BERKOMUNIKASI VIA PERPESANAN INSTAN: ETIKA ITU PENTING!
Sudah hampir empat bulan pertemuan benar-benar dibatasi,
bahkan terputus sama sekali. Dalam dunia pendidikan, sekolah yang menjadi wadah
untuk mengenyam pendidikan bergeser ke sebuah kotak kecil yang kita sebut
handphone, laptop, atau pun gawai yang dapat digunakan mengakses internet dan
menjadi alat komunikasi efektif.
Pandemi Covid-19 ini
menyebabkan banyak perubahan yang mendadak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri
bagi siswa, guru, dan seluruh warga sekolah untuk saling berinteraksi. Proses
belajar mengajar dilakukan melalui pesan singkat atau konferensi video. Banyak kendala yang dihadapi sehingga hal tersebut
terkadang dijadikan suatu pemakluman. Namun, ada hal yang tidak bisa dimaklumi.
Hal itu adalah etika berkomunikasi.
Lazimnya, guru dan
siswa melakukan tatap muka di dalam kelas. Komunikasi melalui pesan instan jarang dilakukan karena hampir setiap kita bertemu, terkecuali
pada hal-hal yang prinsip atau urgen. Akan tetapi, di kondisi yang tidak
memungkinkan ini, mau tidak mau, suka tidak suka, hal yang jarang dilakukan itu
menjadi sebuah keutamaan dan rutinitas harian. Yah, jalur komunikasi
satu-satunya yang paling efektif adalah melalui telepon, perpesanan, atau panggilan
video. Salah satu tantangan yang kadang terlupakan adalah cara berkomunikasi.
Apalagi antara siswa dan guru, ataupun sebaliknya.
WhatsApp
adalah salah satu platform perpesanan
instan terbesar dengan memiliki paling banyak pengguna serta memiliki fitur
yang mumpuni. Mulai dari pengiriman teks biasa, gambar, sampai dengan
pengiriman dokumen dalam format doc, xls, hingga pdf.
Namun, beberapa dari pengguna aplikasi ini seringkali
kurang memerhatikan aspek sopan santun dan etika dalam bercakap dan berbincang
dengan oranglain sehingga muncul rasa risih dan kurang nyaman.
Komunikasi secara
langsung dan tak langsung sungguh jelas berbeda. Saat berkomunikasi langsung dengan tatap muka
ataupun pertemuan, seorang siswa yang akan bertanya pada guru mungkin
mengawalinya dengan permisi ataupun salam. Bahasa yang digunakan terkesan lebih
halus dan sopan. Layaknya percakapan biasa yang tidak melanggar etika ataupun
menyalahi aturan berkomunikasi. Namun, beda cerita pada saat siswa akan
mengawali percakapan dengan guru untuk menanyakan nilai ataupun tugas-tugas
sekolah. Siswa cenderung to the point,
lupa menyebut nama, bahkan kadang terkesan memaksa saat hendak chat dengan
gurunya.
Nah, hal ini menarik
untuk diperhatikan. Kita sepakat bahwa terkadang orang melakukan kesalahan,
bukan karena ia seutuhnya salah. Orang melakukan kesalahan karena ia memang
tidak paham sama sekali. Begitulah kira-kira ilustrasi untuk siswa yang belum
terbiasa memperhatikan etika berkomunikasi, khususnya siswa di jenjang
menengah. Mereka belum dan tidak terbiasa sebelumnya melakukan ini sehingga
kalimat-kalimat yang mereka tuliskan berpengaruh pada perlokusi mitra tuturnya,
yang dalam kontek ini adalah gurunya. Adanya gap usia dengan guru juga menjadi kendala dalam berkomunikasi.
Siswa yang tumbuh di zaman berbeda kadangkala menimbulkan miskomunikasi bahkan
kesalahpahaman saat berbicara langsung, apatahlagi jika berkomunikasi via chat.
Sebagai seorang
pendidik, tentu tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Teguran atau
melakukan edukasi adalah sebuah kewajiban agar kekeliruan yang terjadi tidak
terus menerus terjadi. Namun, hal ini tidak bisa selesai hanya dalam satu dua
hari saja. Edukasi dalam berkomunikasi bukan hal sepele untuk diajarkan untuk
anak didik kita yang notabene belum memahami konsep komunikasi ini secara utuh.
Siswa di usia remaja
memiliki ego yang tinggi. Ini bercermin pula pada cara mereka berkomunikasi.
Siswa terkesan menodong dengan banyak pesan dan panggilan saat chatnya tidak
dibalas. Mungkin, bagi siswa ini adalah pesan yang lumrah, namun, bagi seorang
guru, yang sepatutnya memahami konsep berkomunikasi, hal ini adalah sesuatu
yang fatal.
Kondisi saat ini
belum dapat kita pastikan akan berlangsung sampai kapan. Selama itu pula
komunikasi melalui perpesanan instan akan terus bergulir. Miris rasanya jika
etika berkomunikasi kita kesampingkan. Etika berkomunikasi antara siswa dan
guru perlu dicermati dan tidak disepelekan, karena jika hal ini terjadi, akan
terjadi kesenjangan sosial antara siswa dan guru. Sebagai seorang guru, kita
sangat perlu mengoreksi tata bahasa siswa-siswa kita, bukan hanya pada saat
mendengarkan mereka berbicara secara langsung, tetapi juga saat siswa melakukan
percakapan via chat. Adanya peran guru untuk mengedukasi etika berkomunikasi
bagi siswa, nilai-nilai afektif seperti kesopanan akan tetap dijunjung tinggi.
Sehingga, kebiasaan tersebut akan terus-menerus dilakukan dan menjadi bekal
kebiasaan hingga mereka berhadapan dengan dosennya di perguruan tinggi
nantinya.
Para pelajar pun
harus mengetahui konsep dasar etika berkomunikasi dengan guru ataupun dosen,
yakni (1) Memperhatikan waktu saat ingin menghubungi guru ataupun dosen.
Lazimnya, untuk chat dimulai pukul 08.00 hingga 20.00. (2) Mengucapkan salam
untuk mengawali percakapan. (3) Walaupun tidak melakukan kesalahan, ada baiknya
merendahkan hati untuk meminta maaf karena telah mengambil waktunya untuk
membaca pesan kita, (3) Menuliskan identitas dengan lengkap, karena guru atau
dosen kita bukan dukun atau cenayang yang mengetahui Anda secara langsung, (4)
Biasakan mengucapkan terima diakhir percakapan.
Dengan mengedepankan
etika berkomunikasi melalui perpesanan instan, komunikasi akan berjalan dengan
baik, komunikasi akan lebih terarah, serta tata krama dan kesopansantunan
berbahasa juga terjaga.
Penulis: Sabrianti

