Mengapa Berlatih Menulis?
"Ikatlah ilmu dengan menuliskannya", kata Ali bin Abi Thalib r.a yang dikutip oleh Mas Hernowo di bukunya Mengikat Makna. Maksudnya menulis menjadi jalan untuk membuat ilmu yang kita pelajari tidak lepas atau terlupakan.
Setiap hari kita mendapatkan ilmu dari aktivitas membaca, mendengarkan ceramah atau materi di webinar dan lainnya. Juga dari merenung dan berfikir. Itu adalah harta berharga yang bisa hilang jika tidak dituliskan. Aktivitas menulis menjadi jalan untuk menyimpan di memori jangka panjang.
Saya ada pengalaman di bulan Ramadhan sebelum covid melanda. Saat itu hampir tiap hari mendengarkan ceramah subuh dan bada isya. Ada banyak ilmu yang diperoleh dari ulama dan dai. Saya bertekad ingin menulis apa yang saya dengar. Tiap hari target 1 artikel. Setelah ditulis dishare di WA group dan facebook. Alhamdulillah dapat menulis 35 artikel keagamaan selama Ramadhan.
Ternyata tulisan yang dibuat itu karena dibagikan di media sosial memiliki manfaat luas ke orang lain. Menjadi media dakwah tanpa harus berceramah di mimbar. Bahkan juga jadi bahan ceramah bagi dai.yang membacanya. Jadi dakwah MLM. Artinya semakin luas manfaatnya. Kemudian ide berkembang. Kumpulan tulisan ini bisa jadi buku. Disebarkan dan memberi manfaat lebih luas.
Setelah lama berselang terkadang tulisan itu muncul kembali secara otomatis. Artinya apa yang ditulis menjadi abadi. Ada ungkapan "jika ingin hidup abadi maka menulislah". Bukankah para ulama meskipun mereka telah meninggal dunia masih terasa hidup karena karyanya masih bisa dinikmati?
Ada juga pengalaman waktu itu saya menuliskan kembali apa yang saya baca dari sebuah buku. Isinya tentang employee engagement. Tulisannya lebih banyak merangkum dan menyadur lalu dimasukkan di website. Suatu hari setelah beberapa tahun berlalu saya mencari bahan tentang employee engagement. Dapat link ke sebuah skripsi mahasiswa. Saya kaget ternyata skripsi itu merujuk ke tulisan yang dulu saya rangkum. Padahal bukan tulisan produksi utuh sendiri hanya merangkum.
Itulah dunia di era digital ini. Tulisan sederhana ternyata bisa berdampak besar karena teknologi. Beda dengan zaman dulu yang harus dicetak dan disebarkan. Saya jadi teringat sebuah hadist Nabi agar tidak menyepelekan amalan kecil. Bisa jadi amalan itu bernilai besar. Selain karena niatnya ikhlas karena Allah juga dampak dan manfaatnya yang besar. Saya membayangkan di akhirat kelak banyak orang yang kaget kok bisa dapat pahala besar padahal amalannya waktu di dunia biasa-biasa saja. Setelah dibuka ternyata karena tulisannya yang dia anggap sederhana dan biasa saja.
Terlepas dari itu semua bagi para pendidik di sekolah dan kampus perlu memperhatikan ungkapan "siapa berani belajar juga harus mau belajar". Salah satu cara belajar yang efektif yaitu menuliskan apa yang telah dipelajari melalui membaca dan mendengarkan atau hasil berfikir. Selain itu sebagai kaum intelektual dan terdidik juga punya tanggung jawab sosial akan keilmuannya. Tanggung jawab untuk turut serta mencerahkan masyarakat, salah satunya melalui tulisan.
Mari terus semangat berlatih menulis. Teringat kata Pak Didin "menulis itu ibarat menggali sumur. Pada awal menggali tidak langsung mendapatkan air yang jernih. Mungkin masih dapat pasir dan lumpur. Teruslah menggali dan yakinlah suatu saat akan mendapatkan air yang jernih". Menulis pun demikian. Tidak langsung bagus dan enak dibaca karena masih ada kekurangan dan kesalahan. Jangan berhenti menulis. Yakinlah practice make perfect. Yakinlah suatu saat akan bisa menulis dengan hasil yang baik. Selamat mencoba.
Makassar, 30 Juni 2021
Syamril (Direkutur Sekolah Islam Athirah)

