PASANTREN BINTANG 7
Penulis : Ustadz
Risman, S.Pd
Semakin banyak bintangnya semakin bagus pula pelayanan dan kemewahan yang didapatkaan dari suatu
tempat. Seperti hotel yang pasti, jika bintangnya
banyak maka semakain waah dengan segala fasilitasnya. Pertayaannya, apakah Pesantren
memiliki segala fasilitasnya yang serba
berlimpah? Berharaplah…! Umpama hotel
yang pasti jika bintangnya banyak maka
semakain wah dengan segala fasilitasnya. Tapi tunggu dulu, pastinya fasilitas
yang bagus di sertai pula dengan harga
yang akan merogoh kantong dengan bagus pula.
Menetap hanya sesaat tidak untuk selamanya, begitukah
orang mendefinisikan hotel. Sepertinya
juga sama dengan pesantren kita menetap tidak untuk selamanya. Muncullah
persamaan yang mana hotel dan pesantren sama tempat menetap
sesaat, terfasilitasi namun dengan manfaat yang berbeda tujuannya.
Sebagai santri kadang kala
pesantren di juluki penjara suci, terdengar sufi sekali namun begitulah
tepatnya. Hotel yang biasanya ada pelayan yang sigap melayani dengan segala
keinginan berganti menjadi hal yang sulit bahkan tak pernah ada.
Kemandirian seorang santrilah
yang ingin ditempa disini. Tempat penjara suci yang hanya terdengar suara pembina
maupun pengasuh tapi itu hanyalah sebatas masukan dan saran, sementara
pengerjaan dan praktiknya tetap pada nafsi-nafsi.
Di hotel kamar-kamar itu yang
berantakan juga kotor karna ulah kita sendiri dan akan siap untuk di bersihkan,
tidak hanya kamar namun juga seprei, gelas, kamar mandi semau di bersihkan
hingga sebersih-bersihnya. Betapa nikmanya hidup ini, kita tidak perlu
berlelah hanya berleha.
Demikian pesantren, ada teman
yang harus diajak untuk kompromi dan berbagi. Kasur bertingkat tidak dengan
king bed yang super empuk. Ada juga bahkan yang kita tidak menggunakan kasur,
hanya tikar namun rasanya nyaman melebihi
semua kasur terempuk di sebuah hotel manapun. Kurasa karna factor
Lillah. Dan itu hanya dapat dirasakan di pesantren saja.
Yang tak kalah lagi urusan makan,
jangan menjadi pemilih ataupun telat dari batas waktu yang ditentukan. Menunggu adalah penguji kesabaran
namun itulah kunci kekenyangan. Bisa karna diawal antrian mendapat beberapa lauk tambahan bisa juga
karna awal antrian pembagi merasa senang karna ketepatan waktu kita.
Hotel juga tempatnya rasa sejuk nan
dingin, hawa AC yang sepoi-sepoi tertiup dalam kamar yang tak bersusah payah
hanya mainkan remot control. Sementara di pondok sendiri, jangankan AC selembar
kardus airpun sudah terasa sangat berharga dan bisa sangat dinikmati dengan
nyaman yang tak kalah dari AC hotel.
Mengeluh tak harusnya menjadikan kita membuat selalu
hal kecil menjadi terllihat rumit.
Pesantren memang serupa hotel namun tak senyaman itu tapiitulah kebahagian.
Pesantren ada untuk mengajarakan menimpa menjadi pribadi yang mampu nyikapi situasi dengan
pandangan yang bijak.
Susah tak membuat runtuh, senangpun dinikmati dengan rasa syukur. Jika dihotel mendapatkan sandal baru, maka di pesantren siaplah untuk ikhlas berbagi sendalmu. Segalahal akan menjadi pendidikan saat kenyamanan disisihkan dan fokuslah pada segala pembelajaran. Mengapa pesantren berbintanng 7 ? karna semanyaman apapun hotel tak mampu menjadikanku gagah dengan fasilitasnya melainkan pesantren dengan kemandirianku menempa diri menjadi lebih gigih tampak gagah.
Editor : Ners Irwan
Duhung. (Team web Asrama Athirah Baruga)

