image

Pentingnya Edukasi Terkait Emosi di Masa Pandemi

Oleh : Titi Mirawati Asim, M.Pd (Guru BK SMP Islam Athirah 1 Makassar)

Mengajar salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang guru. Mengajar apapun yang penting bermanfaat. Selama masa pandemi, kelas BK pun tetap aktif dengan menggunakan google classroom dan google meet. Pandemi bukan alasan untuk seorang guru mati akal dalam mendampingi peserta didiknya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada Bimbingan Konseling (BK) dapat dilakukan dengan membuat materi edukasi dan motivasi melalui poster, booklet, pamflet serta tulisan-tulisan lainnya.

Pada pertemuan dengan peserta didik di kelas 9, kelas dimulai dengan membaca doa surah alfatihah, attending dan membangun raport dengan menanyakan kabar, meluruskan niat, memperbaiki posisi duduk (tidak tengkurap), selalu mengajak untuk mensyukuri nikmat Allah SWT, karena masih diberikan kesehatan dan umur yang panjang sehingga masih dapat bertemu di kelas secara virtual. Pada saat pembelajaran daring,  tujuan dari pembelajaran dan materi yang akan dibahas harus dibahas secara lugas. 

Selain itu, selalu mengingatkan agar tetap di rumah saja . Hal ini untuk menjaga diri dan keluarga dari bahaya covid 19. Jika keadaan mengharuskan keluar rumah, peserta didik  harus mengikuti protokoler kesehatan yaitu memakai masker, social dan fisical distancing. Mengapa setiap pertemuan harus diingatkan? . Hal ini agar Supaya peserta didik kami tahu bahwa hal tersebut penting dan harus dipatuhi.

Materi dimulai dengan pemutaran sebuah video tentang kisah inspiratif, yang berkisah tentang seorang ayah dan anak laki-lakinya yang pemarah. Anak-anak menonton, lalu menceritakan apa saja hal yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Satu persatu komentar dilontarkan dari peserta didik. Ada yang berkomentar tidak boleh menyakiti hati orang lain, harus menjaga perkataan agar orang lain tidak sakit hati, tidak boleh marah, menjaga diri dari sifat marah, ucapan jika telah diucapkan bukan milik kita lagi tetapi milik orang lain.

Mendengar komentar tersebut,  saya mengambil kesimpulan bahwa peserta didik dapat berkomentar seperti itu, dikarenakan telah menonton video tersebut. Kekhawatiran terbesar setiap mengajar peserta didik akan bersikap acuh dan tidak serius .Hal yang patut disyukuri yaitu peserta didik aktif, meskipun tidak sesempurna jika berada pada ruang kelas di sekolah. Saya memberikan penjelasan singkat tentang video tersebut. Video tersebut berkaitan dengan materi yang akan saya bawakan yaitu mengolah emosi.

Terkadang kita selalu mendengar kalimat “ Tolong jangan mendekat saya sedang emosi” atau “kalian itu membuat emosi saja”. Ketika mendengar kalimat atau perkataan tersebut sebenarnya orang tersebut sedang emosi atau marah? Apakah emosi dan marah itu sama?. .Emosi berasal dari kata emotion dalam bahasa Prancis atau dalam bahasa Latin emovere yang artinya keluar. Secara etimologisnya emosi diartikan “bergerak keluar”. Emosi merupakan suatu konsep yang luas dan tidak dapat dijabarkan secara spesifik.  

Emosi merupakan suatu reaksi dapat positif maupun negatif sebagai dampak dari rangsangan dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Menurut Daniel Goleman, Emosi ialah setiap kegiatan atau pergolakan perasaan, pikiran, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Daniel juga mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dari serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan perasaan yang terpengaruh karena adanya respons baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Emosi dapat berupa marah, sedih, iri, cinta, lapar/haus, dan lain sebagainya. Oleh karena itu marah adalah bagian dari emosi. Mendengar materi tersebut, sebagian peserta didik baru memahami bahwa emosi itu bukan semata-mata ketika kita berada pada kondisi marah, akan tetapi jatuh cinta pun itu bagian dari emosi kita.

Ada dua macam emosi yang saya bahas dengan durasi yang cukup lama dalam menjelaskannya yaitu emosi marah dan cinta. Usia remaja (siswa SMP) 2 emosi tersebut sangat mendominasi perkembangannya. Pada usia tersebut anak remaja akan lebih cepat marah dan sudah mulai mengenal lawan jenisnya. Penyebab dari remaja yang mudah marah karena sistem limbik bakal lebih bergesekan dengan hormon testosterone (secara teori). Hal ini dapat memicu fungsi otak menjadi lebih labil dan “naik–turun”. Begitu pun dengan emosi cinta secara umum akan mulai tumbuh pada usia remaja.

Cinta itu anugrah dan merupakan hal yang normal. Setiap manusia normal pasti pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Cinta remaja biasa diidentikkan dengan cinta monyet karena beberapa orang percaya istilah ini berasal dari kebiasaan monyet yang bergelantungan di pohon, yang berarti “bermain-main”. Maksudnya, cinta pertama adalah perasaan yang main-main saja—tidak dalam dan tidak bermakna penting.

Jatuh cinta dan mengenal cinta itu suatu yang fitrah. Jatuh cinta tidak harus diikuti dengan label “pacaran”, karena dengan label tersebut maka pintu godaan setan pun terbuka dan Islam pun tidak membenarkan pacaran sebelum halal. Peran orang dewasa, orang tua serta guru sangat penting dalam mengingatkan selalu agar remaja dapat bergaul sesuai dengan ajaran agama Islam.

Diingatkan pula kepada peserta didik bahwa jangan pernah menganggap orang tua atau guru selalu ingin mengetahui terhadap pergaulan dan kehidupan peserta didik. Rasa ingin tahu orang tua terhadap pergaulan anaknya  adalah bukti cintanya. Usia peserta didik adalah tawanan yang harus dijaga, dibimbing, diarahkan dan dirangkul agar tetap berada pada jalur yang baik. Oleh karena itu, nasehat orang-orang dewasa harus selalu diingat jika ingin melakukan sesuatu.

Setelah menjelaskan pengertian emosi dan jenisnya, anak-anakpun dikenalkan cara menyalurkan emosi dengan baik. Banyak cara remaja menyalurkan emosinya seperti berolahraga, bercerita kepada orang yang dapat menjaga rahasia jika hal itu pribadi, melakukan hobi (menulis buku harian),  melakukan aktivitas positif yang dapat menghibur dirinya atau membuatnya menjadi lebih senang.

Hal itu yang dipaparkan pada kelas Bimbingan Konseling selama satu jam. Durasi satu jam waktu tidak mencukupi untuk sesi tanya jawab. Pada akhir pertemuan peserta didik diminta untuk mengisi refleksi diri tentang perilaku emosi yang sering muncul. Refleksi tersebut dikerjakan di google classroom. Setelah penjelasan refleksi diri tersebut, guru BK kembali menutup pertemuan dengan mengajak seluruh siswa  untuk membaca surah Al-Ashar dan ditutup dengan doa Kafaratul Majelis.

 

Previous PostGelar Kelas Inspirasi Secara Virtual, SD Islam Athirah 2 Makassar Hadirkan Pendongeng Handal
Next PostTanamkan Jiwa Nasionalisme, SMP Islam Athirah Baruga Gelar Upacara Virtual