Maknai Hari Raya Idul Adha 1443 H untuk Tingkatkan Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
MAKASSAR - Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus wujud kesalehan sosial. Umat muslim meneladani ketaatan Nabi Ibrahim yang diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Buah dari ketakwaannya, anaknya Ismail tidak jadi disembelih dan digantikan oleh Kambing Qibas.
Setiap tahun, para guru, karyawan, orang tua siswa, dan para siswa (i) SMA Islam Athirah Bukit Baruga melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban.
Dalam sambutannya, Kepala SMA Islam Athirah Bukit Baruga M Ridwan Karim SPd MPd menyampaikan, "Kita bisa maknai Hari Raya Idul Adha ini bagian dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," ujarnya dalam kegiatan pengarahan kepada para peserta didik di Lt 3 Musholla SMA Athirah Bukit Baruga, Kota Makassar, Selasa (12/7/2022).
Kepala SMA Athirah Bukit Baruga mengatakan, pembelajaran kurban ini juga berhubungan langsung dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Biologi, dan Sosiologi. "Melalui pelajaran Biologi, kita bisa melihat komponen yang ada di tubuh hewan, seperti jantung, hati, paru, usus. Terkait Mata pelajaran sosiologi, kurban mengajarkan bagaimana kita bisa berempati, berbagi, berinteraksi kepada kaum duafa," ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Ridwan Karim mengajak para siswa mempersiapkan diri mengikuti pembelajaran 1 tahun kedepan. "Selamat mengikuti pembelajaran hari ini dan seterusnya. Persiapkan fisik dan mental untuk menghadapi pembelajaran 1 tahun kedepan," ungkap kepala sekolah.
Sementara itu, guru PAI Sumardi Uddin SPdI LC SH menjelaskan, Allah SWT memerintah Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak yang diidam-idamkannya. Saat Nabi Ibrahim akan menyembelih Ismail, anaknya diganti Kambing Qibas. Hikmah berkurban, ujar Sumardi, sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat Allah SWT dan berbagi makanan kepada orang lain. "Berkurban adalah amalan yang disukai oleh Allah SWT di tanggal 10 Dzulhijjah," paparnya.
Syarat sah hewan kurban, kata Sumardi, berupa binatang ternak seperti sapi, unta, atau kambing. Usia hewan sudah menuju syarat, tidak memiliki cacat, dan tidak pincang. Waktu penyembelihan saat Hari Raya Idul Adha dan 3 hari setelahnya," jelasnya.
Syaratnya, pisau yang digunakan harus tajam. Saat disembelih hewan dihadapkan kiblat. Penyembelih membaca basmalah dan takbir. "Hewan tidak boleh dikuliti setelah dipastikan mati. Dagingnya 1/3 untuk yang berkurban," kata Sumardi.
Adapun guru biologi Shandra Santika Nur SPd dalam pemaparannya di hadapan siswa mengatakan, sapi yang akan disembelih berjumlah 3 ekor dan 4 ekor kambing. Setelah menyaksikan proses penyembelihan dan pengulitan hewan kurban, para peserta didik diberi tugas untuk mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). "Ada pertanyaan yang harus ananda jawab. Saat proses pemotongan kita akan mengamati organ bagian dalam sapi atau kambing," sebut Shandra.
Sapi dan kambing, lanjut Shandra, termasuk hewan ruminansia. Makanannya adalah rumput. Hewan ini disebut hewan yang memamah biak atau hewan yang menguyah makanannya sebanyak 2 kali. "Pertama, sapi mengunyah makanannya di mulut lalu dikeluarkan lagi. Saat beristirahat, sapi menyambung menguyah," katanya.
Guru Biologi ini mengatakan, organ yang berperan dalam pencernaan sapi adalah lambung. "Lambung sapi terbagi atas 4 bagian. Makanan masuk ke rumen atau perut besar. Disimpan secara sementara lalu masuk ke retikulum. Lalu kembali ke mulut. Setelah dikunyah ke 2 kalinya, masuk ke omasum atau lambung sapi," terang Shandra.
Selanjutnya para ibu guru memasak Konro. Setelah makanan siap, para guru dan karyawan menikmati lezatnya hidangan Konro tersebut. (madin)

