image

Rumus ILC dalam BRIDGE Educator Workshop

Australia-Indonesia BRIDGE School Partnerships Program menggelar kegiatan BRIDGE Educator Workhsop selama dua hari melalui aplikasi konferensi video Zoom Meeting yang diikuti 169 partisipan. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 8 s.d 9 April 2021 dan diikuti oleh perwakilan Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah serta guru-guru dari beberapa wilayah di Indonesia. Kegiatan BRIDGE Educator Program diperuntukkan bagi perwakilan dari sekolah dan madrasah yang telah bergabung dalam program BRIDGE.

SMA Islam Athirah 1 Makassar bergabung dalam program BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) sejak tahun 2009 bersama SMP Negeri 2 Patalassang Gowa, SMA Negeri 2 Makassar, SMA Negeri 17 Makassar, SMA Kartika Chandra Kirana, dan SMA Katolik Rajawali yang merupakan angkatan pertama dari program BRIDGE. Program BRIDGE ini merupakan program kemitraan Sekolah BRIDGE Australia-Indonesia.

Australia-Indonesia BRIDGE School Partnerships Program rutin mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru maupun kepala sekolah tentang berbagai hal yang terkait dengan profesi pendidik. Baru-baru ini BRIDGE juga mengadakan workshop yang melibatkan siswa.

Dalam kegiatan BRIDGE Educator Workshop ini setiap sekolah dan madrasah diwakili oleh 3 peserta (1 orang kepala sekolah/wakasek dan 2 orang guru yang telah bergabung dengan program BRIDGE). Untuk SMA Islam Athirah 1 Makassar perwakilan Wakil Kepala Sekolah oleh B.J. Gunawan, S.Pd., M.Pd. dan untuk guru diwakili oleh Rismawati Razak, S.Pd., M.Si. dan Yusminiwati, M.Pd.

Kegiatan BRIDGE Educator Workshop ini dikemas sangat menarik dalam proses dialog dan semi konseling. Sehingga selama workshop tercipta suasana belajar yang santai dan partisipatif dari para peserta. Pemateri pada hari pertama kegiatan adalah Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. Beliau adalah Guru Besar Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia. Selama pemaparan materinya diselingi dengan pertanyaan langsung kepada beberapa peserta sambil melakukan semi konseling. Adapun materi yang dibahas Prof. Juntika adalah mengenai Supporting Physical and Mental Wellness for Educator in Digital Era, yaitu bagaimana menjadi pendidik yang sehat dan profesional di era digital.

Dalam pemaparannya, Prof. Juntika menyampaikan jika ingin sukses, ingin sehat, gunakan rumus ILC.

“Kalau kita ingin sukses, kalau kita ingin sukses membantu orang lain, kalau kita ingin sehat maka kita harus mempunyai rumus ILC. Apa itu ILC? Intelligent, Love, Care”.

“Intelligent (cerdas), artinya kita harus cerdas menghadapi permasalahan hidup. Love (cinta), mengandalkan kecerdasan saja tanpa cinta tidak akan bermakna hidup ini. Cintailah anak setulus hati, cintailah profesi setulus hati, dan yang tidak kalah penting cinta itu perlu pengorbanan. Tidak bisa kita mengatakan cinta tanpa ada pengorbanan, tidak bisa kita mengatakan cinta tanpa ada kepedulian, atau Care (kepedulian). Bagaimana sekolah bisa maju? Karena adanya saling peduli,” ucap Prof. Juntika.

Pemateri pada hari kedua selain Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd., pemateri lainnya  adalah DR. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog; Dr. Mubiar Agustin, M.Pd., dan Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. Keempat pemateri  merupakan staf dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Adapun materi yang dibahas pada hari kedua adalah mengenai Aplikasi dan Implementasi Physical and Mental Wellness dalam profesi sebagai pendidik.

 

Penulis: Yusminiwati (Tim Humas SMA Islam Athirah 1 Makassar)

 

Previous PostSalut! OSIS dan MPK Adratama Menggelar Kegiatan 1000 Buku
Next PostKeren, Bangkitkan Kreativitas dimasa Pandemi SMP Islam Athirah Bukit Baruga Gelar AKSI BUMI 2021 Tingkat Nasional