Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi
Pandemi covid-19 yang masih terus berlanjut tidak hanya berdampak pada fisik. Tapi juga mempengaruhi kesehatan mental manusia.
Menyebarnya virus Covid-19 yang mengakibatkan sakit dan kematian dalam jumlah yang banyak mengakibatkan munculnya rasa takut, panik, cemas, sedih, kesepian, terasing saat karantina, bingung atas informasi dan kebosanan.
Penelitian yang diadakan oleh Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia pada 5661 orang di 31 Provinsi pada bulan April sampai Oktober 2020 menemukan bahwa terdapat 68% responden ada masalah psikologis. Dari yang bermasalah psikologis tersebut terdapat 67,4% yang mengalami gejala cemas. Ini terbanyak ditemukan pada kelompok usia di bawah 30 tahun.
Lalu terdapat 67,3% yang mengalami gejala depresi. Ada 48% di antaranya berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Lalu terdapat 74,2% mengalami gejala trauma psikologis. Terbanyak ditemukan pada usia di bawah 30 tahun, keluhan waspada terus-menerus dan merasa sendirian atau terisolasi.
Melihat hasil penelitian di atas maka sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Apa itu sehat mental? Menurut WHO(2015) sehat mental diartikan sebagai kondisi individu yang berada dalam keadaan sejahtera, mampu mengenal potensi dirinya, mampu menghadapi tekanan sehari-hari, dan mampu berkontribusi di lingkungan sosialnya.
Jika kita mampu menjaga kesehatan mental maka dapat menurunkan risiko gangguan kecemasan, menjaga suasana hati tetap ceria, meningkatkan kesejahteraan dan mencegah datangnya penyakit. Jika gagal menjaga kesehatan mental misalnya muncul rasa stress maka dapat menurunkan kekuatan sistem imun sehingga mudah terserang penyakit.
Bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Pertama, dengan cara menjaga kesehatan fisik dengan tidur yang cukup, olahraga yang teratur, dan konsumsi makanan sehat dan bergizi, serta vitamin. Hal ini sejalan dengan ungkapan men sana in carpore sano yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.
Cara kedua yaitu menjaga pikiran tetap rileks dan positif. Tetaplah sibuk melakukan hal yang positif, menikmati hobi dan tetap santai. Juga menambah ilmu dengan mengikuti kelas virtual, membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya. Tapi batasi waktu depan layar komputer dan smartphone karena dapat menimbulkan kelelahan fisik dan pikiran.
Cara ketiga yaitu menjaga relasi sosial tetap terhubung khususnya dengan teman dan keluarga. Gunakan media sosial untuk relasi yang positif. Terlibatlah di WAG secara positif. Hindari media sosial yang memberikan berita hoax dan membuat cemas, sedih dan takut yang berlebihan. Namun jangan menarik diri dari pergaulan. Tetap aktif namun selektif. Terlibatlah dalam aktivitas sosial yang bermanfaat seperti menolong sesama yang terdampak pandemi covid.
Cara keempat yaitu mengelola diri dengan baik. Atur prioritas, hargai diri sendiri, tetap tersenyum, rileks dan berbahagia. Buat projek individu atau kelompok terkait hobbi seperti melukis, memasak dan lainnya. Bisa juga dengan 'projek' membersihkan rumah, mengubah tata lay-out, mengecat, renovasi kecil-kecilan untuk menciptakan suasana baru yang lebih ceria.
Cara kelima yaitu menjaga kondisi spiritual tetap prima. Caranya dekatkan diri kepada Allah melalui shalat, dzikir, do'a, zakat, infak, sedekah dan ibadah lainnya. Berbaik sangka kepada Allah, menerima takdir-Nya, tawakkal, bersabar dan tetap bersyukur atas nikmat Allah. Cari hikmah atas segala peristiwa. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada maksudnya termasuk virus covid-19.
Semoga di masa pandemi covid ini kita tetap mampu menjaga kesehatan mental kita. Jaga fisik, pikiran, relasi sosial, kelola diri dan kuatkan iman dan takwa. Yakinlah bersama kesulitan akan ada kemudahan. Semoga covid segera berlalu. Amin.

