Pendidikan Karakter Sejak Dini
Semakin maraknya
korupsi yang terjadi di Indonesia yang terus meningkat tiap tahunnya,
menunjukkan betapa kurangnya moralitas yang dimiliki oleh beberapa individu
para pemimpin kita. Seperti halnya baru-baru ini, seorang menteri dibekuk
karena terlibat kasus penyalahgunaan jabatan yang semakin menambah daftar
panjang kriminalitas yang terjadi di antara kalangan atas masyarakat negeri
ini. Seakan semuanya hanya hal lumrah yang membuat masyarakat tidak merasa
asing lagi. Kejadian tersebut juga semakin mengurangi tingkat realibilitas dan
kepercayaan masyarakat terhadap para individu yang mengaku sebagai perwakilan
yang mengatasnamakan rakyat. Jika kita menelaah lebih jauh, sebenarnya penyebab
dari segala tindak kriminal ini sangatlah sederhana.
Sejak dini,
generasi muda kita memang tidak pernah diajarkan apa yang paling mereka
butuhkan sebagai persiapan bertahan hidup sebagai orang dewasa. Apa yang
ditanamkan kedalam kepala mereka hanyalah bagaimana untuk mendapatkan nilai dan
hasil terbaik. Padahal nilai tinggi bukanlah jaminan untuk mendapatkan hidup
sukses yang mereka dambakan. Yang tidak diajarkan kepada mereka adalah
bagaiamana menjalani proses yang panjang untuk mendapatkan hasil yang lebih
baik. Tidak heran, mereka berpikir secara instan dan menghalalkan segala cara
dalam mendapatkan mereka yang inginkan, juga selalu berkompetisi dan
menjatuhkan satu sama lain untuk menjadi yang teratas. Bagaimana tidak, setiap
institusi pendidikan di zaman sekarang terlalu memaksa dan menumpuk berbagai
macam pelajaran dan ilmu yang hanya bersifat textual tanpa benar-benar
mengajarkan cara beradab di dalam menjalani kehidupan mereka. Padahal apa yang
sejatinya mereka butuhkan adalah pendidikan karakter untuk mengajarkan para generasi
muda kita cara bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Akan menjadi percuma bila
seseorang memiliki ilmu yang tinggi tanpa ditemani dengan adab yang bisa saja
ilmunya digunakan untuk mengakali dan membodohi orang lain.
Sebagai institusi
pendidikan formal, sekolah harusnya menjadi tempat untuk mendapatkan pendidikan
bukan hanya ilmu tentang pelajaran. Namun kurangnya kesadaran pemerintah akan
hal ini terkadang membuat masalah ini menjadi terabaikan. Mari kita menengok ke
negeri sakura, Jepang. Sekolah di negeri ini tidak mengajarkan pelajaran umum
kepada anak-anak di kelas satu sampai kelas 3 melainkan hanya mengajarkan
bagaimana bersikap dan sopan santun serta dihilangkannya sistem perangkingan
dalam kelas. Masyarakat mereka sadar bahwa masa emas anak-anak berada di umur
tersebut, sehingga mereka menanamkan pondasi di dalam diri mereka untuk menjadi
pribadi yang tangguh dan mampu menghargai orang lain. Berpindah ke Negara
Skandinavia, Finlandia yang termasuk salah satu Negara dengan sistem pendidikan
terbaik di dunia. Di Negara ini, anak-anak diajarkan sesuai bakat dan minat
mereka sehingga mereka dapat belajar dengan ikhlas dan tidak merasa terbebani.
Juga tidak ada sistem yang memberatkan para siswanya mengerjakan hal yang
mereka tidak inginkan. Mereka mengerti bahwa menumpuk semua pelajaran di kepala
anak-anak justru akan membuat mereka depresi. Bagaimana dengan Negara kita?
Tentunya kita tidak kekurangan para pengajar yang berkualitas namun justru
“mungkin”, pengajar yang ikhlas. Para pengajar kita hanya terpaku dengan sistem
yang itu-itu saja tanpa pernah memikirkan apa yang sebenarnya anak-anak kita
butuhkan.
Faktor lain juga
yang menjadi penyebab kurangnya moralitas masyrakat kita adalah tidak lain
karena lingkungan dimana kita berinteraksi. Anak-anak cenderung meniru apa yang
mereka lihat, sehingga tidak heran ketika mereka berteman dengan seseorang yang
memiliki permasalahan sikap maka mereka juga akan ikut menjadi bermasalah.
Ditambah dengan beberapa kasus orangtua yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka
sehingga tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka dalam
mengajarkan bagaimana bersosialisasi di dalam masyarakat. Beberapa diantara
mereka bahkan menjadi introvert dan tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya. Budaya dan tekhnologi juga menjadi faktor penyebab masalah terbesar
dalam perubahan sikap tiap individu. Budaya kebarat-baratan yang tidak sesuai
dengan norma sosial masyarakat kita mulai menjajah dan mengikis budaya kita
sedikit demi sedikit. Misalnya saja, gaya hidup hedonis yang sering
digembor-gemborkan di sosial media menjadi salah satu gaya hidup yang ditiru
oleh masyarakat kita sehingga menjadi penyebab berbagai tindak kriminal yang
terjadi dimana-mana.
Untuk itulah,
bagaimana pentingnya kita untuk selalu sadar bahwa anak adalah investasi paling
besar dalam hidup kita. Kita perlu meluangkan waktu untuk mendidik dan
mengajarkan mereka untuk memilliki pribadi yang berakhlakul karimah. Apalah
gunanya kita terlalu sibuk bekerja jika ternyata keluarga kita tersesat di
dalam kehidupan yang tidak baik dan menjadi bibit generasi pelaku tindak
kriminal. Sesungguhnya semua ini bisa dimulai didalam keluarga, karena
keluargalah asal dari semua pemikiran dan tingkah laku anak-anak akan
terbentuk.

