Teknologi dan Kebahagiaan

Author :

Dunia telah berubah, sedang berubah, dan akan terus berubah. Itulah ungkapan yang menggambarkan perubahan yang terus terjadi dengan cepat.

Siapa yang tidak beradaptasi akan punah. Bukan yang kuat yang akan menang tapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

Perkembangan budaya manusia pada mulanya dengan berburu. Masuk ke hutan berburu hewan dan mencari buah-buahan dari pohon liar untuk makanan sehari-hari. Seiring dengan semakin banyaknya manusia maka hasil dari hutan tidak bisa lagi mencukupi. Masuklah era agraris dengan bertani dan berternak. Menghasilkan buah-buahan dan hewan dengan memeliharanya dari kecil sampai besar. Dari benih sampai panen. 

Dunia terus berkembang dan kebutuhan semakin beragam dan kompleks. Muncullah teknologi dan berawal dari penemuan mesin uap dan berlanjut dengan listrik yang melahirkan era industri. Produksi massal terjadi dengan mesin-mesin otomatis. 

Ilmu dan teknologi terus berkembang. Bermula pada tahun 1969 dengan ditemukannya komputer. Maka berkembanglah  otomatisasi dan elektronik. Muncullah produk elektronik yang memudahkan manusia. Komputer yang semakin canggih juga sangat membantu dan membawa perubahan.

Sampai akhirnya pada tahun 2010 muncul internet yang diikuti oleh kecerdasan buatan, robotik dan lainnya. Kita pun masuk ke era industry 4.0. Era internet of things. Era jaringan dan digital. Internet tidak hanya menambahkan sesuatu pada kehidupan tapi telah mengubah segala sesuatu. Teknologi telah mengubah cara kita bekerja, hidup, bermain dan belajar.

Apakah kemajuan teknologi membuat kehidupan manusia semakin bahagia? Ternyata tidak. Memang membuat mudah tapi manusia malah semakin sibuk bekerja. Jika zaman dahulu sebelum ada media sosial dan online, jam kerja ada batasannya. Maka di era sekarang yang terjadi manusia bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. Jadilah banyak yg over load dan burn out. Tingkat stress di era sekarang malah semakin naik saat kecepatan kerja dan teknologi semakin tinggi.

Apa penyebabnya? Adanya teknologi membuat hidup manusia semakin tidak seimbang. Mengejar produktivitas kadang manusia lupa diri. Mengejar materi tapi mengabaikan kesehatan fisik, sosial, pikologis, spiritual dan keluarga. Pada saat ada yang tidak seimbang maka muncul tekanan dan tegangan pemicu stress yang berdampak pada kesehatan.

Selain itu kehidupan modern  dengan teknologi canggih kadang membuat manusia kehilangan makna kehidupan. Sibuk bekerja dan beraktivitas yang sudah rutin kadang tanpa kesadaran tentang apa tujuan itu semua. Seolah-olah manusia jadi robot. Atau terjebak pada tujuan yang primitif untuk berburu harta dan tahta. Padahal manusia adalah makhluk spiritual yang mencari makna hidup melalui aktivitas kreatif yang membuat karya bermanfaat untuk kehidupan. Bekerja bukan semata karena imbalan (reward) dan tugas (duty). Tapi bekerja karena cinta (love) dan makna (meaning).

Solusinya yaitu jadikan teknologi sebagai alat bukan tujuan. Alat untuk menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan sosial kehidupan agar tercipta hidup yang nyaman (comfort), semangat (vitality), berkualitas dan seimbang lahir dan batin. Seimbang antara kemajuan ekonomi dan konservasi alam. 

Kehidupan yang berpusat pada manusia seutuhnya yang berbasis teknologi dan tetap menjaga keseimbangan alam. Tentu saja disertai kesadaran bahwa manusia adalah pemimpin di muka bumi yang bertanggung jawab mewujudkan kehidupan warga bumi yang produktif, sejahtera, bahagia dan berkah.

Previous PostMenghadapi Bencana Alam
Next PostMengelola Perubahan
ARSIP MESSAGE OF THE DIRECTOR