image

MENANTI NAKHODA BARU ATHIRAH


Oleh Tawakkal Kahar

Melihat teori munculnya pemimpin, maka dapat digolongkan menjadi tiga yaitu secara genetis, sosial, dan ekologis. Ketiga teori ini dapat diurai sebagai berikut: 

 1) Teori Genetis

   Pemimpin itu tidak dibuat tapi karena bakat-bakat alami yang luar biasa sejak lahirnya, makanya ia di takdirkan lahir  menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi apapun.

 2) Teori Sosial

   Pemimpin itu harus disiapkan, dididik, dan dibentuk, sehingga setiap orang bisa menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta di dorong oleh kemauan sendiri.

 3) Teori Ekologis

   Seorang akan sukses menjadi pimpinan jika sejak lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, dimana baka-bakat itu ditempa dan dikembangkan melalui pengalaman dan usaha  pendidikan, juga adanya kesesuaian dengan tuntutan lingkungan   atau ekologis.

Menelaah ketiga teori di atas, secara umum teori yang sering muncul dalam ranah lembaga pendidikan yaitu teori social dan teori ekologis, dimana ada bakat kemudian dikaderisasi serta di perkuat dengan pendidikan dan pelatihan yang relevan.

Beberapa waktu lalu keluarga besar Sekolah Islam Athirah memberikan suaranya untuk pemilihan bakal calon direktur melalui google forms, dari hasil survey keluar 5 besar perolehan suara dari kalangan internal Athirah. Kelima nama itu adalah Bapak H.M. Ridwan Karim, Patris Hasanuddin, Mas Aman Uppi, H. Abd Azis, dan Khasan. Nama ini tidak asing lagi dikalangan guru karyawan karena ada yang pernah menjabat kepala unit sekolah dan bahkan masih ada yang menjabat sebagai kepala departemen saat ini.

Menguji komitmen dan arah baru orientasi sebagai bakal calon punggawa dalam membawa sahi’ dan perahu besar Athirah ke depan berlayar di lautan pendidikan, maka diuji publik lewat pemaparan visi dan misi di hadapan civitas Sekolah Islam Athirah. Sangat seru, terasa lebih seru dalam debat capres dan cawapres, apatahlagi di moderator Sir Didin yang energik, sepertinya moderator sudah mempersiapkan konsep dan strategi  yang elegant. Tak disangka satu kandidat mengundurkan diri sebelum pemaparan visi yaitu Bapak H. Abd. Azis,  kemudian ia menyerahkan harapan-harapannya kepada empat kandidat lainnya. 

Dari keempat kandidat yang telah memaparkan visi dan misi, akhirnya dilakukan voting suara lewat google forms, dilayar terpampang perolehan suara setiap kandidat. Sesuai kesepakatan moderator diawal pemaparan bahwa akan dipilih 3 besar lagi setelah pemaparan, dan akhirnya terpilih 3 besar perolehan suara, akhirnya terpilihlah 3 besar suara yaitu Pak Patris, Pak Aman, dan Pak H.M. Ridwan.


Figur Berintegritas dan merakyat

Salah satu ciri figur pemimpin yang berintegritas berjiwa merakyat adalah ketika ia mendasari cara pandang pikirnya bahwa menduduki puncak pimpinan bukanlah tujuan melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi yang dipimpinnya serta membawa lembaga kearah yang lebih baik sesuai visi dan misi lembaga.

Dalam aliran psikologi humanistik (Abraham Maslow dan Stephen Covey) bahwa figur pemimpin yang berintegritas adalah mereka yang memiliki nurani atau kewibawaan moral kepemimpinan yang kuat  seperti minimnya masalah penyimpangan moral, rendah hati, tidak bermotif materi, satu kata dan perbuatan.

Tentunya mereka yang masuk tiga besar adalah figur terbaik dan semoga  memiliki aliran psikologi humanistik. Figur-figur ini secara kepemimpinan dalam perjalanannnya di Athirah tidak diragukan lagi, sudah malang melintang dalam memimpin unit-unit sekolah dan tentunya paham harapan akar rumput sampai di pohon pucuk pimpinan. Disinilah dibutuhkan prototype calon nakhoda Athirah yang merakyat, karena merakyat maka ia memahami budaya warga athirah dan karena merakyat maka diharapkan bisa menggiring budaya warga athirah menuju budaya KALLA.


Kepemimpinan Transformatif

Kemajuan suatu lembaga pendidikan tidak lepas dari faktor internal lembaga itu seperti sumber daya manusia, pemimpin lembaga, motivasi kerja dan kinerja. Pemimpin dan kepemimpinan di lembaga pendidikan hal yang sangat urgent dalam mempengaruhi guru dan karyawannya dalam mencapai tujuan lembaga.

Kurang lebih 500 guru karyawan Athirah, rasanya dibutuhkan pemimpin yang kuat  yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang baik, membina kerjasama, mendorong dan mengarahkan guru karyawan sehingga gairah bekerja lebih sehat dan dapat memunculkan niat  dan kinerja yang maksimal.

Gaya kepemimpinan transformasional, rasanya juga bisa menjadi solusi dalam melihat wajah Athirah untuk bergerak bersama mencapai tujuan. Dalam beberapa buku dan artikel yang membahas gaya kepemimpinan transformatif, maka sangat jelas di urai bahwa gaya kepemimpinan ini adanya pemimpin yang memberikan perhatian intens dan mampu menerapkan stimulasi intelektual kepada timnya seperti bagaimana cara menganalisa suatu sistuasi dan bagaimana cara agar tim kreatif dalam mengembangkannya.  Sehingga  kepemimpinan transformatif  itu adalah adanya kemampuan  sang pemimpin dalam menginspirasi  timnya untuk  melampaui kepentingan pribadi mereka dimana tim merasakan dampak positif yang mendalam dan luar biasa atas hasil yang dicapainya.

Menurut bass dan Avolio dalam Yukl (2010:305) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yaitu:

 a. Karismatik

   Digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya menghormati dan mempercayainya.

 b. Motivasi yang menginspirasi

   Digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi timnya dan mampu menggugah spirit tm dalam organisasi melalui penumbuhan antusiasme dan optimism.

 c. Stimulasi intelektual.

   Digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang mampu menumbuhkan hal-hal baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi tim dan mencari pendekatan yang kreatif pula dalam  elaksanakan tugas-tugas organisasi.

 d. Perhatian secara individual

   Digambarkan sebagai pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan tim dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tim untuk pengembangan karir. 

Melalui penjaringan bakal calon nakhoda dari  internal, rasanya telah mengakomodir satu harapan insan athirah dengam keinginannya untuk dipimpin dari internal. Namunpun demikian “HHC” atau Harap-harap cemas, hasil akhir kita tunggu bersama penetapan dari ketua Yayasan Kalla setelah kandidat melalui tahapan-tahapan tes baik tertulis maupun wawancara dari tim penyeleksi. Eitss..calon eksternal tidak menutup kemungkinan akan menjadi bursa juga, sehingga prosesi tes dan penetapan ditingkat yayasan tentu lebih menarik untuk cerita selanjutnya. Kita tunggu sama-sama hasilnya.


(Teras rumah,  awal  Maret 2019)

#Tawakkal Kahar.

Previous PostSiswa SMA Islam Athirah Bukit Baruga Dibekali Metode Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Next PostSISWA SMA ISLAM ATHIRAH KAJAOLALIDO OBSERVASI KAMPUS UNHAS & UNM