Fenomena Learn From Home : Guru, Siswa dan Orangtua Siswa
Sebuah headline yang dimuat di salah satu surat kabar terkemuka di kota Makassar saat memasuki minggu ke-2 Work From Home (WFH) dan Learn From Home (LFH) krn pandemi covid-19, membuat saya tertarik yakni " Tugas Guru Bikin Stres Orangtua dan Anak". Di dalamnya membahas tentang bagaimana tugas-tugas yang diberikan guru membuat anak dan orang tua menjadi stress di rumah. Sejak merebaknya virus Covid-19 dan kita harus berada dirumah membuat instansi pendidikan harus "dilburkan" untuk sementara waktu dan pembelajaran pun harus dilakukan di rumah atau istilahnya disebut dengan LFH (Learn From Home).
Kondisi yang dikeluhkan orangtua atau pun siswa sangat mungkin akan terjadi jika sekolah tidak melakukan inovasi untuk menggunakan tekhnik khusus agar pembelajaran di rumah tetap berjalan dengan menyenangkan, tidak kaku tetapi tetap bertujuan dan kurang lebih bisa seperti saat belajar di sekolah.
Sekolah harus mempunyai panduan khusus berkenaan dengan jadwal, jenis kegiatan serta tujuan PBM selama LFH.
Tanpa keberadaan guru dalam pendampingan secara langsung kepada siswa membuat sekolah harus bijak dalam menyusun jadwal misalnya dalam sehari maksimal dua mata pelajaran agar siswa ada waktu untuk menyelesaikan tugas dan melakukan aktifitas-aktifitas lain. Guru juga tidak boleh "ngotot" pada penuntasan SK/KD atau materi ajarnya. Pembelajaran bisa dibuat lebih fleksibel tetapi tetap orientasi pada pencapaian tujuan PBM dan yang paling penting juga adalah jangan memberi tugas yang saat pengerjaan dapat membuat siswa harus keluar dari rumah.
Panduan (SOP) ini bisa berisi timeline kegiatan mulai dari bangun pagi sampai selesai LFH yang baiknya dengan waktu lebih singkat misalnya sampai tengah hari saja.
Pelaksanaan jadwal/timeline/roster ini harus tetap dimonitor oleh guru kelas/ wali kelas/ guru mata pelajaran. Meski jika dibayangkan akan bagaimana beratnya pekerjaan guru-guru tersebut harus tetap standbye dan disisi lain juga harus mengurusi keluarganya dirumah apalagi jika mereka juga memiliki anak-anak yang juga butuh pendampingan ortu selama LFH.
Maka sepatutnya orangtua tidak boleh mengeluh hanya karena masalah ini. Apalagi jika panduan yang diberikan oleh sekolah tidak memberikan tuntutan yang sama saat pembelajaran normal di sekolah. Justru saat-saat seperti inilah dapat dijadikan moment oleh orangtua untuk berinteraksi lebih banyak dengan anaknya sehingga dapat mengetahui dengan detail bagaimana anak-anak mereka belajar. Orangtua juga bisa mengawasi dengan lebih baik perilaku negatif sang anak seperti malas belajar, suka menunda-nunda, suka membangkang, malas bangun pagi, tdk disiplin bahkan hingga ke tingkat malas beribadah yang bisa jadi juga dihadapi oleh guru-guru dalam pendampingan PBM mereka di sekolah. Inilah waktu bagi orangtua untuk bisa MERUBAH semua perilaku tersebut. sehingga saat kembali masuk ke sekolah, sang anak bisa menjadi lebih rajin, lebih mandiri, lebih amanah, lebih disiplin, lebih patuh, lebih rajin beribadah serta tentunya perilaku-perilaku positif lainnya. Keberadaan siswa yang demikian dapat membantu sekolah untuk mengembangkan potensi anak dengan lebih maksimal.
Semua tentu bergantung pada pola asuh, pendekatan dan kesabaran orangtua itu sendiri.
Jadi intinya adalah orangtua tidak boleh stress atau setidaknya tidak menunjukkan perilaku stress itu karena bisa saja akan menularkannya kepada anak-anak mereka.
Untuk itu orangtua haruslah tetap bersemangat karena sejatinya guru-guru di sekolah hanya mitra untuk membantu orangtua mewujudkan doa dan mimpi mereka terhadap ananda tercinta. Menjadi "apa dan siapa" sang anak nantinya adalah tanggung jawab orangtuanya dan peran lingkungannya termasuk lingkungan pendidikannya yang didalamnya ada guru dan seluruh komponen sekolah. Disinilah pentingnya orangtua harus pintar memilih lingkungan pendidikan yang terbaik untuk perkembangan potensi anaknya karena setiap anak pasti punya potensi yang luarbiasa.
Diluar dari semuanya, sekolah pun juga harus siap menerima kritikan, saran serta masukan dari orangtua agar pelaksanaan LFH ini bisa berjalan lancar, siswa tetap belajar dan tujuan PBM tetap tercapai.
Tetap semangat u orangtua, siswa dan guru. Semoga pandemi covid-19 segera berakhir dan kita bisa beraktifitas kembali seperti biasanya. InsyaAllah.
Penulis: Nilamartini

