MENGENAL BUDAYA KAJANG MELALUI KEGIATAN FIELDTRIP
Pada Oktober ini, SMA Islam Athirah 1 Makassar memiliki agenda khusus untuk kelas XI. Agenda tersebut berupa fieldtrip yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 – 29 di bulan yang sama. Kegiatan ini dilakukan dengan penuh semangat oleh peserta didik dan beberapa guru pendamping. Mereka melakukan fieldtrip di daerah Bulukumba, tepatnya daerah Kajang dan berbagai tempat wisata, seperti Pantai Bira dan tempat pembuatan perahu bersejarah Phinisi dari Bumi Panrita Lopi.
Kegiatan fieldtrip
ini merupakan kegiatan yang terintegrasi dari beberapa mata pelajaran sekolah,
di antaranya: Sejarah, PKN, Agama, Ekonomi, Biologi, dan Kimia, sehingga
seluruh siswa kelas XI diwajibkan aktif dalam kegiatan fieldtrip ini. Pukul 16.00 WITA, rombongan fieldtrip bertolak ke lokasi dengan mengendarai empat bus sekolah
dan tiba di penginapan pantai Bira sekitar pukul 23.00 Wita.
Rombongan fieldtrip
memulai kegiatan di pagi hari setelah salat subuh berjamaah. Mereka memulai
kegiatan pertama dengan berkunjung ke tempat pembuatan karet. Peserta fieldtrip dibekali angket yang wajib
diisi ketika berkunjung ke suatu lokasi wisata, dalam hal ini angket berkaitan
dengan penilaian mata pelajaran biologi dan kimia. Mereka menyaksikan dengan
antusias pembuatan karet, mulai dari pengambilan getah di pohon karet hingga
proses pengolahannya di dalam pabrik. Peserta fieldtrip mengaku senang karena untuk pertama kalinya mengamati
proses pembuatan karet yang selama ini hanya digunakan tanpa mengetahui asal-muasal
karet tersebut. Meskipun sedikit terganggu dengan bau limbah yang menyengat di
pabrik, tetapi para peserta fieldtrip merasa
puas.
Selepas kunjungan ke pabrik karet, rombongan fieldtrip menyempatkan salat zuhur
kemudian melanjutkan destinasi ke daerah Kajang. Kajang dianggap menjadi lokasi
yang efektif untuk melakukan penelitian tentang budaya dan sejarah yang ada di
sana. Mulai dari tata cara pemilihan Ammatoa dan pembahasan tentang syarat dan
tugas sebagai Ammatoa, sampai pada kehidupan ekonomi di desa Kajang.
Ammatoa adalah jabatan kepala suku dari desa Kajang
yang mengatur semua urusan desa Kajang dan yang menjadi Ammatoa, tidak boleh
keluar dari batas desa Kajang. Tetapi sebelum peserta didik masuk ke dalam desa
Kajang, mereka diberi arahan tentang peraturan yang harus mereka taati saat
berada di dalam batas desa. Di antaranya menjaga ucapan, tidak meludah di
sembarang tempat, harus menggunakan pakaian berwarna hitam, dan tidak
diperbolehkan menggunakan alas kaki saat memasuki desa, sehingga rombongan fieldtrip harus berjalan jauh menelusuri
jalanan bebatuan dengan bertelanjang kaki.
“Kami sangat kesusahan saat harus berjalan sejauh
dua kilometer di jalan bebatuan, sakit kaki dan capek pastinya”, keluh Nirwana
dan Namira, siswi kelas XI yang mengikuti fieldtrip.
“Di sana juga aneh, karena tidak ada masjid sehingga
sebelum masuk ke desa Kajang, kita harus menjamak salat ashar di waktu zuhur”,
tambah mereka.
Setelah puas menggali informasi tentang desa
Kajang dan angket mata pelajaran Sejarah, PKN, Ekonomi, dan Agama sudah terisi,
mereka kembali ke tempat penginapan di Bira dan istirahat tepat pukul 17.00
Wita. Barulah keesokan harinya mereka menikmati indahnya pantai Bira dan
kemudian menuju lokasi pembuatan kapal phinisi untuk mengisi angket mata pelajaran yang
bersangkutan. selanjutnya rombongan fieldtrip langsung bergegas pulang dan tiba
di sekolah sekitar pukul 16.00 wita (29/10/17). Peserta didik dan beberapa guru pendamping yang ikut dalam
kegiatan ini mengaku sangat menikmati kebersamaan dan pengalaman yang mereka
dapatkan di lokasi fieldtrip. Mereka
berharap dapat mengikuti fieldtrip-fieldtrip yang lain yang tempatnya lebih
baik lagi.(w.a)

