image

Matangkan Naskah, Gerakan Menulis Athirah (GEMA) Gelar Program Karantina

Gerakan Menulis Athirah (GEMA) sukses menggelar program Karantina Menulis selama dua hari, Sabtu (22/1/2022) dan Sabtu (29/1/2022). Kegiatan yang bertempat di ruang kelas SMP Islam Athirah 1 Makassar tersebut dimulai pukul 08.00-16.00 WITA.

Maksud diadakannya karantina tersebut untuk memediasi antara mentor dan peserta GEMA, di mana para peserta dapat berkonsultasi langsung dengan mentor sehingga diharapkan adanya progres naskah dari setiap peserta.

Dalam laporannya, Muthmainnah, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Panitia GEMA melaporkan bahwa awalnya 26 orang yang terdaftar sebagai peserta GEMA, namun tersisa 23 peserta. Adapun yang diundang mengikuti karantina ini sebanyak 21 orang.

Harapannya kepada para peserta pelatihan agar komitmennya ditambah dan diperkuat karena target pertengahan Februari naskah setiap peserta sudah beres dan awal Maret dicetak. Launching buku diagendakan pada 24 April 2022 mendatang saat milad ke-38 Athirah di Bone, imbuh Muthmainnah yang juga Kepala Departemen Humas Sekolah Islam Athirah.

Turut hadir Kepala Departemen Kurikulum Sekolah Islam Athirah, Saharuddin, S.Pd., memberikan motivasi kepada peserta karantina GEMA untuk berlomba-lomba meneruskan kejayaan sastra Bugis Makassar di masa lalu. Ada I La Galigo yang mengalahkan Mahabharata. Menutup motivasinya, ia mempersembahkan tiga puisi pendek berjudul Desember, Ingatan, dan Cepat Tepat.

Sementara itu, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK) selaku mentor utama dari pelatihan GEMA menjelaskan bahwa ada tiga kekuatan besar untuk menjadi seorang penulis, yaitu tekad, komitmen, dan integriti.

Tekad yang mendorong peserta untuk bisa hadir mengikuti pelatihan ini. Komitmen dibangun sejak pertama kali dibuat Nota Kesepahaman (MoU) untuk hadir setiap hari Sabtu. Dan integriti diikat dengan sebuah integritas, jelas BAK.

Menurut BAK, guru-guru yang paling enak didorong jadi penulis karena rajin membaca. Menulis itu kumpulan kata-kata yang diperoleh dengan membaca. Ia sendiri mengisahkan di lingkungan keluarganya ada budaya membaca 25 menit setiap hari.

Selanjutnya para peserta dibagi menjadi dua kelompok, fiksi dan non fiksi, untuk langsung ke kelompoknya masing-masing bersama dengan mentornya. Kelompok fiksi dimentori oleh sastrawan dan budayawan Yudhistira Sukatanya dan kelompok non fiksi dimentori oleh penulis buku Adi Wijaya.


Citizen Reporter: Muhammad Ryan Israfan

Previous PostSiswa SMA Islam Athirah Bukit Baruga Ikuti Sosialisasi Sekolah Siaga Bencana
Next PostGelar Talkshow Strategi Masuk PTN, SMA Islam Athirah Bukit Baruga Undang Pimpinan Fakultas