Meraih Kebersamaan Allah subhanahuwata’ala (Bagian 1)
Penulis : Andi Hasanuddin,L.c
Setiap orang ingin merasakan kesuksesan hidup. Setiap individu,
ingin agar segala perkara dan urusannya berjalan lancar, bahkan ketika mendapat
hambatan, mereka ingin agar hambatan-hambatan tersebut segera teratasi. Entah dengan
cara bagaimana dan seperti apa.
Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ada banyak lika dan liku,
sebagai hamba Allah subhanahuwata’ala, manusia tidak bisa lepas dari-Nya,
mereka senantiasa ada di dalam genggaman dan pengawasan-Nya, mukminkah ia, atau
kafir. Allah senantiasa membersamai hamba-hamba-Nya (ma’iyyatullah).
Secara global, ma’iyyatullah terbagi atas 2 bentuk
yakni umum dan khusus. Adapun yang umum adalah dalam bentuk muroqabah
(pengawasan). Allah subhanahuwata’ala mengawasi seluruh hamba-Nya,baik mukmin,
munafik maupun kafir.
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padanya; tidak ada yang
mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada
sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji
pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering,
yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (lauhulmahfuzh)” (Q.S. Al-An’am: 59)
Ada pun yang khusus adalah dalam bentuk hidayah, curah atau
taufiq, pertolongan, bimbingan, penjagaan Allah dan lain-lain. Kategori ini
Allah khususkan untuk hamba-hamba-Nya dari kalangan para nabi, rasul, dan
orang-orang mukmin lainnya. Untuk kategori kedua ini, ada begitu banyak contoh nyata
yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah kisah yang cukup
familiar yang sering dikisahkan oleh para da’i saat mengenang momentum hijraturrosul
ke Yatsrib (Kota Madinah).
Kisah
lengkapnya sebagaimana dituturkan oleh teman hijrah Beliau, Abu Bakar As-Siddiq
radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam
kitab Shahihnya: “Saya berkata kepada Nabishallallahu ‘alaihi wasallam ketika
saya dalam gua,“sekiranya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua
kakinya, maka kita akan kelihatan.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu,
wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.”
Di atas adalah satu contoh kisah tentang(ma’iyyatullah) kebersamaan Allah subhanahuwata’ala dengan hamba-Nya yang bersifat khusus kepada orang-orang khusus-Nya (pilihan-Nya). Kebersamaan Allah dalam bentuk pertolongan kepada Rasulullah dan sahabat Beliau dari kejaran orang-orang kafir Quraisy yang bernafsu untuk membunuhnya. Mereka menyangka, ketika membunuh Rasulullah, maka cahaya dakwah tauhidullah akan padam. Mereka menyusun makar (tipu daya) untuk membunuh Rasul, kekasih Allah, tapi Allah jugalah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Editor : Hasniwati Ajis (Tim Web SMP Islam Athirah 1 Makassar)

