GURU JASAMU TIADA TARA
Terpujilah
wahai engkau ibu bapak guru
Namamu
akan selalu hidup dalam sanubari
Semua
baktimu akan kuukir didalam hatiku
S’bagai trima
kasihku ‘ntuk pengabdianmu
Namamu
akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua
baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai
terima ksihku untuk pengabdianmu
Engkau
laksana embun penyejuk dalam keahusan
Engkau
patriot pahlawan bangsa , tanpa tanda jasa
(Hymne
Guru)
Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap
keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu
perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.
Keyakinan ini muncul karena mansuia adalah makhluk lemah yang dalam
perkembangannya senantiasa membutuhkan
orang lain sejak lahir bahkan pada saat tutup usia. Semua ini
menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya.,
demikian pula halnya peserta didik, ketika
orang tau mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh
harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara oprtimal dari
bimbingan seorang guru.
Sejumlah pakar pendidikan telah memberikan lisensi bagi guru, bahwa tugas
seorang guru sungguh sangat mulia dalam dimensi masyarakat yang multicultural.
Bahkan dipercaya, peranan teknologi yang semakin canggih saat ini dengan
diciptakan robot, ternyata belum mampu menggantikan tugas-tugas guru sebagai
tenaga pengajar dan pendidik di depan kelas. Realitas-realitas ini membuktikan
kepada kita semua bahwa pekerjaan guru begitu hebat mulianya dan menjadi kiblat
bagi pencerdasan dari generasi ke generasi.
Pujian dan sanjungan yang diberikan kepada guru begitu banyak dan sarat
dengan makna. Lihatlah penggalan syair Hymne Guru berikut, “Engkau laksana
embun penyejuk dalam keahusan, Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda
jasa”. Umar Kayam dalam novelnya juga mengungkapkan hal yang sama dengan judul “Para Priyayi”. Kayam
menggolongkan seseorang guru yang berprofesi sebagai priyayi. Sedangkan Clif
Ford Geerfz (1981) juga menjelaskan bahwa “Priyayi adalah suatu status osial
yang memiliki tradisi yang agung. Keagungannya karena memiliki sikap menahan
diri, berbudaya, berpengetahuan dan
rohaniah yang tinggi”. Makanya tidak heran kalau masyarakat tempo doeloe kalau berprofesi sebagai
guru adalah pekerjaan yang sangat didambakan, apatahlagi dengan penyebutan
sebagai “tuan guru”.
Guru dengan “tuan gurunya” saat kini harus berdiri tegak sebagai sosok
yang diguguh dan ditiru. Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan
identifkasi bagi peserta didik dan
lingkungannya. Guru juga harus bertanggungjawab atas terhadap segala
tindakannya dalam pembelajaran di sekolah dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melihat kondisi-kondisi nyata tersebut yang berkenan dengan keberadaan guru yang tidak mengenal lelah, letih , lesu, tak bergairah, maka wajar kalau guru wajib diberi penghargaan sebagai sosok yang berjasa bagi kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa guru , maka apa kata dunia…bangsa ini mau jadi apa? Karena guru, hingga semua anak negeri mampu menikmati hari ini dan masa depan dengan baik. Pastinya guru adalah jembatan ilmu pengetahuan yang mampu mengantar manusia menuju kepada kehebatan dan citi-cita yang sukses. “Guruku jasamu tiada tara”.
Penulis: Tawakkal Kahar, S.Pd., M.Pd. (SMA Islam Athirah Kajaolaliddo)

