AGAMA DALAM KEHIDUPAN
Berbicara tentang Agama memerlukan sikap yang ekstra hati-hati. Sebab, sekalipun agama merupakan
persoalan sosial, tetapi penghayatannya bersifat individual. Apa yang dipahami
dan dihayati oleh sebagian orang, bergantung pada latar belakang dan
kepribadiannya. Hal tersebut yang kemudian membuat pemahaman beragama seseorang
dapat berbeda dengan pemahaman beragama orang lain. Maka dari itu, agama
senantiasa bersangkutan dengan kepekaan emosional.
Beragama merupakan
kebutuhan manusia secara esensial dan sangat natural. Pada hakikatnya, tidak
ada perbedaan yang mendasar antara peranan agama dalam kehidupan modern maupun
primitif. Karena agama tidak lain adalah pemenuhan kecenderungan alamiahnya
sendiri, yaitu kebutuhan akan ekspresi rasa kesucian.
Indonesia merupakan
negara maju dan dengan masyarakat yang modern, namun Indonesia juga meghadapi
persoalan modern. Adapun dalam hubungannya dengan agama adalah, apakah
Indonesia masih mampu berperan dalam memberikan alternatif cara hidup yang
tidak begitu terikat pada ukuran-ukuran materiil. Alternatif tersebut harus
mampu dikemukakan di depan, artinya tidak setelah terlanjur hancur karena
kegagalan dalam usaha mencapai kemakmuran materiil.
Agama, betapapun akan sangat dibutuhkan manusia, dan dengan demikian agama tetap berperan. Sebab seperti yang dikatakan oleh Julian Huxley: “Manusia selalu concerned dengan nasibnya”. Agama akan selalu melekat pada jiwa dan kepribadian seseorang yang menganutnya.
Makassar, 28 Agustus 2020
Nirwana Amir, S.Ag

