image

Istiqomah itu Berat, Kalau Ringan Namanya Istirahat

PENULIS : Satrio Budi Utomo

(Guru Tahfidz Boarding Athirah BB)

 

          Kehidupan dunia adalah kehidupan yang tak akan abadi. Sejauh apapun dan sebanyak apapun kita berusaha mengumpulkan harta dunia, itu tidak akan kita bawa sampai ke akhirat. Dunia ini adalah stasiun yang dimana kita hanya singgah sebentar saja untuk mengumpulkan bekal kebaikan untuk akhirat kelak. Jadi janganlah pernah menganggap bahwa kita akan hidup selamanya di alam dunia ini.

            Berangkat dari apa yang telah saya ungkapkan diatas tadi, bahwa dunia adalah tempat yang sebentar saja kita tempati, maka dalam menjalani fase dalam hidup ini sangat diperlukan sikap dalam diri seorang manusia yang dapat mengarahkan dan tetap kokoh berdiri diatas kaki sendiri menghadapi berbagai macam cobaan dan rintangan yang menghalang. Sikap yang sangat diperlukan itu adalah sikap istiqomah. Istiqomah sendiri tetap bertahan dan berjalan meski saling berhadapan dengan godaan.

            Istoqomah sendiri tidak semudah yang kita lihat dan tidak segampang yang kita bayangkan. Dibalik kata istiqomah ada perjuangan yang kuat, pengorbanan yang banyak, dan doa yang tidak pernah berhenti. Istiqomah adalah bagian dari rezeki yang diberikan Allah, bagian dari hadiah yang diberikan Allah, bagi mereka yang sungguh-sungguh selalu ingin mendekat kepada-Nya.

            Istiqomah itu sulit dan butuh perjuangan sehingga hanya orang-orang terpilih yang mampu istiqomah. Orang yang bisa istiqomah, sungguh sangat menakjubkan. Bahkan itu lebih menakjubkan daripada seseorang yang terus menerus beribadah lalu menjauh dari dunia. Kemudian mengutip bebepara perkataan ulama yang disebutkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ bahwa “Ibnu Mubarok menceritakan dari Bakkar bin Abdillah, ia berkata bahwa ia mendengar Wahb bin Munabbih berkata, ada seorang ahli lewat dihadapan ahli ibadah yang lain. Ia pun berkata “Apa yang terjadi padamu?” dijawablah, “Aku begitu takjub pada si fulan, ia sungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai ia meninggalkan dunianya. “Wahb bin Munabbih segera berkata, “Tidak perlu takjub pada orang yang meninggalkan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub pada orang bisa istiqomah”.

Dari apa yang diceritakan diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa begitu hebatnya orang yang bisa istiqomah sampai akhir hayatnya. Mampu menjaga dirinya untuk tetap berada dijalan Allah SWT. Apa tak lagi di era modern ini, berbagai macam informasi dan teknologi yang terus berkembang yang dimana sudah tidak ada lagi sekat antara satu dengan yang liannya.

 

Previous PostSMP Islam Athirah Padukan Sumpah Pemuda dengan Bulan Bahasa
Next PostINI PROSES BERDEMOKRASI SISWA BOARDING ATHIRAH BUKIT BARUGA MELALAUI PEMILIHAN ISBAH