image

Tiga Tantangan Zaman untuk Menuju Bangsa yang Kuat

Dulu pada zaman penjajahan, sebelum republik ini terbentuk masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita adalah bagaimana merebut kemerdekaan dari tangan penjajah di seluruh nusantara.



Tantangan terbesar pada zaman itu ialah bagaimana membangkitkan semangat nasionalisme dan persatuan rakyat untuk bersatu melawan dan mengusir penjajah dari tanah air.

Hingga pada akhirnya dengan semangat persatuan dan nasionalisme yang berkobar dalam jiwa maka kita bisa merebut kemerdekaan dan terlepas dari belenggu penjajah yang telah berabad-abad lamanya berkuasa di atas bumi pertiwi.

Zaman berubah, tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini pun berubah...

Setelah berhasil merebut kemerdekaan dan membentuk Nergara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh bangsa Indonesia kala itu adalah bagaimana mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih dulu start dan telah jauh melangkah dalam membangun negaranya.

Untuk bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dalam membangun bangsa yang kuat dan maju maka tidak cukup hanya dengan mengandalkan sumber daya alam (SDA) saja, akan tetapi faktor fundamental lain yang tak kalah pentingnya adalah sumber daya manusia (SDM). Sebagaimana dalam perspektif ilmu ekonomi: negara maju adalah negara yang tidak lagi bergantung pada sumber daya alamnya melainkan pada keunggulan sumber daya manusianya.

Pada waktu itu, masalah utama yang di hadapi bangsa Indonesia adalah kurangnya anak bangsa yang terdidik. Orang-orang yang mampu mengakses pendidikan hanyalah golongan tertentu saja seperti kaum bangsawan. Angka buta huruf di Indonesia sangat tinggi sehingga semangat yang mulai di gaungkan bukan lagi semangat melawan penjajah akan tetapi semangat melawan kebodohan.

Isu pendidikan adalah salah satu yang mebjadi konsen utama pemerintah kala itu. Fokus kebijakan yang dikeluarkan adalah peningkatan mutu pendidikan dalam negeri. Sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah tersebut, kebijakan yang diambil oleh kabinet pertama Republik Indonesia adalah mengangkat Ki Hajar Dewantara sebagai menteri Pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.

Seiring waktu berjalan perlahan tapi pasti bangsa Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya dan bisa mensejajarkan diri dengan negara-negara lain.

Saat ini pendidikan di Indonesia sudah semakin maju dibanding dulu, aturan wajib belajar yang dulu hanya 6 tahun kini telah ditingkatkan menjadi 12 tahun, bahkan di tahun 2018 pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan hingga Rp444,131 Triliun atau sekitar 20?ri total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika kita perhatikan saat ini prestasi anak bangsa dalam dunia pendidikan nampaknya berbanding lurus dengan upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam negeri, hal ini dapat dilihat dari berbagai prestasi yang mampu ditorehkan oleh anak bangsa dalam  berbagai ajang olimpiade tingkat Internasional dimana kontingen indonesia selalu mampu mempersembahkan medali.

Selain itu, saat ini telah banyak anak bangsa yang dengan latar belakang keilmuannya mampu menunjukkan karya besarnya di tingkat Internasional seperti Sri Mulyani Indrawati yang pernah menjabat Direktur Bank dunia, Nelson Tansu ilmuan muda asal indonesia yang menjadi guru besar di Amerika, Basuki Indah Priyanto yang juga sebagai ilmuan muda Indonesia di Swedia, dan masih banyak lagi contoh anak bangsa lainnya yang berprestasi baik di dalam maupun diluar negeri.

Hal lain yang sangat mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan di Indonesia saat ini adalah adanya kemajuan teknologi informasi dimana akses dan transfer informasi dari seluruh dunia bisa diperoleh dengan sangat mudah.

Dengan melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia saat ini nampaknya tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pemerintah telah berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa atau setidak-tidaknya dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia telah keluar dari zaman kebodohan dan memenangi perang melawan kebodohan.

