image

Evaluasi Pembelajaran Hybrid Learning SMA Islam Athirah Bukit Baruga melalui Supervisi

SMA Islam Athirah Bukit Baruga melakukan pembelajaran dengan metode Hybrid Learning selama masa Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas. Metode Hybrid yaitu penggabungan antara pembelajaran daring dari rumah dan pembelajaran luring dari sekolah.

 Pembelajaran Hybrid adalah upaya agar pertemuan tatap muka terbatas dapat dilakukan secara rotasi atau sebagian peserta didik saja yang dihadirkan ke sekolah setiap pekannya. Sehingga untuk pekan berikutnya, peserta didik yang belajar daring juga mendapatkan kesempatan belar secara luring.               

Sehubungan dengan inovasi pengajaran tersebut, tentunya akan ada banyak hal yang harus dievaluasi. Sehingga dibutuhkan waktu untuk melakukan supervisi, agar ada perbaikan secara terus menerus dalam pembelajaran. Supervisi tersebut telah digelar pada bulan September lalu. Namun proses evaluasi tetap terus berjalan. Baik itu pengamatan secara daring, maupun secara luring.

Dr. Bakry S.Pd., M.Si selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum menjelaskan terkait pentingnya diadakan supervisi dalam proses pembelajaran di SMA Islam Athirah Bukit Baruga. Selain dari metode Hybrid, juga diperhatikan proses AIHES (Athirah Intergrated Holistic Education System).

“Kegiatan supervisi ini adalah bagian dari pada upaya unit sekolah untuk menilai proses PBM apakah telah sesuai dengan standar kurikulum yang telah ditetapkan. Mengingat SIA menjadikan AIHES sebagai kurikulum khas sehingga komponen supervisi tahun ini berfokus pada proses AIHES terkhsus pada kegiatan inti. Harapannya, semoga supervisi berjalan dengan lancar, semua proses PBM yang dilakukan guru selama supervisi bisa menggambarkan proses PBM yang selama ini berlangsung,”ungkapnya.

Guru Sejarah, sekaligus salah satu Supervisor di SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Masruroh. S.Pd., Gr. memaparkan bahwa supervisi adalah sarana untuk saling belajar dan menemukan solusi pembelajaran agar semakin berkualitas.

“Supervisi memang harus ada, sebagai sarana saling belajar, saling mengingatkan, saling refleksi, saling memperkuat dan memecahkan serta menemukan solusi jika ada permasalahan. Hal tersebut agar proses pembelajaran sesuai rambu-rambu perencanaan dan  semakin berkualitas. Semua tentu tahu ketika akan disupervisi pasti akan bersiap maksimal. Apalagi jika supervisi adalah bagian dari penilaian kinerja,”ungkapnya.

“Namun harapannya, saat tidak disupervisi pun tetap harus menyiapkan pembelajaran secara maksimal. Sehingga menjadi habit bagi semua guru. Ada dan tidak ada supervisi tetap memberikan layanan terbaik. kita akan refleksi dari setiap proses pembelajaran yang dilakukan. Jika pada pembelajaran sebelumnya ada banyak catatan, tentu di pembelajaran selanjutnya akan ada perbaikan,”tambahnya.

Laporan : Musyorafah

Previous PostUji Publik Calon Ketua dan Wakil Ketua Osis SMA Islam Athirah Bukit Baruga periode 2021-2022
Next PostSebelum Mencoblos, Simak Dulu Visi Misi Calon Ketua dan Wakil Ketua Osis SMA Islam Athirah Bukit Baruga