Mengikuti Kebijakan Learn From Home yang Ditetapkan Pemerintah, Begini Proses Belajar Mengajar (PBM) Online yang Diterapkan Sekolah Islam Athirah Bone
Sebagian besar pemerintah di seluruh dunia telah menutup sementara lembaga pendidikan dalam upaya untuk menahan penyebaran pandemi COVID-19. Penutupan ini merupakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah harus memastikan kesinambungan pembelajaran antara guru, siswa, dan orang tua. Kebijakan dengan meniadakan seluruh aktivitas pendidikan ini, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menghadirkan alternatif sebagai proses belajar mengajar secara online.
Sekolah Islam
Athirah Bone telah menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar dari jarak
jauh dengan memanfaatkan aplikasi pembelajaran online yang ada seperti google
classroom, zoom, telegram dan whatsapp. Siswa dituntut
untuk banyak belajar mandiri didampingi oleh orang tua, dan mereka juga tidak
dibebani dengan menuntaskan kurikulum yang ada sebelumnya, melainkan lebih
banyak diedukasi tentang bagaimana menyikapi hidup di tengah wabah virus COVID-19. Absensi sebelum PBM dan kontrol pengumpulan
tugas, serta diskusi di grup whatsapp atau google classroom dapat menjadi
solusi agar PBM online tidak pasif.
Selama work from
home (WFH) dan Learn from home (LFH), guru dan siswa Sekolah Islam
Athirah Bone melakukan proses pembelajaran layaknya di sekolah. Pembelajaran
berlangsung secara aktif, sesuai dengan jadwal masing-masing. Mulai dari subuh,
pembina asrama mengecek atau membangunkan seluruh siswa dan tetap mengotrol
kegiatan subuh, serta sholat tahajjud masing-masing siswa sebagaimana yang
biasa dilakukan di sekolah. Kemudian pada pukul 06.00 wita, siswa melakukan pembelajaran
tahfidz berupa setoran hafalan ke guru tahfidz masing-masing melalui video
call. PBM tahfidz ini berlangsung hingga pukul 06.45 wita. Setelah itu siswa berberes
beres dan melakukan perwalian pada pukul 07.45 wita dengan wali kelas
masing-masing sekaligus pengontrolan siswa yang tidak aktif, tidak hadir,
sakit, atau memiliki masalah pada hari itu. Perwalian ini dilakukan dengan menggunakan
aplikasi zoom untuk memantau siswa secara bersamaan.
Demi memudahkan aktivitas PBM online,
Athirah Bone mengadakan pengurangan jadwal mata pelajaran. PBM normal biasanya
dilakukan dari pukul 08.00-15.00 wita, namun dikurangi menjadi pukul 08.00-11.40
wita. PBM regular ini dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi whatsapp
group, telegram, ataupun google classroom.
Untuk
meringankan beban siswa selama PBM online ini berlangsung, Athirah tidak fokus
untuk menuntaskan kurikulum yang ada tetapi lebih menekankan pada kacakapan
hidup siswa, dan bagaimana agar siswa paham tentang apa itu virus COVID-19,
bagaimana cara penyebarannya dan bagaimana cara pencegahannya. Oleh karena itu,
tugas yang diberikan kepada siswa memiliki
integrasi yang dapat menambah pengetahuan siswa tentang virus COVID-19. Seperti,
pada kelas prakarya membahas tentang tanaman-tanaman herbal untuk
meningkatkan imun dalam melawan virus COVID-19, kelas matematika materi
statistika menghitung perkembangan warga yang positif virus COVID-19 dan yang
meninggal akibat COVID-19, kelas PKN tentang kebijakan-kebijakan pemerintah
yang diterapkan selama virus COVID-19 mewabah.
Bagi siswa yang tidak aktif ataupun
terlambat, langsung dikonfirmasi oleh wali kelas dibantu oleh guru BK. Guru BK tetap
melakukan kontrol aktivitas keseharian dan karakter siswa selama di rumah. Kemudian,
untuk siswa yang memiliki laporan tidak hadir, terlambat, atau tidak
mengumpulkan tugas dari guru mata pelajaran tetap diberikan perlakuan
sebagaimana yang sering dilakukan di sekolah. Guru BK tetap melakukan
pemantauan dan penguatan agar siswa tidak ada yang tidak mengikuti
pembelajaran. Namun tetap diberikan keringanan bagi siswa yang mengalami
kesulitan seperti, tidak memiliki akses internet dan teknologi.
Selama PBM online ini berlangsung,
ada banyak kendala yang dihadapi guru dan siswa, salah satunya bagi mereka yang
tinggal di daerah pedesaan yang tidak mudah untuk memiliki akses internet.
“Ada guru yang harus ke gunung di tengah teriknya matahari demi
mendapatkan akses internet, ada juga beberapa siswa yang terkendala dengan
akses internet sehingga sulit untuk mengikuti proses belajar mengajar online. Ini
mungkin menjadi salah satu kendala bagi Athirah wilayah Bone selama pelaksanaan
PBM online ini. Selain itu juga ada siswa yang tidak memiliki hp krn siswa
kebanyakan jalur beasiswa, jadi ada beberapa siswa yang menggunakan handphone
kakaknya atau bahkan pinjam handphone tetangganya.” tutur andi Reski Citra
Rahmayani, S.Pd selaku wakasek kurikulum dan SDM SMA.
Selain sulitnya mendapatkan akses
internet dan tidak mempunyai perangkat yang mendukung, biaya pulsa internet
yang membengkak juga menjadi salah satu yang dikeluhkan oleh beberapa siswa.
Adapun nilai positif yang dapat dirasakan selama PBM jarak jauh ini berlangsung adalah
meskipun di rumah tetapi siswa tetap memiliki kegiatan positif dan itu
benar-benar terkontrol sehingga siswa tidak keluar rumah. Selain itu juga, siswa menjadi melek teknologi
seperti yang diutarakan oleh Erwin B,
S.Pd selaku wakasek kurikulum & SDM SMP
“Positifnya
anak-anak akan lebih paham dengan teknologi dan mempunyai lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga serta dapat membangun hubungan
emosional antara orangtua dan anak. Harapannya, walaupun Learn From Home siswa tetap
mendapatkan layanan secara maksimal”
Banyak pula orang tua yang
mengirimkan testimoni positifnya, karena melihat secara langsung pembelajaran
yang diberikan kepada siswa.
“Selama belajar di rumah, ini sekaligus menjadi evaluasi bagi orang
tua terkait dengan pembelajaran yang selama ini berlangsung di sekolah. Dan Alhamdulillah
rata-rata orang tua memberikan pendapat atau komentar yang positif terkait
dengan pengawalan dan pendampingan yang dilakukan ke siswa selama berada di
rumah melalui aktivitas–aktivitas yang telah dijadwalkan.” Reski Citra
Rahmayani, S.Pd selaku wakasek kurikulum dan SDM SMA.
Pandemi COVID-19 ini memang sebuah ujian yang berat bagi seluruh bangsa, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dengan terus berupaya serta berikhtiar mencari solusi pada setiap masalah yang ada.
Nurwaqiyah
(CI Officer Sekolah Islam Athirah Bone)

