Guru Sekolah Islam Athirah Diajak Cakap Literasi
Tak ada transformasi yang dapat dicapai tanpa pendekatan pendidikan. Adapun pendidikan erat kaitannya dengan kecakapan membaca dan menulis. Sepatutnya tidak hanya siswa yang diajak memiliki kemampun literasi. Guru pun didorong memiliki kecakapan literasi.
Membudayakan gerakan membaca dan menulis dimulai dari rumah tangga lalu lingkungan sekolah.
“Ada satu kekeliruan yang terjadi. Bahwa gerakan membaca hanya diarakan pada anak didik. Tetapi tidak ada yang namanya gerakan kepala sekolah membaca, gerakan guru membaca, dan gerakan tata usaha membaca,” tutur penggerak literasi Bachtiar Adnan Kusuma saat menyampaian motivasi literasi dalam “Forum Jumat” di Auditorium Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolaliddo, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (29/9/2017).
Forum Jumat merupakan kegiatan pengembangan kompetensi individu dan organisasi di lingkup Sekolah Islam Athirah. Kegiatan diikuti segenap pimpinan, manajemen, guru, staf, dan karyawan Sekolah Islam Athirah Kajaolaliddo dan Bukit Baruga Makassar.
Tampak hadir Direktur Sekolah Islam Athirah Syamril ST MPd dan Kepala Sekolah SMA Islam Athirah Bukit Baruga Ibnu Hajar SPd.
Jika berbicara literasi, sama halnya berbicara keteladanan. Guru sepatutnya membiasakan diri membaca. “Bacalah buku 15 menit sebelum mengajar. Perbanyak bacaan kita. Siapa yang banyak baca buku, ia banyak menguasai referensi,” ungkap penulis 600-an buku ini.
Di Sekolah Islam Athirah sendiri telah dilaksanakan hari bedah buku. Kecakapan menulis erat kaitannya dengan kebiasaan membaca. “Mari bangun kebiasaan menulis. Tidak mungkun bisa menulis dengan baik kalau tidak membaca,” ucap Sekjen Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat ini.
Menurut penulis buku biografi ini, buku adalah produk peradaban. Buku bukan sekedar kumpulan kertas, tetapi buku menawarkan kehidupan baru. “Membaca buku selama 1 menit, membuat kita bisa menguasai 300 kata. Dengan membaca 15 menit, kita bisa kuasai 4.500 kata,” ujar Bachtiar dihadapan ratusan hadirin.
Di setiap satuan pendidikan, gerakan literasi bisa dimulai dengan mengajak siswa membaca dan menulis di hari khusus yang ditentukan. Langkah lain, dengan memperbanyak kompetisi. “Mestinya sekolah memberi penghargaan kepada siswa yang rajin ke perpustakaan sekolah. Dalam rangka membangun kebiasaan membaca buku, mestinya sekolah memperbanyak lomba menulis,” ucapnya.
Ia menekankan, tidak ada perubahan yang bisa dilakukan tanpa pendekatan pendidikan. “Berbicara pendidikan, ujung-ujungnya adalah membaca,” ujar penggagas kampanye membaca 15 menit setiap hari ini.
Tidak ada sebuah perubahan yang bisa kita capai tanpa pendekatan pendidikan. Negara yang minim Sumber Daya Alam (SDM) bisa maju karena memiliki kekayaan Sumber Daya Manusia (SDM). “Saat Jepang hancur akibat bom Hirosyima dan Nagasaki, orang yang pertama kali Kaisar Hirohito cari adalah guru. Berapa banyak guru yang masih hidup. Artinya, Kaisar Hirohoto ingin melakukan restorasi melalui pendidikan,” jelas Bachtiar.
Gerakan literasi dimulai dari lingkungan keluarga. Perlu keteladanan dari orang tua. “Luangkan waktu dalam sehari semalam untuk membaca buku. Setelah itu, melangkah ke lingkungan sekolah dengan menggiatkan gerakan literasi sekolah,” katanya.
Dalam Forum Jumat ini juga diselenggarakan pemberian apresiasi terhadap guru dan karyawan berprestasi periode Agustus-September 2017. Adapun kategorinya antara lain insan kalla kerja ibadah, insan kalla aktif bersama, insan kalla apresiasi pelanggan, dan insan kalla lebih cepat lebih baik. (Ilmaddin Husain)