Babak baru dari kemajuan ilmu pengetahuan ini membawa kita pada fase peradaban selanjutnya yang akhirnya merubah zaman sehingga tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini pun lagi-lagi berubah...

Setelah perang melawan kebodohan dan buta huruf mampu dilalui, saat ini kita masuk ke era baru dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknogi yang semakin pesat, arus informasi yang semakin canggih dan tanpa batas, membuat bangsa ini kemudian dihadapkan pada tantangan baru yang tak kalah seriusnya dari tantangan-tantangan sebelumnya seperti perang melawan penjajah dan perang melawan kebodohan. 

Masalah besar yang dihadapi bangsa indonesia saat ini adalah meningkatnya kecerdasan intelektual yang tidak diimbangi dengan akhlak yang baik.

Selama ini mungkin kita tidak pernah sadar bahwa seiring meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri ini angka kriminalitas juga semakin meningkat dan semakin canggih. Sikap santun dan saling menghargai antar sesama yang menjadi ciri bangsa ini sejak dulu pun nampak mulai luntur. Semua itu terjadi karena ilmu pengetahuan yang ada tidak diimbangi dengan akhlak.

Kecerdasan intelektual tanpa diimbangi akhlak yang baik justru dapat menjadi musibah. Betapa banyak orang yang ahli dibidang tertentu yang justru memanfaatkan keahliannya untuk melakukan tindakan kejahatan. Seperti ahli IT yang justru menjadi hacker, ahli hukum yang menjadi mafia hukum, politikus yang membohongi rakyat dan pejabat yang justru memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaan negara demi kepentingan pribadi dan kolongan.

Parahnya lagi, krisis akhlak ini terjadi hampir diseluruh lapisan masyarakat. Hampir setiap hari kita akrab dengan pemberitaan akan penyalahgunaan narkoba yang selalu menghiasi sampul depan surat kabar baik yang dilakukan oleh rakyat biasa hingga pejabat, dari yang berpendidikan rendah hingga yang bergelar profesor sekalipun tak luput dari jeratnya. 

Belum lagi para pejabat baik di tingkat daerah sampai di tingkat pusat yang silih berganti tampil di depan media dengan menyandang status tersangka Korupsi membuat kita seharusnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah dari bangsa ini, dimana orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi problem solver justru menjadi problem maker bagi bangsa ini.

Mungkin selama ini bangsa kita terlalu fokus untuk mengasah intelektualitas dan kualitas keilmuan di bidang akademik dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat membawa kemajuan bagi bangsa ini dan dapat menjadi bekal bagi kita dalam menghadapi kerasnya persaingan dunia kerja atau untuk mengejar karir demi meningkatkan status sosial dimata masyarakat akan tetapi kita lupa pada suatu hal yang jauh lebih besar dari sekedar mengasah kecerdasan intelektual yaitu pembinaan akhlak.

Keahlian dibidang  apapun akan selalu membawa kebaikan selama keahlian tersebut ditopang dengan pondasi akhlak yang kuat. Sebaliknya, apabila ilmu atau keahlian yang ada tidak dilandasi dengan akhlak yang baik maka yang terjadi justru kerusakan.

Dalam pandangan islam akhlak menjadi hal utama yang menjadi tujuan diutusnya nabi Muhammad SAW di muka bumi. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya aku (Muhamaad) diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Haditz tersebut menegaskan bahwa akhlak yang mulia merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan ini. Maka dari itu mari kita lanjutkan perjuangan untuk meraih kemajuan bangsa yang sesungguhnya sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas keilmuan kita dibidang masing-masing dan berupaya menyempurnakan akhlak.

Semoga Allah SWT senantiasa merahmati kita dan bangsa ini.. amiin

Baarakallah fiikum...

[Rahmat Arsyad]

Previous PostSemarak Latihan Dasar Kepemimpinan SMPI Athirah 2 Makassar
Next PostKERJA IBADAH