Hikmah di Balik Perjalanan Rasulullah
Sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia pada umumnya setiap tanggal 27 rajab memperingati seremonial peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. di mana-mana diadakan peringatan yang sama.
Saya yakin dari sisi sejarahnya, hampir semua umat Islam tahu “apa itu Isra’ Mi’raj”. Namun, hikmah di balik perjalanan Rasulullah tersebut masih banyak yang belum memahaminya. Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa memberikan pengetahuan tentang hikmah di balik perjalanan Rasulullah.
Pertama, peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah ujian, baik bagi orang yang beriman kepadanya maupun yang tidak beriman. Sungguh suatu pertarungan iman setiap orang pada waktu itu. Karena peristiwa tersebut sangat di luar nalar manusia. Kejadiannya dalam satu malam menempuh ribuan bahkan jutaan kilometer. Sekali lagi kalau akal manusia yang dipakai ketika itu, maka sungguh tidak bisa dicerna olehnya. Itulah sebabnya ketika Rasulullah Saw. baru saja kembali, maka beliau juga “bingung” bagaimana cara menyampaikannya ke masyarakat Mekah. Beliau sudah tahu bahwa pasti di antara masyarakat Mekah tidak percaya begitu saja kejadian ini. Dari peristiwa ini, muncul 2 kelompok, yaitu kelompok beriman/percaya yang diwakili oleh Abu Bakar As-Shiddik dan kelompok yang mengingkari yang pelopori oleh Abdul Uzzah (Abu Jahal).
Kedua, menjaga hubungan pada Allah dan sesama. Sebenarnya Allah Swt. sangat mampu meng-isra’kan hamba-Nya dari Masjidil Haram tanpa ke Masjidil Aqsa terlebih dahulu. Allah Swt. memperjalankan hamba-Nya ke berbagai tempat terlebih dahulu agar beliau mengenal keluarga dan sesamanya nabi. Kesannya seakan-akan mengatakan “Jangan lupa para pendahulumu, yang engkau ikuti jejaknya sebagai rasul Allah”. memperbaiki silaturahmi dengan sesama terlebih dahulu kemudian hubungan kepada Allah. Sehebat apapun hubungan kepada Allah tetapi hubungannya kepada sesama tidak baik, tetaplah ditimpa kehinaan dimana pun manusia berada.
Ketiga, pentingnya perintah mengerjakan ibadah shalat lima waktu. Semua perintah wajib selain shalat, Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikannya. Tetapi perintah shalat Allah Swt. sendiri yang mengundang langsung Rasulullah untuk diserah-terimakan. Logikanya, kalau ada perintah yang penyampaiannya secara langsung maka dapat dipastikan perintah itu tidak main-main. Makanya hanya shalat dianjurkan nabi kepada seluruh umatnya yang mukallaf untuk mengerjakannya sesuai dengan keadaannya. Sabda rasulullah “Shalatlah kalian sambil berdiri, jika tidak sanggup maka kerjakan sambil duduk, jika tidak maka kerjakan sambil berbaring, jika tidak maka kerjakan dengan isyarat, dan pun tidak bisa maka engkaulah yang wajib di-shalati."
Keempat, kemuliaan manusia dari makhluk lainnya. Malaikat Jibril terus mendampingi Rasulullah, mulai beliau dijemput dari rumahnya sampai ke sidratul muntaha. Akan ketika mereka sampai di sana, Malaikat Jibril pamit kepada Baginda Rasulullah agar kiranya beliau tidak bisa lagi menemaninya sampai ke alam berikutnya. Sebab bila beliau memaksakan diri, maka dia akan hancur dengan sendirinya dengan izin Allah.
Kelima, sebagai bukti bahwa Rasulullah sebagai penghulu para nabi dan rasul. Dalam beberapa hadis shahih diceritakan bahwa ketika beliau masuk di masjid Aqsha, maka beliau didaulat untuk mengimami shalat para anbiya. Waliyullah, dan orang-orang suci lainnya. Bahkan pintu-pintu langit satu sampai tujuh tidak akan dibukakan selain kedatangan Rasululllah.
Dari sekelumit riwayat ini, maka pantaslah kita dan seluruh umat muslim berbangga mengikuti agama yang dibawa oleh manusia termulia yang Allah ciptakan di dunia dan akhirat kelak. ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD.
Penulis: Sage al Banna, S.Ag, M.Pd.

