelas menjadi kondusif,"
tuturnya.
Keberhasilan kegiatan
belajar mengajar, ditentukan oleh iklim kelas atau suasana kelas. Mengutip isi
buku, Ridwan Karim menyampaikan, iklim kelas terbagi menjadi tiga. "Iklim
kelas drngan sikap guru yang otoriter, iklim kelas dengan sikap guru yang
permisif, dan iklim kelas dengan sikap guru yang nyata," tuturnya.

