Ulasan Buku : Seni Bersikap Sederhana Untuk Mencapai Hidup Bahagia (Menggapai Hidup Bahagia Dengan Cara Sederhana)
Penulis
: Astri Kharisma Dewi, S.Psi., M.S
Pengulas
: Nur Asia Chalik, S.Ag.
Jika
sebagian orang ditanya apa arti kebahagiaan menurut mereka, maka tidak sedikit
yang menggambarkan bahwa kebahagiaan adalah sebuah keadaan duniawi yang
menyenangkan. Kebahagiaan yang seperti ini biasanya hanya dipandang dari sudut
materi saja. Bagi orang-orang yang melihat kebahagiaan lewat kacamata, maka akan
berpatokan pada hal-hal yang telah berhasil mereka raih. Sebagai contoh,
orang-orang akan merasa bahagia jika sudah mempunyai rumah yang mewah,
kendaraan pribadi, atau posisi pekerjaan yang nyaman, kemudian bisa mendatang
tempat yang mereka ingin kunjungi, bisa membeli apa saja yang mereka inginkan,
selalu makan makanan yang enak, mendapatkan fasilitas layanan terbaik dimana
saja berada, serta dikenal banyak orang.
Lalu,
apakah salah kebahagiaan macam ini? Tentu saja tidak., karena pada dasarnya
kebahagiaan itu sifatnya fleksibel tergantung pada siapa yang memandangnya.
Lalu bagaimana menggapai hidup bahagia dengan cara sederhana? Tirulah gaya
anak-anak yang dengan kepolosannya yang dapat menyikapi semuanya dengan tenang.
Mereka benar-benar tahu jika hidup ini tidak hanya untuk berpikir serius,
meskipun demikian bukan berarti kita diminta untuk bersikap seperti anak kecil,
akan tetapi belajarlah satu hal yang mungkin sekarang ini sudah hampir kita
tinggalkan, yaitu berpikirlah secara sederhana, maka maka dengan demikian kita
akan selalu menikmati apa yang ada di depan kita sekarang tanpa harus dibebani
rasa kecewa dari hari yang lalu atau rasa cemas untuk hari yang akan datang.
Berikut
Cara Menggapai Bahagia dengan Cara Sederhana
1.
Berpikir positif dan berbuat positif
Sebagai
manusia yang mempunyai logika atau pikiran, seharusnya kita dapat
mempertimbangkan dengan baik apa yang akan kita pikirkan. Kendati pikiran itu
adalah milik kita, belum tentu kita bisa mengontrolnya dengan baik. Karena pada
dasarnya pikiran kita pun dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain nafsu dan
perasaan kita. Sesungguhnya pikiran yang mengendalikan hawa nafsu dan perasaan
kita ataukah hawa nafsu dan perasaan yang mengendalikan pikiran kita.
Pertanyaan ini akan sulit dijawab ketika kita tidak melakukan refleksi kedalam
diri kita sendiri.
Orang
yang orientasinya hanya kebahagiaan lahir, cenderung akan dikuasai hawa nafsu
atau keinginannya. Keinginan tersebut akan menjadi baik ketika meningkatkan
motifasi atau menjadi sumber semangat bagi seseorang. Akan tetapi, keinginan
yang selalu saja berusaha kita penuhi tanpa adanya kontrol dari pikiran kita,
apakah keinginan tersebut baik atau tidak? Maka jatuhnya hal ini akan berakibat
pada lahirnya obsesi yang berlebihan.Oleh karenanya alangkah lebih baik jika
pikiran yang mengendalikan keinginan dan nafsu kita, karena jika pikiran kita
yang mengambil peran maka setidaknya kita bisa menentukan mana yang baik dan
buruk, mana yang realistis atau tidak sebelum keinginan mulai menggerogoti
tubuh kita.
2.
Kerja Keras dan Memberikan yang Terbaik.
Jika
kita ingin merasa bahagia, maka kerja keraslah memberikan yang terbaik. Mengapa
demikian? Karena kerja keras menunjukkan kesungguhan kita dalam menjalani hidup
ini. Ketika kita melakukan kerja keras untuk memberikan hasil yang terbaik,
maka dengan sendirinya kita membuktikan jika diri kita mempunyai peranan dalam
hidup ini. Dan, orang yang berperan dalam hidup tentu akan mempunyai rasa
bahagia tersendiri dalam dirinya, dibandingka dengan orang yang diam saja tidak
melakukan apa-apa. Selanjutnya, jika kita ingin bahagia, maka kerja keras kita
seharusnya berorientasi pada proses bukan hanya hasil.
