Guru Menulis Buku
Sejak bulan Oktober 2021 Sekolah Islam Athirah menggulirkan program GEMA (Gerakan Menulis Athirah). Kegiatannya berupa pelatihan setiap hari Sabtu jam 9-12 selama 18 kali pertemuan dan diakhiri dengan karantina sehari.
Setiap peserta ditargetkan menghasilkan 1 buku minimal 100 halaman. Targetnya pada tanggal 22 Februari 2022 akan siap cetak 22 judul buku hasil karya guru Athirah.
Menggerakkan literasi di sekolah butuh role model. Guru adalah role model utamanya. Himbauan kepada peserta didik tidak akan bermanfaat jika tidak ada contoh nyata dari guru. Jika guru dapat menjadi contoh dengan menulis buku maka akan berdampak besar kepada peserta didik.
Menulis buku berawal dari menyusun kata yang dirangkai menjadi kalimat dan paragraf. Kumpulan paragraf yang diikat dalam satu judul menjadi artikel atau bab. Sekumpulan bab akhirnya menjadi buku.
Jika sekadar menulis kata mungkin sangat mudah apalagi di era media sosial sekarang ini. Akan mulai sulit untuk menulis kata, kalimat dan paragraf jika syaratnya isinya penting dan menarik untuk dibaca. Bisa jadi isinya penting tapi tidak menarik karena gaya penulisannya yang tidak tepat. Bisa juga menarik cara penulisannya tapi pesannya kurang bermakna. Oleh karena itu penting dan menarik menjadi syarat utama.
Menulis di media sosial memang terasa mudah. Namun menulis secara terstruktur menjadi artikel ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Agar betul terasa mudah bisa didekati dengan model SIPOC supply chain management. SIPOC adalah singkatan dari supplier, input, process, output, customer.
Supplier di industri yaitu pemasok bahan mentah atau bahan baku sebagai input untuk diolah menjadi produk. Dalam kegiatan menulis dibutuhkan input dari kegiatan membaca. Tentu bukan asal membaca apa saja. Tapi harus membaca bacaan yang berkualitas. Untuk itu dibutuhkan pasokan bahan bacaan berupa buku atau artikel yang berkualitas.
Seorang penulis sebaiknya memiliki rutinitas membaca buku setiap hari yang temanya sesuai dengan apa.yang akan ditulisnya. Apa yang dibaca akan menjadi input dalam pikirannya untuk aelanjutnya diproses menjadi tulisan.
Dalam proses penulisan buku ada tiga jenis yaitu copian, editan dan buatan. Hati-hati dalam pola copian karena bisa masuk plagiasi. Pola editan yang menggabungkan berbagai sumber menjadi satu juga harus memperhatikan aturan penulisan. Paling baik jika memakai pola buatan. Mengeluarkan isi pikiran dan menuangkannya dalam tulisan dan kata-kata sendiri.
Proses penulisan juga bisa menggunakan satu waktu atau bertahap sedikit demi sedikit. Jika targetnya 100 halaman maka menulis satu halaman setiap hari akan menghasilkan buku dalam waktu 100 hari. Jika menulis dua halaman tiap pekan maka dalam waktu setahun atau 50 pekan dapat menghasilkan satu buku. Bagi mereka yang memiliki kesibukan sehingga menulis sebagai selingan maka lebih baik menulis secara bertahap.
Bahan draft buku yang sudah selesai sebagai output dari proses penulisan tidak bisa langsung diberikan ke customer. Perlu uji mutu isi, bahasa dan tata cara penulisan. Untuk itu perlu melibatkan orang lain sebagai pembaca dan editor. Lebih bagus lagi jika ada mentor yang berpengalaman. Mentor membantu untuk memeriksa mutu buku dan memberi masukan untuk perbaikan. Setelah melalui editing dan uji mutu maka buku sudah siap cetak dan disebarkan ke pembaca.
Pada akhirnya selalu ingat tujuan awal bahwa menulis mutu bukan semata menghasilkan buku tapi juga menjadi karya yang bermanfaat. Menjadi warisan ilmu pengetahuan yang berguna untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mari berkarya.

