DAMAI TANPA PERUNDUNGAN DI DUNIA SEKOLAH
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal, susungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kamu”.
(Q. S. Al-Hujurat : 13)
Di dalam agama Islam, sangat jelas memberikan penjelasan yang
akurat bahwa manusia sejak diciptakan dalam bentuk yang berbeda-beda, kembar
identik sekalipun pasti ada titik perbedaan. Al-Hujurat;13 menegaskan perbedaan
itu, bahwa kita dicptakan dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, yang
artinya kita hidup dalam keadaan keberagaman namun tetap saling menghargai satu
dan yang lainnya. Salah satu bentuk keberagaman yang dibahas dalam agama Islam
adalah kebaragaman dalam beragama, dimana Islam mempersilahkan penganut agama
lain untuk menganut agamanya masing-masing.
Dilingkungan pendidikan khususnya dunia sekolah selain dilingkungan
keluarga, adalah tempat yang tepat untuk meletakkan Dasar-dasar pemahaman keberagaman. Setiap
peserta didik punya potensi dan kompetensi yang berbeda-beda, dan hal itu harus
dihargai sebagai suatu anugerah dari sang maha pencipta kepada hamba-hambanya.
Penanaman sikap-sikap saling menghargai, menghomati, dan menghargai perbedaan
adalah diktum yang sangat penting diusia mereka yang lagi bertumbuh dan
berkembang dengan pesatnya.
Realitas yang dihadapi saat ini, ada kecenderungan siswa
tertentu atau siswa dalam kelompok tertentu terkadang memaksakan kehendaknya
kepada siswa lain, dan siswa lain itu merasa tidak nyaman dengan kondisi itu.
Pelaku perundungan biasanya menggunakan agresi untuk menyakiti orang lain
secara fisik, verbal, dan mental. Hal ini diperkuat Sullivan bahwa perundungan
merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan sadar oleh
individu atau sekelompk pelaku yang lebih kuat terhadap individu lain atau
kelompk lain yang lebih lemah, dilakukan dalam bentuk verbal, fisik, psikologis,
seksual dan relasional yang terjadi dalam waktu yang cukup panjang dan berulang.
Beberapa bentuk perundungan yang sering terjadi yaitu:
1.Melukai secara fisik
2.Melakukan pemalakan
3.Menyisihkan seseorang dari pergaulan
4.Menyebarkan gosip dan membuat julukan yang bersifat ejekan
5.Mengerjai sesorang untuk mempermalukannya
6.Mengintimidasi atau mengancam korban.
Akibat dari perundungan yang dialami seseorang, maka dapat berakibat negatif secara fisik dan mental seperti:
1.Merasa terisolasi dari pergaulan
2.Depresi
3.Pemalu dan penyendiri
4.Rendahnya kepercayaan diri
5.Terpikir baheak bisa-bisa bunuh diri
6.Merosotnya prestasi akademik.
Kondisi-kondisi di atas tidak
menutup kemungkinan terjadi disekitar kita tanpa kita ketahui, untuk itu
sebabagai bangsa yang sangat terkenal dengan bangsa yang ramah, tentram
kertaraharja, seharusnya harus pro aktif melakukan pendekatan membongkar pelaku
termasuk membantu korban untuk bangkit kembali. Tindakan perundungan di dunia
sekolah sangat rentang terjadi, guru sebagai orang tua di sekolah harus juga
pro aktif melakukan sosialisasi-sosialisasi
pemahaman tentang dampak negatif dari perundungan. Disisi pelaku ketika
ini dibiakan, maka ketika ia besar ia menjadi preman, dan bagi korban ketika ia
besar akan menjadi traumatik berkepanjangan.
Menurut Baso Marannu dkk, mengemukakan bahwa ada beberapa tips pencegahan perundungan yaitu 1)jangan bereaksi saat di rundung karena perundung biasanya merasa senang jika melihat korbannya marah, sedih, atau menangis, 2)Jangan dekati perundung dengan menjaga jarak kamu akan terhindari dari niat jahatnya, 3)Jadilah lebih pintar dari tukang perundung, maksudnya yang suka melakukan perundungan memiliki kecerdasan dibawah rata-rata, dan mereka pasti lebih minder jika kamu bisa lebih pintar dari mereka, 4)Ikutlah belajar bela diri karena bela diri dapat meningkatkan kepercayaan diri dan pasti kamu lebih bisa menjaga dirimu, 5)Jangan pernah membalas rundungan mereka karena hal ini hanyalah akan memperkeruh suasana dan membuat kamu kehilangan kontrol.
Sekolah dengan legalitas formal yang ia miliki punya kekuatan untuk menengahi dan menyelesaikan perundungan ini. Tata tertib harus ditegakkan, karena sekolah yang tegak dan disiplin harus mengedepankan tata tertib. Untuk itu sekolah harus memperkuat barisan bagi para guru sehingga mampu terdepan menjadi corong pemotivator bagi siswa untuk tetap dijalan yang benar. Begitu juga di hadapan para siswa, harus dibekali sosialisasi pemahaman tentang pentingnya saling harga-menghargai, bahu-membahu dan menyatukan tekad untuk tidak melakukan perundungan, bahkan kalau perlu bisa dilakukan pernyataan komitmen bersama satu sekolah berupa deklarasi sekolah anti perundungan. Dengan cara-cara ini turut membantu terwujudnya budaya damai di sekolah menuju Sekolah ramah anak.
Penulis : Tawakkal Kahar

