Pacu Jiwa Kreatif dan Inovatif, SMA Islam Athirah Bone Undang Enterpreneur Sukses Kabupaten Bone
SMA Islam Athirah Bone sangat memperhatikan persiapan siswanya untuk bisa bersaing di masa depan. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa agar dapat berkarir sesuai dengan bakat dan minat serta menyesuaikan kebutuhan zaman. Olehnya itu, setiap bulan, diadakan Kelas Inspirasi dengan mengundang orangtua sebagai pemateri. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali inspirasi dari orangtua yang berasal dari latar belakang yang beragam.
Pada bulan November 2022 ini, Kelas Inspirasi diadakan pada Senin, 7 November 2022 di masjid Fatimah Kalla. Kelas Inspirasi kali ini menghadirkan salah satu orangtua SMA Islam Athirah Bone, Hj. Faridah Hanafing, ST. Beliau merupakan orangtua dari Farah Khadijah Rasyidi dan Fatimah Asma Rasyidi. Sejak 2011, beliau merupakan salah satu loyal customer yang dimiliki oleh Sekolah Islam Athirah Bone karena mulai dari anak sulung hingga keponakan-keponakan beliau disekolahkan di sekolah yang mengusung konsep boarding ini.
Nuraeni, S.Pd., Gr., selaku Kepala SMP Islam Athirah Bone dalam sambutannya mengatakan tujuan menghadirkan inspirator yang memiliki beberapa latar belakang pekerjaan adalah agar siswa memiliki pilihan yang beragam dalam mempersiapkan karir di masa depan sesuai dengan tema kelas inspirasi pada kegiatan kali ini “Membangun semangat kreatif dan inovatif untuk berkarir di masa depan”. Ia juga berpesan kepada seluruh hadirin agar dapat menggali banyak insight dan hal positif yang dimiliki pemateri.
Hj Faridah Hanafing memulai materinya dengan menyampaikan tiga hal yang perlu diperhatikan seorang siswa agar hidupnya berkah yaitu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan kepada ciptaan Allah SWT lainnya. Pada kelas inspirasi kali ini, bertindak sebagai MC adalah Aliyah Fadilah Hanafing yang merupakan kemanakan beliau. Adapun anak-anak beliau berkesempatan pula menjadi pengisi acara pada kegiatan ini, yaitu sebagai pembaca ayat suci Alquran dan saritiawah.
Pemateri yang juga merupakan Wakil Ketua 1 BAZNAS Kabupaten Bone ini menceritakan masa kecilnya yang sudah ikut membantu usaha orangtuanya. Ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari pola asuh orangtua yang diterapkan kepada saudara-saudaranya. “Saya satu-satunya anak perempuan dari 6 bersaudara. Dan ketika orangtua bekerja, saya diminta mengurus adik-adik. Dari sini, saya memperoleh sikap empati dan kasih sayang sehingga ketika melihat orang kesulitan, sikap itu timbul untuk membantu mereka. Untuk urusan bisnis, orangtua sudah melibatkan kami dalam menjalankan usahanya. Saya waktu itu masih usia kelas 2 SD tapi sudah ikut menghitung pemasukan dan pengeluaran orangtua selama berdagang. Jadi, hal inilah yang membuat saya senang matematika. Teman-teman saya di sekolah mungkin bisanya melakukan operasi matematika yang nominalnya satuan, puluhan, ratusan. Tapi kalau saya, saya sudah menghitung puluhan ribu bahkan ratusan ribu karena yang dihitung ‘kan uang.” Seloroh ibu yang juga didapuk sebagai Ketua Umum DPC IWAPI Bone ini.
Memasuki usia perkuliahan, ia pun memulai usaha kecil-kecilan di kampus. “Saya kalau ke kampus naik pete-pete (istilah untuk kendaraan umum di Makassar). Nah di tempat menunggu pete-pete itu,ada penjual gorengan. Saya berpikir bagaimana kalau saya menjualnya di kampus. Akhirnya saya membeli beberapa ribu lalu menitipnya di Musholah dan mengusung konsep kantin kejujuran. Alhamdulillah laku keras, dan teman-teman merasa terbantu, terutama yang malas ke kantin tapi pengen jajan. Saya kemudian melihat kemauan pasar, mulailah varian jualan ditambah sesuai kebutuhan teman-teman. Misalnya pulpen, kaos kaki, dan lain-lain. Karena tidak punya modal, akhirnya saya ke dosen-dosen minta pinjaman modal. Dan dalam waktu beberapa bulan, tempat itu menjadi koperasi kecil-kecilan. Modal yang saya pinjam kemudian saya kembalikan. Sampai sekarang, tempat itu masih ada di kampus dan berkembang makin besar.”, jelasnya.
Ia pun berpesan kepada seluruh siswa yang hadir, “Manfaatkan waktu dengan melakukan aktifitas yang positif. Jika perlu, gelutilah organisasi. Manfaatnya mungkin tidak dirasakan pada saat sekolah atau kuliah, tapi yakin suatu hari, manfaat organisasi itu akan terasa.”
Di akhir sesi, salah satu siswa mengajukan pertanyaan kepada beliau, mengapa Surya Indah (nama usaha dagang beliau) bisa bertahan di tengah gempuran minimarket modern. “Memang tidak mudah bersaing dengan mini market-mini market modern, perlu strategi pemasaran. Tapi sebelum itu, perbaiki niat dulu. Bahwa kita membangun usaha untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Jadi, harganya kita tidak naikkan sampai berlipat-lipat, tapi memang disesuaikan dengan harga yang wajar.” Tutupnya. (Eva Rukmana-Tim Web Athirah Bone)

