Servant Leadership for Rempang

Author :

Salah satu isyu yang trending topik pada bulan ini yaitu relokasi penduduk Rempang di Batam. Masuknya investor dari China yang akan membangun pabrik kaca membutuhkan lahan yang luas. Masalah muncul karena lahan yang akan digunakan merupakan perkampungan tua yang dihuni ribuan warga.

Masalah menjadi bertambah besar karena pemerintah melakukan relokasi secara tergesa-gesa. Akhir bulan September 2023 lahan harus sudah kosong dari warga. Masyarakat tidak ingin direlokasi. Pemerintah melakukan secara paksa dengan menurunkan aparat TNI dan Polri.

Terjadilah bentrokan antara warga dan aparat. Bentrokan fisik terjadi. Gas air mata ditembakkan oleh aparat. Tidak hanya kepada warga yang menolak relokasi, tapi juga masuk ke area sekolah. Akibatnya banyak warga dan siswa yang menjadi korban gas air mata.

Video yang terekam secara amatiran di tempat kejadian menyebar dengan cepat melalui media sosial dan online. Simpati dari sesama warga Indonesia khususnya suku Melayu muncul di mana-mana. Semua mengecam tindakan pemerintah dan aparat. Apalagi komentar beberapa pejabat yang arogan semakin memperkeruh suasana. Bahkan ormas  NU dan Muhammadiyah juga bersuara. Meminta pemerintah membatalkan rencana investasi.

Mari kita kaji kejadian di atas dari sisi leadership. Kondisi di atas tidak akan terjadi jika pemerintah menerapkan servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. Servant leadership atau kepemimpinan pelayan adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati untuk melayani, menempatkan kebutuhan pengikut sebagai prioritas, menyelesaikan sesuatu bersama orang lain dan membantu orang lain dalam mencapai suatu tujuan bersama.

Ciri pertama dari servant leadership yaitu empati berupa kemampuan merasakan perasaan orang yang dipimpin. Jika saja pemerintah dapat merasakan kekhawatiran penduduk Pulau Rempang yang akan direlokasi maka tentu tidak akan dilakukan secara paksa dan tergesa-gesa. 

Empati akan muncul jika pemimpin memiliki ciri kedua dari servant leader yaitu focus on listening atau mendengarkan atau menyimak. Biasanya pemimpin hanya mau didengarkan. Sulit untuk mendengarkan.  Untuk itu perlu kerendahan hati dan ketulusan untuk menggali aspirasi dari warga Rempang. Bukan hanya ingin didengarkan dan memaksakan kehendak.  

Kemampuan menyimak yang baik akan memudahkan pemimpin menerapkan ciri ketiga dari servant leader yaitu persuasif. Melalui pendekatan persuasif maka seorang pemimpin meyakinkan rakyat dengan cara membujuk, bukan memaksa dengan menggunakan kekuatan dan otoritas. Ketiga ciri di atas berupa empatik, mendengarkan dan persuasif membutuhkan kesabaran pemimpin. Juga butuh waktu lama namun hasilnya akan sangat bagus..

Ketiganya akan mudah dijalankan jika pemimpin memiliki ciei keempat dari servant leader yaitu meyakini bahwa pemimpin adalah pengurus (steward) dari rakyat. Tugasnya mengurusi masalah rakyat. Bukan mengurusi oligarki atau pemodal.

Juga ciri kelima dari servant leader yaitu focus on healing suffering. Fokus pada menyembuhkan penderitaan rakyat. Hal ini sejalan dengan slogan pada saat awal Orde Baru yaitu amanat penderitaan rakyat atau ampera. Pemimpin akan bahagia jika rakyatnya bahagia. Bahagia karena membahagiakan orang lain. Bukan bahagia karena mengorbankan orang lain.

Hal ini akan dapat terwujud jika pemimpin memiliki ciri keenam.dari servant leader yaitu berfikir konseptual (conceptual thinking). Maksudnya segala yang dilakukan memiliki dasar pemikiran dan alasan yang kuat dan masuk akal. Tidak berpikir jangka pendek tapi melihat ke depan. Tidak pragmatis tapi memiliki prinsip dan integritas.

Akhirnya servant leader memiliki ciri ketujuh yaitu sadar akan kekuatan dan kelemahan diri. Pemimpin bukan superman tapi membangun superteam. Juga membangun komunitas yang saling sinergi dan harmoni.

Semoga kasus Rempang segera selesai dan pemerintah kembali menyadari tugasnya sebagai pemimpin yang melayani rakyat (servant leadership) dengan ciri-ciri empatik, komunikatif, persuasif, mengurusi, menghilangkan penderitaan rakyat, mampu berpikir konseptual, dan sadar  akan kekuatan dan kelemahan diri. Selamat mencoba.

Previous PostWork Life Balance
Next PostMengelola Perubahan
ARSIP MESSAGE OF THE DIRECTOR