Menjadi Pribadi yang Lebih Baik (Sebuah Catatan Untuk Diri Sendiri)
Oleh : Hilma Yusuf, S.Pd
Setiap orang berharap menjadi pribadi yang baik. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kita sudah menjadi seperti yang kita harapkan?.
Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah mengungkapkan (wallahu a'lam): "Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat."
Motivasi dari menantu Rasulullah SAW tersebut nampaknya masih relevan. Jika ingin beruntung, jadilah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin. Kondisi iman yang kadang turun-naik, maju-mundur sering menjadi penyebab hari kita terkadang hanya sama dengan kemarin, atau bahkan lebih buruk dari kemarin.
Salah satu bentuk kesyukuran menjadi salah satu dari keluarga besar Sekolah Islam Athirah selama lebih dari 15 tahun adalah motivasi untuk menjadi lebih baik, salah satunya adalah kewajiban mengisi jalan kalla setiap harinya. Walaupun dalam keadaan terpaksa, tetapi ada dorongan untuk berbuat kebaikan.
Jika mengingat beberapa tahun yang lalu berbuat kebaikan dalam bentuk
sedekah, bakti sosial dan sebagainya (poin dari aktif bersama) tidak pernah
rutin dilakukan bersama. Kegiatan tersebut malah lebih sering dilakukan
sendiri-sendiri. Hal itu pun baru terlaksana, jika ada peristiwa atau kejadian
yang membuat kita harus berbagi. Sehingga
sering kita abai dengan lingkungan sekitar yang membutuhkan sedikit sentuhan
kebaikan.
Ada juga kegiatan yang wajib dilakukan yaitu membaca. Apakah saya tidak pernah membaca, terus terang untuk kegiatan membaca sudah menjadi hobi yang sering saya lakukan, Namun jenis bacaan yang saya baca hanya dalam bentuk cerita fiksi. Kadang-kadang dalam sehari saya dapat menyelesaikan bacaan hingga 2 buku novel bahkan lebih.
Pada item Jalan Kalla, kita diharapkan membaca buku yang dapat menambah wawasan keagamaan, keilmuan dan sebagainya. Jenis buku yang selama ini tidak pernah menjadi pilihan saya ketika ke toko buku atau ke perpustakaan. Ketika membaca buku non fiksi, seringnya saya merasa bosan sehingga kadang kala untuk satu buku yang berisi motivasi atau ilmu pengetahuan dibutuhkan waktu berhari-hari. Bahkan dapat sampai dalam hitungan bulan untuk menyelesaikannya . Hal ini sangat berbanding terbalik saat ketika membaca buku fiksi.
Masih banyak lagi hal-hal yang diharapkan dapat dilakukan dalam mengisi hari menjadi lebih baik. Semua hal tersebut dirangkum dalam Jalan Kalla. Apakah dengan mengisi Jalan Kalla sudah menjadi jaminan bagi kita (khusus keluarga besar Athirah) dapat menjadi insan yang lebih baik?. Penilaian tersebut hanya dapat dinilai oleh orang-orang di sekitar kita dan paling utama dari Sang Khalik. Setidaknya kita sudah berusaha untuk memperbaiki diri, meskipun kadang terpaksa. Kembali lagi ke diri masing-masing apakah kita sudah berniat untuk menjadi lebih baik, ataukah hanya sebagai salah satu penggugur kewajiban.
Di salah satu sambutan/pidato bapak Syamril, Direktur Sekolah Islam
Athirah. Beliau pernah berkata lebih baik saya paksa masuk syurga daripada
hanya dibiarkan masuk neraka. Kata-kata beliau ini menjadi motivasi yang sering
kali saya sampaikan ke anak didik di SMP Islam Athirah. Apalagi ketika mereka kadang protes dengan
aturan, atau tidak terima dengan sanksi yang mereka dapatkan ketika melakukan
pelanggaran. Kesalahan seperti terlambat shalat, bercerita saat kultum tidak
mengisi character log dan sebagainya.

