image

Yuk, Kenalan dengan Jumran, Siswa SMP Islam Athirah Bone Asal Negeri Jiran

“Sesampai di sana, ingat nah! Jangan q menangis!” demikian yang disampaikan ayah Jumran saat melepas kepergian putranya menuju Bone. Bisa jadi saat mengucapkannya sang ayah menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Itu adalah sepenggal kisah yang disampaikan Jumran saat diwawancarai terkait keberadaannya saat ini di SMP Islam Athirah Bone.

Jumran, itu adalah nama lengkapnya, sama halnya dengan nama dimana ia kerap di sapa di asrama maupun di sekolah oleh teman-temannya. Sudah hampir sebulan sejak kedatangannya di bulan November dari Saciu, sebuah kawasan perkebunan sawit di Sarawak, Malaysia. 

Anak laki-laki kelahiran Sarawak, 14 tahun silam tersebut  adalah  salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Kalla yang berkesempatan menimba ilmu bersama sekitar tiga ratusan siswa di SMP-SMA Islam Athirah Bone yang berasal dari berbagai kawasan di Indonesia.  Kehadirannya di SMP Islam Athirah Bone adalah buah dari kemitraan sekolah dengan Sabah Bridge, sebuah yayasan pendidikan yang didirikan oleh pendidik di Sabah Malaysia.

Jumran dan ketiga temannya yang berasal dari community learning centre (CLC) yang berbeda mengarungi perjalanan selama dua pekan dari darat dan udara hingga akhirnya tiba di Kota Beradat Kabupaten Bone. 

Lamanya perjalanan diakuinya karena setibanya di tempat persinggahan baru, ia dan rekan-rekannya diwajibkan karantina mandiri terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Jumran yang kedua orang tuanya merupakan buruh sawit tersebut merasa beruntung bisa mengikuti seleksi beasiswa di Sekolah Islam Athirah Bone. meski bukan yang terpintar di kelasnya, tetapi bisa jadi ia adalah anak yang paling berani. Berani berpisah dengan kedua orang tua untuk merantau menuntut ilmu di negeri nan jauh. 

Cowok yang hobi bermain sepak bola tersebut sama sekali tidak menggunakan dialek melayu sebagaimana kebanyakan anak Indonesia yang ikut merantau bersama orang tuanya ke Malaysia. Saat ditanya alasannya,t ia menerangkan bahwa hal ini disebabkan di kawasan perkebunan tempatnya tinggal, semuaa penduduknya adalah buruh migran asal Indonesia sehingga komunikasinya sehari-hari tetap menggunakan bahasa Indonesia. 

Saat ditanya tentang perasaannya selama di Athirah Bone, Ia mengaku sempat galau selama beberapa hari pertama, namun saat ini, ia merasa betah dan senang tinggal di Athirah Bone. keramahan dan kenyamanan di sekolah maupun asrama telah ia kabarkan kepada orang tua dan adik-adiknya saat bersua via video call menggunakan HP Asrama.

“Sudah tidak galau mi. sudah pernah juga video call sama bapak di rumah. Enak juga di sini, baik kakak kakak kelas juga, Bapak pesan rajin belajar, rajin mengaji” ungkapnya saat diwawancarai.

Nilai-nilai Ujian semesternya yang masih di bawah kriteria ketuntasan tidak mematahkan semangatnya untuk terus berjuang, belajar dengan tekun demi meraih cita-citanya, menjadi bagian dari keluarga besar Tentara Nasional Indonesia. 

Senyum tipis kembali menyungging di bibirnya sambil sesekali menundukkan pandangan, Ia kemudian kembali menegakkan punggungnya menegaskan kembali untuk menata lagi nilai-nilai mata pelajarannya di semester selanjutnya. Menuntaskan impian menjadi kebanggaan agama, orang tua dan negara. Nurholis_Tim Athirah Web (ig @nurholismuh)


Previous PostSMULE dari OSIS SMP-SMA untuk Segenap Warga Sekolah Islam Athirah Bone
Next PostBergerak Bersama Hadapi Bencana Banjir, OPDIS SD Islam Athirah 1 Makassar Salurkan Sejumlah Paket Sembako