Lebih
bijak jika kita menganggap hasil adalah sebuah bonus yang kita petik karena
usaha keras kita. Dengan demikian kita tidak akan terlalu memusingkan bagaimana
hasil dari kerja keras kita karena yang kita lakukan adalah usaha yang terbaik
penuh keikhlasan. Jika kita melakukannya atas dasar keikhlasan maka hasil
apapun akan selalu saja tampak cukup dimata kita. Akan tetapi, beda halnya
dengan mereka yang berorientasi pada hasil. Mereka yang mementingkan hasil akan
cenderung memilih mana yang lebih menguntungkan bagi mereka. Secara logika
memang tidak ada orang yang mau rugi. Akan tetapi yang menjadi permasalahn disini
adalah mereka memilih jalan yang tadinya tidak pernah terpikir. Ketika kita
berbicara masalah orientasi, maka kita akan sampai pada pemahaman bahwa
sebenarnya kita tidak dituntut untuk menjadi yang terbaik. Hanya cukup menjadi
lebih baik dari sebelumnya, sekalilagi proses bukan hasil.
3.
Jujur dalam hati dan tindakan
Orang
yang jujur akan lebih tenang dalam menjalani keseharian mereka. Mereka tidak
akan dihinggapi rasa cemas yang berlebihan. Sementara itu orang yang berbohong
tidak akan merasa tenang. Mereka akan selalu digelayuti perasaan cemas,
ibaratnya nasib mererka seperti diujung tanduk. Perilaku tidak jujur juga
berujung pada hilangnya kepercayaan orang lain kepada kita. Kepercayaan itu
mahal sekali harganya.
Apabila
kita dipercaya oleh seseorang maka itu tandanya oeang tersebut mengakui hal-hal
yang sifatnya positif dalam diri kita. Sebaliknya jika kita tidak dipercaya
oleh seseorang maka itu sama saja dengan kita tidak punya ‘harga’ di depan
mereka. Orang seperti ini juga mendapat sanksi sosial, seperti dikucilkan
dari pergaulan dan sebagainya. Dari pada kita mengisi hidup dengan
kebohongan, lebih baik kita mulai membiasakan diri dengan melakukan hal-hal
yang jujur. Baik yang jujur dalam hati, jujur dalam ucapan, maupun jujur dalam
tindakan.
4.
Introspeksi diri
Introspeksi
diri juga mendatangkan kebahagiaan. Hal ini dikarenakan orang yang sering
melakukan introspeksi diri selalu mengoreksi apa saja yang telah dilakukannya,
apa saja yang telah dicapainya. Dengan demikian, maka orang tersebut akan mengetahui
kelemahan dan kelebihan diri mereka masing-masing. Orang yang senantiasa
memperbaiki diri adalah orang yang ingin kehidupannya selalu berkualitas.
Mereka akan selalu membenahi diri demi kehidupan yang lebih baik. Namun, disini
tidak hanya kehidupan pribadi seperti pekerjaan yang mereka perbaiki, tetapi
juga hubungan mereka dengan orang lain akan diperbaiki.
Dengan
demikian mereka akan merasa bahagia. Karena bahagia bukan hanya bagaimana
kita berhasil tetapi juga bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain. Bahagia
yang sesungguhnya adalah bagaimana kita menikmati apa yang kita punya dan
berusaha sebaik mungkin menjaga kerukunan hidup antar sesama. Orang yang
membiasakan dirinya untuk introspeksi diri tidak akan tertawa diatas
penderitaan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan mereka lebih peka. Sehingga
sebisa mungkin mereka akan menyadari kesalahan mereka.
5.
Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis
Jika
seseorang disuruh memilih lebih baik mana, mereka kaya raya tapi tidak bisa
menikmatinya karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan atau hidup
sederhana tetapi memiliki kesehatan yang baik? Jika kita memilih kaya raya
tetapi tidak sehat maka sepertinya kita terlalu sempit memandang hidup ini..
Masih banyak hal yang didunia ini yang bisa kita lakukan tanpa harus menjadi
kaya. Oleh karenanya, jika kita ingin berbahagia dan menikmati hidup ini
maka jagalah kesehatan kita mulai dari sekarang.
Pada
era yang sedemikian kompleks ini, banyak orang yang justru mengabaikan
kesehatan mereka dengan sibuk bekerja mengejar pundi-pundi atau sekedar
menunjukkan eksistensi, mereka rela diperbudak pekerjaan sehingga mereka
menomorduakan kesehatan. Tanamkan pada diri kita bahwa kita yang mengendalikan
pekerjaan bukan pekerjaan yang mengendalikan kita, maka soslusinya adalah time
management yang bagus. Kita akan punya waktu kapan kita harus
beristirahat dan kapan kita harus bberaktivitas. Dengan demikian kehidupan kita
akan seimbang.
6.
