image

Sabet Juara Pertama di Debat “PIKIR 2018”

            Tim Delegasi SMA Islam Athirah kembali mencuatkan taringnya di dunia debat ilmiah. Tim yang dibentuk apik oleh Yusran, M.Pd. selaku guru pendamping lomba debat ilmiah PIKIR 2018

(Pekan Ilmiah dan Kreativitas Mahasiswa) yang diadakan oleh LKIM-PENA (Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penelitian dan Penalaran) Unismuh itu terdiri atas tiga siswi berbakat, yakni Aulia Kadir, Nura Shafiyah, dan Zhafirah Alda Nizaroh.

Ajang tersebut merupakan lomba antar-SMA Se-Sulawesi. SMA Islam Athirah Makassar keluar sebagai juara pertama dari 29 tim dari berbagai sekolah di Sulawesi. Lomba yang diadakan selama lima hari itu dipadati dengan beberapa rangkaian, diawali dengan opening ceremony dan technical meeting siswa di Balai Sidang Muktamar Unismuh, hingga pada rentetan berbagai lomba di hari berikutnya, salah satunya lomba debat ini.

Dua tim dari SMA Athirah Makassar berjuang meraih juara dalam lomba tersebut. Satu tim hanya mampu bertahan hingga delapan besar. Dan satu tim lainnya yang digawangi oleh ketiga siswi dari kelas yang sama, yaitu XI IPS tersebut mampu melejitkan kembali nama sekolah dengan masuk ke dalam empat besar. Selanjutnya, mereka beradu argument dengan SMA Negeri 8 Bulukumba di babak final, dan akhirnya mampu membuktikan kegigihan mereka yang telah latihan satu pekan sebelum hari-H dengan membawa pulang sejumlah piala dan sertifikat juara 1.

 Yusran, M.Pd. yang ditemui di ruangannya (22/10) mengaku antusias melihat siswa optimis akan menjadi juara. “Saya mencoba menyemangati mereka dan mengikuti alurnya dengan tenang. Dengan bekal latihan yang marathon dan doa yang terus dipanjatkan, kami yakin akan keluar sebagai juara pertama”. Ungkap Wakil Kepala SMA Islam Athirah bidang kurikulum ini. memang menggenjot tim debat ini untuk serius dan berusaha semaksimal mungkin.

Kompetisi debat ini banyak mengangkat isu terkini menyangkut sosial dan pendidikan. Di antaranya aplikasi tik-tok, penggunaan angkutan umum bagi pelajar, wajib belajar hingga perguruan tinggi, siswa hamil dilarang ikut ujian nasional, hingga UN sistem esai.  Khairul Tamimin, yang merupakan guru pendamping yang juga aktif mendampingi siswa selama proses lomba merasa bahwa isu debat mampu membakar jiwa siswa sehingga bakat terpendam siswa mulai terlihat jelas.

Begitu pula yang dirasakan oleh ketiga siswi tersebut, Amalia dan Zhafirah yang merasa terharu meskipun belakangan ini kurang tidur.

 “Saya bisa membuktikan pada kedua orang tua saya bahwa saya mampu membanggakan mereka”, Tambah Nura Shafiyah yang akrab dipanggil Pio.

Yusran berharap semoga ke depannya siswa semakin didorong untuk mengikuti lomba, karena sebenarnya di dalam diri anak-anak ada bakat terpendam yang harus diasah. “Debat menjadi lomba andalan untuk sekolah Athirah, baik untuk menjadi juara maupun disegani oleh sekolah-sekolah lain” tambah pria berdarah Bima tersebut (Idn.Sb)

Previous PostSiswa Kelas IX SMP Islam Athirah Bone Hadapi Sidang Artikel Ilmiah
Next PostPiala Bergengsi ada di Athirah Bone