image

SEMARAK MERAH PUTIH TK ISLAM ATHIRAH

Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya 74 tahun silam, yakni 17 Agustus 1945. Kemerdekaan diperoleh setelah melalui perjuangan panjang oleh para pahlawan kita.

Sejarah kemerdekaan tersebut hendaklah diperkenalkan kepada anak-anak, sehingga timbul rasa cintanya kepada tanah air Indonesia  sejak dini. Cara untuk membelajarkan sejarah kepada anak TK, tentunya memerlukan metode pembelajaran yang berbeda dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bulan Agustus merupakan moment yang tepat untuk membelajarkan anak tentang sejarah kemerdekaan tersebut.

Pada bulan Agustus kita dapat menyaksikan di lingkungan sekitar kita diwarnai dengan pernak-pernik kemerdekaan, hal ini sangat tepat untuk kita bahas di dalam kelas. Selain itu kita juga dapat merancang suatu acara yang fun dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Untuk tahun ini TK islam Athirah mengangkat tema “Semarak Merah Putih”. 

Selama 2 hari anak-anak dan guru menggunakan kostum nuansa merah putih. Pembelajaran pun berbeda dengan hari-hari biasanya, seperti mengenalkan lagu-lagu kebangsaan, mengenalkan bendera merah putih, mengenalkan pahlawan, dan lain-lain. Membelajarkan anak tentang arti dari perjuangan adalah melalui kegiatan lomba. Dari kegiatan lomba tersebut, kita dapat menggugah perasaan anak bahwa seperti itulah para pahlwan kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan yang dirasakan saat lomba tidak seberapa dibanding dengan perjuangan mereka dahulu. Di sini saya akan mengulas sedikit tentang keseruan dan kelucuan lomba yang kami laksanakan.

A. Lomba Memakai Sepatu

Lomba memakai sepatu diikuti oleh anak Kelompok Bermain. Lomba memakai sepatu bertujuan untuk mengajarkan kemandirian anak. Sepatu anak dikumpul menjadi satu, kemudian mereka berlari untuk mencari sepatunya, lalu memakai sendiri pada tempat yang disediakan. Yang menarik adalah sebagian besar anak sudah bisa memakai sepatunya sendiri, namun pada posisi terbalik, sepatu kanan pada  kaki kiri dan begitupula sebaliknya. Kami para guru menghargai perjuangan mereka, meskipun posisi sepatunya terbalik. Kami juga tetap mengkoreksi dengan bahasa yang tidak mematikan semangat anak namun memberikan pemahaman bagaimana posisi sepatu yang seharusnya.

B. Lomba balap sarung

Mungkin kita sering menjumpai lomba balap karung pada acara 17 agustus, nah yang kami lakukan adalah lomba balap sarung. Kenapa sarung bukan karung, pertama karena jaman dahulu para nenek moyang kita menggunakan sarung dalam kehidupannya sehari-hari, yang kedua sarung lebih aman dari pada karung. Lomba balap sarung pesertanya adalah anak didik Kelompok A. Perlombaan ini dilakukan dalam bentuk TIM, 1 TIM terdiri dari 5 orang.  Lomba ini pun menghadirkan kisah yang lucu, salah satunya adalah ada anak yang menunggu lawannya memakai sarung, seharusnya begitu selesai memakai sarung langsung lari, namun si anak tersebut menunggu sampai lawannya memakai sarung. Ada juga anak yang membantu lawannya memakaikan sarung. Lomba balap sarung ini bertujuan untuk melatih motorik kasar dan mengembangkan perilaku kerja sama.

C. Lomba jepit balon

Lomba jepit balon diperuntukkan untuk perempuan kelompok B. Lomba ini bertujuan untuk melatih kesabaran. Ketika anak kurang sabar untuk mencapai garis finish, yakin dan percaya balon akan jatuh ditengah jalan. Hal yang sempat mengocok perut pada lomba ini adalah ketika salah seorang anak dicurigai balonnya nyangkut di rok dan salah satu guru memeriksa keadaan balon di balik rok anak tersebut, ternyata balonnya memang terjepit dengan baik sehingga tidak jatuh.

D. Pertandingan Futsal

Pertandingan futsal merupakan pertandingan yang sangat menarik perhatian. Futsal dikhususkan bagi anak laki-laki kelompok B. Di sini anak benar-benar menikmati kemerdekaannya, mereka bermain tanpa ada tekanan dari siapa pun, anak bermain dengan sesuka hatinya, memburu bola sampai keluar lapangan, tidak peduli mana kawan mana lawan yang penting bisa menendang bola, wasit membunyikan sempritan pun tidak dihiraukan. Penonton sempat dibuat terbahak-bahak lantaran mereka bermain di luar lapangan, yang tinggal di lapangan hanya penjaga gawang, wasit pun ikut keluar lapangan karena tidak sanggup untuk menghalau mereka untuk kembali. Satu hal yang juga sempat megocok perut penonton adalah ketika salah seorang anak memasukkan bola ke gawangnya sendiri, si anak tersebut melompat kegirangan tanpa merasa bersalah.

Beberapa hal yang dapat dijadikan pelajaran dari perlombaan anak TK, yaitu menikmati perlombaan tanpa tekanan untuk meraih juara, saling menghargai sesama, tetap mengutamakan kerjasama, tolong menolong dalam segala hal. 


Previous PostLahirkan Bibit Pemimpin, SMA Islam Athirah 1 Makassar Gelar “Character Building”
Next PostInternalisasi Nasionalisme, Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar Diberi Pengenalan Wawasan Kebangsaan