image

TAUBAT

Penulis : Mardianto,SQ. (Guru Tahfidz SMP Islam Athirah 1 Makassar)

Manusia merupakan makhluk Allah yang bahkan disebutkan sebagai tempat salah dan lupa. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, dan karenanya Allah menyediakan sarana taubat, termasuk shalat. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan karenanya Allah justru akan menggantikan kaum yang tidak pernah berbuat kesalahan. Seandainya kaum itu ada.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, Allah akan menggantikan kalian dengan mendatangkan kaum yang mereka berbuat dosa kemudian memohon ampun kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka. (H.R Muslim).

Ada dua titik ekstrim bagi orang yang berdosa. Yang pertama adalah mereka yang merasa dosanya terlalu besar hingga putus asa dari ampunan Allah. Maka, ia pun tidak kunjung bertaubat karena kekhawatiran taubatnya tidak diterima. Dan ekstrim kedua adalah mereka yang merasa dosa-dosanya mudah terhapus, hanya dosa-dosa kecil, sehingga membuatnya berlarut-larut dalam dosa demi dosa. Kalaupun bertaubat, ia hanya melakukan sekedar taubat. Sekarang berhenti nanti atau besok Kembali mengulangi. Tidak pernah sungguh-sungguh melakukan taubat nasuha.

Untuk ekstrim pertama, lihatlah bagaimana seorang yang telah membunuh 99 nyawa. Saat dia bertanya kepada ahli agama apakah ada kesempatan bertaubat, ternyata dijawab tidak bisa. Lalu ia pun dibunuh sebagai orang ke- 100 yang mati di tangannya. Niatnya bertaubat tidak berhenti. Ketika bertemu seorang alim, ia pun mengajukan pertanyaan yang sama. Kemudian dijawab kalua dosanya bisa diampuni. Dan sebagai upaya taubat nasuha, ia dianjurkan hijrah ke suatu daerah yang kondusif bagi taubatnya. Di tengah jalan ia meninggal. Sehingga berdebatlah Malaikat rahmat dan Malaikat azab, orang ini menjadi urusan siapa. Keduanya lalu mengadukan perselisihan  ini kepada Allah yang berakhir dengan ampunan bagi pembunuh yang benar-benar berniat bertaubat ini.

Adapun dosa kecil, seringkali kita terjebak pada sikap meremehkannya. Saat kita ghibah, bercanda yang sudah masuk kategori rafats, kita beralasan itu kan dosa kecil, tidak ap-apa. Padahal orang yang meremehkan dosa ia tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Siapakah yang ia maksiati ? Allah Azza wa Jalla, Yang Maha Besar dan Maha Keras azab-Nya. Jika kita mau memahami sesungguhnya tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. Ibarat sebuah bintik noda, dosa kecil pun akan mengotori hati. Semakin banyak dosa semakin banyak pula noda di hati.

Marilah kita sambut seruan Allah untuk bertaubat sebelum kita terlambat. Allah menyediakan waktu taubat kita terbentang hingga sakaratul maut datang. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda :

Yang artinya : 

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selagi ia belum sekarat (H.R Tirmidzi)


Editor : Hasniwati Ajis (Tim Web SMP islam Athirah 1 Makassar)

Previous PostKawal Budaya dan Karakter Sekolah, Athirah Bone Kukuhkan Siswa Culture Agent
Next PostTadarus Daily sebagai Booster Iman Siswa SMP Islam Athirah 1 Makassar