Sesi Berbagi SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bahas Bekal Berkuliah di Luar Negeri
<!--[if gte mso 9]><xml>
Dipandang penting memberikan gambaran kepada siswa yang saat ini masih bingung menentukan kampus apa yang akan dimasuki nantinya. Oleh karena itu, digelarlah sesi berbagi (sharing session) yang diikuti para siswa-siswi kelas XII SMA Islam Athirah Bukit Baruga. Dikarenakan masih dalam kondisi pandemi covid-19, maka pembelajaran digelar secara daring (online) menggunakan aplikasi zoom meeting, Rabu (10/3/2021).
Kegiatan digelar selama 1 jam 30 menit sejak pukul 10.30 sd 12.00 Wita. Sesi berbagi mengambil tema “Kampus Terbaik Apakah Sudah Menjanjikan?”.
Menjadi narasumber dalam kegiatan ini Dosen Universitas Hasanuddin Dr Sudirman Natsir. Ia adalah Ketua Centre of Excellence for Interdisciplinary and Sustainability Science (CEISS) Universitas Hasanuddin. Selain itu, turut membagi ilmu dan pengalaman Dr Hasnawati Saleh yang merupakan Sekretaris Jenderal Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Dr Hasnawati Saleh juga sebagai dosen di Universitas Hasanuddin. Keduanya membagi ilmu terkait beasiswa di luar negeri.
Dalam penyampaiannya, pemateri Dr Sudirman Natsir menjelaskan, masa menempuh pendidikan jenjang strata 1 (S1) adalah masa yang sangat penting. “Masa dimana kita banyak bertemu orang-orang yang memengaruhi perjalanan hidup. Bertemu dosen yang menginspirasi. Bahkan, kadang kadang ketemu jodoh,” ujarnya.
Ia mengatakan, dinilai penting bagi mahasiswa untuk mengatur waktu. “How to manage your time. Penting how to manage your stress,” paparnya.
Hadir mengikuti kegiatan sebanyak 72 orang peserta, terdiri dari para guru dan siswa-siswi kelas XII SMA Islam Athirah Bukit Baruga. Sesi berbagi kali ini dipandu moderator Wardah SPd Gr. Adapun pembawa acara Nurhidayanti Juniar SPsi. Beberapa guru yang hadir antara lain Sulviati SPd, Sumardi Uddin SPdI, Umi Kalsum SPd MPd, A Triana Kusumayanthi SS, dan Ilmaddin SPd.
Lebih lanjut, Dr Sudirman Natsir menjelaskan bekal yang perlu dimiliki untuk berkuliah di luar negeri. “Punya kemampuan dan percaya diri. Tanamkan bahwa manusia setara. Jangan minder tetapi juga jangan merasa lebih. Orang Indonesia terkadang inferior atau merasa rendah diri kepada orang asing,” jelasnya.
Supaya bisa bergaul. Atasi hambatan budaya. Kalau belum sempat berkuliah S1 di luar negeri, katanya, bisa berkuliah S2, S3, atau bahkan bekerja di luar negeri.
Belajar, katanya, adalah untuk mencari ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia. Ilmu yang dicari untuk kebaikan semua orang. “Ilmu pengetahuan yang dicari manfaatnya dirasakan semua orang. Tidak peduli apa agamanya dan apa warna kulitnya,” kata Dr Sudirman Natsir.
Di lain pihak, Dr Hasnawati Saleh mengemukakan, untuk meraih cita-cita harus ada rencana. Selain itu, pentingnya memiliki mentor biasanya yang lebih senior. “Peran dari mentoring sangat penting. Kami bisa sampai disini (di luar negeri) karena dibantu mentor,” katanya.
Bekal yang tak kalah penting adalah kemampuan berbahasa. “Terutama Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Kalau bisa bahasa lain juga,” ucapnya.
Nantinya, kalau sudah berkuliah maka supaya serius melakoninya. “Kuliah bukan hanya untuk mendapat nilai. Tetapi, kecintaan untuk mendapat ilmu pengetahuan. Adanya keinginan untuk belajar seumur hidup atau long life education,” ungkapnya.
Moderator
acara, Wardah SPd Gr menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan
gambaran variasi bidang ilmu pengetahuan kepada siswa yang diharapkan bisa membantu
mereka menentukan jurusan. “Disamping itu, untuk memberikan tips serta
langkah-langkah menentukan jurusan di perguruan tinggi. Lebih jauh, agar siswa mengetahui
strategi apa saja yang mereka bisa lakukan agar kehidupan di universitas nanti
bisa mereka jalani dengan baik,” paparnya. (Ilmaddin)

