image

Menjadi Guru yang Bijak

Penulis : Syahrul S.Pd (Guru Seni Budaya SMP Islam Athirah 1 Makassar)

Salah satu bentuk kompetensi kepribadian yang penting dari seorang guru adalah menjadi sosok yang bijak, guru yang mampu menampilkan perilaku berdasarkan asas manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Guru yang bijaksana mengutamakan kepentingan peserta didiknya sehingga mereka dapat menjadi sosok yang berhasil dan sukses di masa mendatang.

Untuk bersikap bijak, secara teoritis, hampir setiap orang atau guru mengetahuinya. Akan tetapi, tidak semua dapat melakukannya. Tindakan seorang guru yang bijak adalah bagaimana dia dapat menunjukkan perilaku yang memberikan manfaat untuk orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama anak-anak didiknya. Guru harus mampu menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. Pola pikir terbuka dan bertindak secara baik dari sosok seorang guru menjadi satu keharusan. Hal ini agar guru dapat secara terus menerus bersedia mengembangkan dirinya. Di sisil ain, guru juga harus bersedia menerima informasi yang dapat memberikan manfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk lingkungannya. Terbuka dalam berfikir dan bertindak akan membantunya untuk menerima diri, baik itu kelebihan maupun kekurangannya.

Guru yang bijak adalah yang mampu menjadikan anak-anak didiknya sosok yang juga bijak. Untuk mewujudkan harapan tersebut, guru harus dapat membina hubungan yang baik dengan memberikan contoh-contoh teladan dalam perilaku kesehariannya.

Di masa pandemi seperti saat ini, di mana proses belajar dan mengajar dilakukan secara daring, maka seorang guru dituntut untuk bijak dalam memberikan tugas kepada peserta didiknya. Hendaknya pemberian tugas disesuaikan dengan kompetensi anak, lebih disederhanakan dan tidak terlalu padat seperti di saat pembelajaran normal. Untuk pelajaran prakarya atau seni budaya misalnya di jenjang SMP, maka tugas praktek ( psikomotorik ) maksimal dua tugas yang dikemas dalam bentuk tugas proyek, yang diikuti oleh pembimbingan prosedur pengerjaan tugas atau pemberian layanan kepada peserta didik jika mengalami kesulitan. Pemberian tugas hendaknya tidak membebani apalagi membuat anak stress atau frustasi, yang pada akhirnya tugas dibuatkan oleh orang lain.

Beberapa kebijakan guru yang diungkapkan di atas mungkin cenderung subyektif, namun setidaknya bagi yang sepaham, ini bisa dijadikan alternatif  dalam melayani anak didik kita. Bijak bersumber pada hati, bukan pada data yang menjadi pijakan bagi sebagian orang. Semoga kita bisa menjadi guru bijak yang bijaksana.

Sosok guru yang bijak pasti akan memberikan yang terbaik dan menjadi contoh teladan untuk anak didiknya. Oleh karena  itu, guru perlu dengan kesukarelaan hati menghayati dan memaknai peran yang sesungguhnya. Sosok guru yang bijak haruslah dengan ikhlas mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengarahkan anak-anak didiknya agar dapat meraih cita-cita dan menuju ke masa depan yang lebih baik.

Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran.

 

Editor : Hasniwati Ajis ( Tim Web SMP Islam Athirah 1 Makassar)


<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->

Previous PostGuru SD Islam Athirah 1 Makassar Ikuti Forum Sosialisasi Program Human Capital Departemen Sekolah Islam Athirah
Next PostMengenalkan Teknologi Sejak Dini, SD Islam Athirah 1 Makassar Suguhkan Ekstrakurikuler IT