Menetapkan Standar yang Sesuai Untuk Diri Sendiri
Sebagai
manusia kita memang wajib mempunyai mimpi, karena mimpi-mimpi inilah yang akan
membuat hidup kita semakin berwarna. Dan akan membuat kita termotivasi dan
semangat untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Namun, dalam menetapkan
mimpikita harus logis, alangkah lebih bijaknya jika mimpi itu kita sesuaikan
dengan kapasitas kemampuan kita. Menetapkan standar yang berlebihan atau tidak
sesuai dengan keadaan kita akan membuat kita sulit untuk merealisasikannya.
Atau secara tidak langsung kita menyiksa diri kita sendiri dengan standar yang
tidak masuk akal tersebut. Oleh karenanya jika kita ingin bahagia maka mulai
sekarang tetapkanlah standar yang sesuai dengan kapasitas yang kita
miliki. Ingat, bahagia bukan hanya tentang apa yang raih akan tetapi, bahagia
adalah bagaimana proses kita menggapai ini semua dan mensyukuri atas apa yang
ada sekarang ini.
7.
Meluangkan Waktu Untuk Orang-Orang Terdekat.
Kesibukan
memang terkadang menyita seluruh waktu kita. Oleh karena itu, kita sering larut
bahkan asyik dengan dunia kita sendiri. Maka, orang-orang disekeliling kitalah
yang merasakan dampak dari kesibukan kita. Mereka berpikir bahwa kita tidak
punya waktu untuk sekedar mengobrol dan berkumpul dengan mereka. Lalu, mereka
pun menilai diri kita sombong. Untuk menghindari hal tersebut, maka tidak
ada salahnya jika kita sesekali waktu menyempatkan diri untuk menghabiskan
waktu bersama mereka.
Dengan
demikian, kita pun akan merasa lebih seimbang antara kehidupan pribadi kita
dengan kehidupan sosial yang menyangkut interaksi kita dengan orang-orang
terdekat. Keseimbangan inilah yang pada akhirnya nanti akan memunculkan
perasaan bahagia.
8.
Melihat Sekeliling Dengan Bijak.
Menjadi
orang yang bahagia berarti mempunyai kemampuan untuk melihat sekeliling dengan
bijak, berarti kita harus mengamati lingkungan tempat kita tinggal. Dengan
demikian lingkungan sekeliling, kita dapat menjadi orang yang bijaksana. Yang
harus kita lakukan adalah, memposisikan diri kita berada dititik tengah, dimana
akan membuat kita mudah mengamati apa saja yang berada diatas kita, dan apa
saja yang berada dibawah kita. Selain itu kita akan mendapat sebuah pelajaran
yang berharga, yaitu kita menjaga diri agar tidak berada dibawah atau bisa juga
mepersiapkan diri sebelum berada di titik atas.
Jadi
dapat kita simpulkan sebenarnya siapa saja dapat berada dititiktengah ini.
Tergantung bagaimana mereka melihat kondisinya dan membandingkan
kondisinya dengan keadaan sekelilingnya. Ketika mereka sudah berada dititik
tengah, pandangan mereka terhadap sekelilingnya akan membawa dampak terhadap
kehidupan mereka selanjutnya.
9.
Selalu Bersyukur dan Menghindari Obsesi Dunia
Jika
ingin bahagia maka hindarilah obsesi dunia yang berlebihan, karena obsesi
inilah yang akan menjerumuskan kita kedalam perasaan selalu kekurangan. Hal
inilah pada akhirnya yang membuat yang bersangkutan merasa tidak bahagia.
Karena mereka akan memaksakan diri untuk menggapai obsesinya. Mereka tidak
dapat menikmati hidup dengan santai. Obsesi yang wajar akan membuat sesorang
bisa termotivasi dlam hidupnya.
10. Mengurangi Stres
Ada
banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghindari stres, mulai dari cara
sederhana sampai dengan terapi medis yang biayanya cukup mahal. Jika belum
terlambat terkena stres berat, ada baiknya mempelajari cara mudah dan praktis
menghindari stres berikut ini:
-
Hindari khawatir berlebihan
-
Hidup santai apa adanya dan hindari berpikir yang tidak-tidak
-
Jangan serakah, iri hati, dan dengki akan milik orang lain
-
Cepat “Move on”, berpikir selalu kedepan, bukan kemasa lalu
Lalu
bagaimana jika stres sudah menyerang? Kita harus memiliki cara kreatif untuk
terus maju dan pintar mengelola diri agar stres tidak berkepanjangan. Namun,
apabila gejala-gejala stres sudah menyerang, hendaknya kita segera mengambil
langkah peraktis berikut untuk meredakannya.
-
Jaga pola makan dengan menu yang sehat
-
Rutin berolahraga
-
Meditasi
- Istirahat
teratur
-
Salurkan hobi

