image

KEMULIAAN BULAN DZULHIJJAH

Penulis : Ustadz. Haeruddin. S.H.I


Mungkin banyak diantara kita yang tidak menyadari jika sekarang kita sedang berada dipenghujung tahun dalam penanggalan hijriyah (Qamariyah). Jangankan itu, menyebutkan bulan-bulan hijriyah saja masih banyak yang tidak bisa, apatahlagi menghafal secara berurutan. Ketidaksadaran ataupun ketidaktahuan itu memang terasa wajar sekaligus menggelikan sebenarnya. Mengapa? karena selama ini memang segala aktivitas keseharian kita lebih banyak berpatokan pada sistem penanggalan miladiyah atau masehiyah.

Mulai dari penetapan hari libur hingga tanggal penerimaan gaji. Akibatnya itu yg lebih berkesan, mudah diingat dan itu berpengaruh terhadap penetapan rencana dan aktivitas kita di masa mendatang. Maka, sekali lagi, jangan heran bila lebih banyak diantara kita yg fasih menghafal urutan bulan-bulan Masehi (januari hingga desember) ketimbang nama-nama bulan Hijriyah (dari Muharram ke Dzulhijjah).

Kenyataan itu juga menggelikan, karena bulan-bulan hijriyah yang secara historis amat dekat dan identik dengan umat Islam dibanding bulan-bulan masehi. Sejatiny, dalam tataran implementasi keseharian juga harus dekat. Di samping teks-teks dalam kitab suci Al-quran menggunakan nama-nama bulan hijriyah, juga terkait erat dengan pensyariatan ibadah. Sebut saja tentang penentuan 1 ramadhan, 1 syawal dan 10 dzulhijjah.

Tulisan ini tidak bermaksud memperhadap-hadapkan opini antara bulan-bulan atau tahun Islam dengan bulan-bulan dan tahun non islam. Sekedar informasi bahwa sampai detik ini masih ada sekelompok orang yang berpandangan bahwa bulan Muharram hingga zulhijjah adalah bulan Islam, sementara bulan januari sampai desember adalah bulan-bulan non islam, atau bahkan ada yg dengan tegas menyebutnya bulan ciptaan orang-orang kafir. Sebut saja diantaranya seperti bulan juni, juli, agustus, dsb, karena itu diambil dari nama-nama raja-raja bangsa romawi dan kristen. Sebabnya kelompok ini enggan merayakan bahkan mengganggap haram merayakan 1 januari sebagai tahun baru. Sementara 1 muharram dianggapnya sebagai tahun baru islam yang boleh dirayakan.

Sekali lagi, coretan ini tidak untuk itu. Sebab kedua sistem penanggalan tersebut sejatinya diakui keberadaannya oleh alquran terlepas atas penamaan bulan-bulan masehi itu yg dianggap tidak Islami.Hanya saja melalui tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa Umat Islam sangat perlu, bahkan mungkin amat perlu mengetahui sistem penanggalan Qamariyah ini. Alasannya, selain yang sudah disebutkan sebelumnya terkait erat dengan pelaksanaan ibadah. Juga karena nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah ini dalam pandangan Islam memiliki keutamaan-keutamaan khusus. Semoga dengan penanggalan bulan-bulan hijriyah kita bisa menghafalnya serta memaknai setiap bulan tersebut karenaa didalamnya ada keutamaan-keutamaan yang besar disisi Allah swt.

Sebut saja bulan ini, bulan Dzulhijjah. Dalam Al-quran Allah menetapkan empat bulan dari 12 bulan sebagai bulan-bulan haram (QS. Attaubah : 36). Diantara bulan-bulan itu adalah Rajab,Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram (alhadis). Menurut petunjuk Al-quran pada bulan-bulan haram itu, umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri (Walaa tadzlimu fiihina Ampusakum).

Ulama dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa pada bulan itu umat manusia dilarang melakukan pembunuhan, perbuatan keji, mungkar dan kemaksiatan. Pandangan ini bukan berarti bahwa dibulan-bulan non haram boleh saja melakukan perbuatan2 tidak baik tersebut. Tapi itu bermakna, sebagaimana pandangan Ibnu Abbas bahwa melakukan perbuatan maksiat di dalam bulan haram ini dosanya akan berkali lipat ketimbang melakukan kemaksiatan pada bulan-bulan non-haram.

Disamping itu, bulan dzulhijjah adalah salah satu bulan yang amat dimuliakan Allah Swt selain ramadhan. Bahkan, menurut sejarah bulan dzulhijjah ini pernah memiliki posisi kemuliaan melebihi kemuliaan bulan ramadhan, yaitu ketika Al-quran belum diturunkan. Kemuliaan dzulhijjah ini tetap ada hingga sekarang meski posisinya kini terkalahkan oleh ramadhan.

Tentu kemuliaan itu dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya: Di dalam bulan ini disyariatkan hari raya idul adha, disyariarkan ibadah qurban dan ibadah haji. Yang mana ibadah2 tersebut hanya dapat dilaksanakan di dalamnya saja. Di samping itu, kemulian bulan ini juga banyak digambarkan ayat dan hadis Nabi saw seperti kemulian 10 awal dzulhijjah. (QS. Alfajar: 1-2) dan pada tanggal 8 dan 9 disunnahkan puasa tarwiyah dan puasa arafah. Yaitu puasa yang ganjarannya dapat menghapuskan dosa satahun yg lalu dan dosa setahun yg akan datang (alhadis).

Yang unik dari sistem penanggalan bulan hijriyah ini adalah sejalan dengan urutan rukun Islam. Rukun Islam yaitu Syahadatain, shalat, Zakat, puasa dan haji. Bulan qamariyah dimulai dari Muharram, Syafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Zulqaidah dan Zulhijjah.

Syahadat adalah pondasi ibadah. Nabi melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah guna untuk menata dan membangun pondasi keberagamaan itu dilakukan pada bulan Muharram. Setelah pondasi bagus, nabi Kemudian di isra’ mi'rajkan untuk menerima tiang agama (shalat) yaitu pada bulan Rajab. Kemudian seterusnya umat Islam diperintahkan mengeluarkan zakat dan puasa pada bulan Ramadhan dan di tangga terakhir umat Islam diperintahkan haji, itu pada bulan zulhijjah.

Tentu, fakta2 ini bukanlah kebetulan semata melainkan dapat menjadi isyarat yg bisa dijadikan bahan perenungan.

 

 

Editor : Ners Irwan Duhung. (Team web Asrama Athirah Baruga)

 

Previous PostMenuju PTM, SD Islam Athirah 1 Makassar Undang Orang Tua Siswa Ikuti Sosialisasi
Next PostHari Pertama UTS Ganjil, Kepsek SMP Islam Athirah Tekankan Kejujuran dalam Ujian