Banjir Sumatera

Author :

Akhir November 2025 Indonesia berduka. Terjadi banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Data 1 Desember 2025 tercatat 442 korban jiwa. Sementara 402 orang belum ditemukan. Korban terbesar di Sumatera Utara yaitu 217 orang. Lalu Sumatera Barat 129 orang dan Aceh 96 orang. Kemungkinan masih bertambah. 

Belum lagi kerugian material karena rusaknya infrastruktur jalan raya, rumah warga, lahan pertanian dan lainnya. Jika dinilai dalam rupiah mungkin mencapai trilyunan. Kerugian non material juga besar. Pengungsian, kelaparan, kesehatan yang buruk, sanitasi, air bersih dan lainnya. Sungguh luar biasa dampak dari banjir bandang di Sumatera ini.

Para ahli menyebutkan penyebab banjir bandang karena siklon tropis senyar dan degradasi lingkungan. Bulan Desember biasanya puncak musim hujan di wilayah tersebut dengan curah hujan yang tinggi. Ditambah adanya siklon tropis senyar maka terjadilah hujan ekstrem dan tidak normal. Curah hujan di atas 300 mm.

Pakar Geospasial ITB, Dr Heri Andreas menilai, kerusakan lingkungan, perubahan tutupan lahan, dan menurunnya kapasitas tampung wilayah menjadi faktor penting yang memperburuk dampak banjir. Alih fungsi lahan menjadi faktor terbesar perubahan tutupan lahan. Hutan lebat berubah menjadi perkebunan sawit tanaman industri. Tercatat lebih dari 2 juta hektar alih fungsi selama 30 tahun terakhir.

Belum lagi pembalakan atau penebangan hutan secara liar atau illegal logging. Hal ini tampak pada banyaknya kayu gelondongan yang terbawa hanyut saat banjir bandang. Kayu yang telah ditebang dan dikuliti. Kayu tersebut terbawa arus sungai saat banjir dan merusak apapun yang dilaluinya. Tampak rumah warga yang rusak parah. 

Penggundulan hutan juga terjadi karena penambangan resmi dan liar yang tidak terkendali. Para pelaku tambang menebang hutan sebelum melakukan penggalian dan mengambil mineral di dalam tanah. Setelah itu wajib melakukan reklamasi dan rehabilitasi hutan bekas lahan tambang. Kondisi di lapangan tidak semua pengusaha tambang melakukan rehabilitasi. Akibatnya luas lahan rehabilitasi tidak sebanding dengan pembukaan lahan tambang baru.

Mengatasi banjir bandang ini dapat dilakukan secara jangka pendek dan panjang. Secara jangka pendek Pemerintah dan berbagai elemen masyarakat telah bergerak cepat. Pengiriman makanan via udara ke daerah yang terisolir, turunnya Badan Penanggulangan Bencana Pusat dan Daerah. Juga para relawan dari berbagai elemen masyarakat. Selain itu penggalangan bantuan dana, makanan, obat-obatan dari masyarakat, pengusaha dan lembaga sosial lainnya.

Pemerintah juga bergerak cepat membuka kembali akses jalan ke daerah yang terisolir. Listrik, komunikasi dan infrastruktur lainnya segera diperbaiki. Hal ini penting agar pengiriman barang kebutuhan pokok dan komunikasi dapat berjalan lancar. Fasilitas umum seperti rumah sakit segera difungsikan. Tempat tinggal sementara di lokasi pengungsian juga disiapkan. Penyiapan air bersih juga dengan menggunakan teknologi khusus. Itu semua dapat meringankan beban masyarakat.

Secara jangka panjang perlu tindakan tegas dari Pemerintah Pusat dan Daerah. Jika perlu lakukan moratorium pembukaan lahan hutan untuk keperluan apapun. Aturan yang dibuat perlu ditegakkan tanpa pandang bulu. Ilegal logging, ilegal mining harus diberantas dengan tegas dan keras.

Kita berharap semoga Presiden Prabowo berani bertindak tegas kepada pengusaha yang menjadi pelaku ilegal logging dan illegal mining. Juga kepada penegak hukum dan aparatur pemerintah yang menjadi pelindung dan mitra kolusinya. Semuanya perlu diberikan hukuman yang berat dan keras karena merusak alam, merugikan kehidupan dan masa depan bangsa.

Previous PostPelajaran dari Banjir Sumatera
Next PostMengelola Perubahan
ARSIP MESSAGE OF THE DIRECTOR