MENULIS ITU BERAMAL YANG MENGUNGGULI UMUR
Menulis adalah suatu aktivitas menuangkan ide yang ada di pikiran kita ke dalam suatu media yaitu kertas ataupun media yang sudah canggih seperti blog, Facebook dan lain-lain. Media-media tersebut tentu akan memudahkan kita dalam menulis dan juga memudahkan kita mempublikasikan tulisan kita, sehingga apa yang kita tulis bisa tersebar secara luas dan bisa dibaca banyak orang.
Menulis merupakan aktivitas yang mulia. Pasalnya, dengan kita menulis, ilmu yang kita miliki dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Dengan demikian, menulis bukanlah aktivitas yang hanya menguntungkan satu pihak. Tetapi, menulis merupakan amalan yang memberi keuntungan banyak pihak.
Pihak yang diuntungkan adalah penulis dan pembaca. Bagi penulis, ilmu yang ia tulis bisa dibaca oleh orang lain sehingga dari sini, ia mendapatkan semacam royalti pahala. Semakin banyak yang membaca tulisannya, maka semakin banyak pula pahala yang didapatkannya. Sementara itu, bagi pembaca, ia mendapatkan ilmu yang mungkin sangat ia butuhkan, sehingga ilmunya pun bertambah. Dengan demikian, akan terjadi suatu simbiosis mutualisme antara penulis dan pembaca.
Satu hal yang mungkin harus kita niatkan dalam menulis adalah niat menulis untuk ibadah. Kita tidak boleh menulis karena ingin dipuji orang (riya), ataupun mau terkenal. Akan tetapi, niatkan menulis untuk semata-mata ibadah. Bila menulis kita niatkan untuk ibadah, maka insya Allah aktivitas menulis kita menjadi barokah. Mungkin, tidak banyak yang tahu bahwa menulis ternyata dapat mengungguli umur. Bila umur kita hanya 60 tahun, melalui menulis, kita bisa beramal sampai 100 tahun. Atau bahkan, sampai beratus-ratus tahun. Kenapa bisa seperti itu? Jawabnya, karena tulisan itu abadi. Penulisnya akan mati, tapi tulisannya akan terus ada.
Mengenai hal ini, ada perkataan menarik dari Imam Ali yang bisa kita renungkan. Beliau pernah berkata: “Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti”. Bila kita sudah tidak ada lagi di dunia maka yang hanya kita harapkan di dunia hanya peninggalan kita yang bermanfaat. Ada tiga peninggalan yang bermanfaat, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan. Hal itu sebagaimana yang Rasulullah sabdakan“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no.1631)
Jadi, ketiga peninggalan itulah yang akan terus mengirimkan pahala buat kita kelak. Oleh karena itu, kita sedari sekarang harus menyiapkan peninggalan yang bermanfaat itu. Kalau kita tidak punya sedekah jariyah berupa tanah wakaf ataupun mesjid yang disumbangkan, maka setidaknya kita punya anak sholeh dan juga sebuah tulisan untuk bisa dimanfaatkan oleh orang lain bila kita sudah meninggalkan dunia.
Untuk memotivasi diri kita untuk menulis, mungkin ada baiknya kalau saya memberikan salah satu contoh beramal yang mengungguli umur. Misalnya Imam Syafii. Beliau sebelum meninggal, meninggalkan banyak sekali kitab-kitab yang sampai hari ini masih dimanfaatkan, dikaji dan digunakan. Orang-orang yang memanfaatkan kitab-kitabnya juga bukan lagi ratusan orang, tetapi sudah milyaran orang. Coba kita bayangkan, umur Imam Syafii cuma 54 tahun, tapi beliau masih dikirimkan pahala melalui tulisannya dari semenjak beliau meninggal tahun 204 Hijriah sampai dengan sekarang. Sungguh luar biasa! Itulah yang dimaksud menulis dapat mengungguli umur. Yang umur kita cuma puluhan, tapi kita bisa beramal sampai ratusan tahun bahkan ribuan.
Oleh karena itu, wajar bila Imam Ahmad lebih mengutamakan menulis ilmu ketimbang sholat tahajjud. Jadi, pernah Imam Ahmad ditanya oleh anaknya, Abdullah ”Apa yang harus saya lakukan, sholat tahajjud atau menulis?”. Imam Ahmad menjawab, ”Tulislah ilmu”. Begitulah Imam Ahmad mengutamakan aktivitas menulis ketimbang sholat tahajjud. Padahal, sholat tahajjud adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Lalu, mengapa imam Ahmad lebih mengutamakan menulis? Ini menunjukkan bahwa menulis lebih utama ketimbang sholat tahajjud, meski memang lebih utama bila dilakukan kedua-duanya, yaitu sholat tahajjud dulu baru menulis. Selain dapat mengungguli umur, menulis juga bisa kita gunakan sebagai alat untuk mengikat hafalan atau ilmu. Dengan menulis pula, khazanah ilmu tidak akan pernah hilang. Sebab, tulisan itu abadi, meski penulisnya telah tiada. Dan yang terpenting, menulis dapat membuat kita dapat beramal sampai beratus-ratus tahun Wallahu a’lam bish shawab. Oleh Padli A.Ma., S.Sos. Penulis adalah Pembina Asrama di Sekolah Islam Athirah Bone.
PPDB Sekoilah Islam Athirah Bone Tahun Pelajaran 2022.Membuka 2 jalur masuk siswa baru, yakni jalur Mandiri (biaya sekolah ditanggung orang tua siswa) dan Beasiswa (biaya sekolah ditanggung sepenuhnya oleh Yayasan Kalla), selain itu ada Beasiswa Prestasi akademik tingkat nasional/internasional, Beasiswa Hafalan Alquran minimal 6 juz (SMP), Beasiswa Hafalan Alquran minimal 8 juz (SMA).
Catatan bagi penerima beasiswa adalah berasal dari keluarga kurang mampu secara finansial. Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi kami di nomor 08215427310

