Kurban: Wujud Menyembelih Sifat Kebinatangan Manusia
Beberapa hari lagi kita akan memperingati sekaligus melaksanakan hari raya umat Islam yakni Hari Raya Idul Adha. Setelah menunaikan salat Ied secara berjamaah, maka kemudian kita menyembelih binatang kurban, yang semuanya ini merupakan rangkaian ibadah sebagai bukti pengabdian kita yang sangat tulus kepada Allah SWT.
Semangat berkurban merupakan salah satu muatan yang paling menonjol dalam peristiwa Idul Kurban, dimana digambarkan seorang bapak, Nabi Ibrahim a.s., harus rela anaknya mati di tangannya sendiri. Pengorbanan dan ketauhidan kepada Allah SWT yang ditunjukkan oleh nabi Ismail a.s. sebagai seorang anak pun menjadi sebuah ibrah dari kejadian ini, meski harus nyawa sebagai taruhannya.
Ketika setiap bulan bahkan setiap hari kita mendapatkan rejeki, kita mampu membeli perhiasan dan perlengkapan hidup lainnya, seperti mobil, HP, laptop, dan lainnya yang notabene semuanya itu adalah nikmat. Tetapi ketika kita dihadapkan kepada ibadah kurban, sering kita tidak mampu melaksanakannya. Hal ini pada hakikatnya adalah ujian. Apakah dengan nikmat yang telah didapatkan manusia tersebut tetap membuat mereka mengingat Allah SWT yang telah memberinya nikmat, atau sebaliknya, manusia ingkar terhadap nikmat tersebut.
Nabi Ibrahim a.s. dan Siti Hajar sebagai orang tua rela berkurban melepas anak kesayangannya, buah hati yang kehadirannya sangat didambakan. Kemudian nabi Ismail a.s yang dengan rela dan ikhlas dikurbankan sekalipun harus mati di tangan orang tua yang sangat dicintainya. Maka kita juga seharusnya rela berkurban menyisihkan rejeki untuk menyembelih binatang kurban, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat Allah swt.
Mari kita evaluasi diri kita: Apa yang telah kita korbankan untuk agama Allah SWT.? Renungilah, menangislah ketika pengorbanan kita kepada Allah SWT. tidak sebanding dengan semua nikmat yang telah diberikan. Bahkan Allah SWT berfirman, “Jika engkau ingin menghitung nikmat-Ku tentu kamu tidak dapat menghitungnya”. Ibrahim telah mengorbankan Ismail. Kemudian pertanyaan untuk kita semua, Apa 'Ismail' kita di tahun ini?
Hakikat kurban sebenenarnya menjadi momentum yang tepat untuk meneladani keluarga Ibrahim sebagai sarana menyembelih sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita. Menyembelih hewan adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang menyesatkan, yang sering kali tidak peka, dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Dengan demikian, sudah saatnya dengan semangat Idul kurban, sejatinya manusia harus mampu menyembelih watak buruk dan sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya seperti: rakus, serakah, zalim, saling membunuh, tidak mengenal hukum, norma dan etika. (Sahril_Tim Athirah Bone Web (@sa.hri.l)

