Aditya Pratama, Sang Debater yang jadi Duta Literasi SMA Islam Athirah Bone
Duta Literasi merupakan program kesiswaan yang dilaksanakan di ruang lingkup Sekolah Islam Athirah Bone yang dilaksanakan setiap empat bulan sekali. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa dan memberikan apresiasi kepada siswa yang memiliki . Majelis Pembina Organisasi (MPO) kemudian melakukan perekapan dan menentukan tiga kandidat dengan jumlah bacaan paling banyak per satu periode. Kandidat tersebut kemudian akan mengikuti QnA Session di depan seluruh siswa terkait buku-buku yang telah mereka baca. Siswa yang dapat menjelaskan dengan baik buku yang dibaca dan dapat menjawab pertanyaan audiens dengan baik, akan terpilih menjadi Duta Literasi SMA Islam Athirah Bone.
Senin, 26 Oktober 2020, Penganugerahan Duta Literasi SMA Islam Athirah Bone kembali digelar. Dari 214 siswa, terpilih 3 kandidat, Husnul Khatimah (siswi kelas XII IPA Al Wajid), Aditya Pratama (siswa kelas XI IPS Al Hafidz) dan Muh. Arfah Zam Zam (siswa kelas XII IPS Al Hadi), yang akan memperebutkan gelar Duta Literasi periode Juli-Oktober 2020. Setelah melalui QnA Session, adalah Aditya Pratama yang kemudian terpilih menjadi Duta Literasi periode Juli-Oktober 2020. Siswa kelas XI IPS Al Hafidz ini mampu menyelesaikan tujuh buah buku dalam satu periode dengan judul buku Dunia Sophie, Motion of Puppet, Rich dad poor dad, Filosofi teras, Meditation, Intellegent Investor, dan Semua bisa jadi pengusaha.
Ketika dihubungi via WhatsApp, siswa kelahiran Makassar, 1 Mei 2005 ini tidak menyangka akan menjadi Duta Literasi periode Juli-Oktober 2020 dan mengalahkan kedua seniornya. Adit, sapaan akrabnya, mengaku melahap buku-buku tersebut di tengah kesibukannya belajar dan di waktu senggangnya. Meski tetap bermain games dan aktif di media sosial, siswa yang bercita-cita menjadi diplomat ini tetap meluangkan waktu untuk membaca dan menargetkan bacaan yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Terkadang untuk menyelesaikan satu buku yang tebal, ia membutuhkan waktu paling lama sepekan, sementara untuk buku yang lebih tipis, biasanya dihabiskan 1 atau 2 hari saja. Durasi menuntaskan bukupun juga bergantung pada menarik dan tidaknya konten dalam buku tersebut. Ketika ditanya mengapa memilih buku-buku dengan tema “berat” seperti ekonomi dan filsafat, ia menyatakan bahwa bahasannya lebih menantang dan menjadi bekal untuk masa depannya.
Aditya Pratama juga menyatakan bahwa hobi membacanya ini tidak terlepas dari lingkungannya yang membentuknya untuk mencintai buku. Beberapa influencer di media sosial pun juga turut menjadi anutan Adit untuk getol menyelesaikan buku-buku yang menjadi target bacaannya. Membaca, menurut Aditya Pratama, merupakan kegiatan yang sangat worth it karena manfaatnya dapat langsung dirasakan serta membentuk pola pikir kita pada suatu bahasan. Diantara buku-buku yang dibacanya, Adit ternyata memiliki bacaan paling favorit yaitu buku yang berjudul “Meditation” dan “Rich Dad Poor Dad”. Wah, sukses ya Dit, dan semoga bisa menginpirasi anak-anak muda yang lain untuk senang membaca dan tidak hanya main games saja yah! (26/10/20-Eva Rukmana)

