Renungan Hari Arafah
Hari ini Selasa 27 Mei 2026 jutaan jamaah haji sedang wukuf di Arafah. Bagi yang tidak berhaji disunnahkan berpuasa. Pahalanya menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Menurut Ust. Adi Hidayat, makna menghapus dosa setahun yang akan datang bukan berarti bebas berbuat dosa setahun ke depan. Itu berbahaya. Tapi maksudnya terhindar dari berbuat dosa karena berhasil menemukan hikmah di hari Arafah dari prosesi wukuf.
Diam, Kenali, Sadari. Itulah arti sederhana dari wukuf di Arafah. Wukuf artinya diam atau berhenti. Ingat tanda wakaf kalau mengaji. Arafah artinya mengenali. Ingat kata arif. Tapi tidak cukup hanya kenal. Harus sadari. Jadi wukuf di Arafah yaitu diam atau berhenti untuk mengenali hakikat diri dan perjalanan kehidupan. Harapannya tercipta kesadaran sebagai hamba Allah yang lemah, banyak dosa. Butuh pertolongan dan ampunan dari Allah.
Agar mudah diingat bisa disingkat dalam kata DiKSar. Diam, Kenali, Sadari. Ingat diksar sebagai pendidikan dasar. Inilah dasar dan pondasi kehidupan. Harus ada waktu untuk berhenti dan diam sejenak untuk melakukan refleksi, muhasabah, kontemplasi. Tanyakan dalam diri: Siapa saya, dari mana saya berasal, mau ke mana hidup saya, apa tujuan hidup saya, dan pertanyaan kontemplatif lainnya yang dapat menyadarkan tentang hakikat kehidupan.
Saat jamaah haji hari ini wukuf di Arafah mari juga ikut wukuf di tempat masing-masing. Jadikan momentum 9 Dzulhijjah ini untuk juga wukuf, berhenti dan diam sejenak. Gunakan momen selepas shalat 5 waktu. Tidak harus lama setelah dhuhur sampai magrib. Cukup selepas shalat dan dzikir. Merenunglah, meski sebentar asalkan bermakna. Kadang hidup serba otomatis sehingga kehilangan kesadaran. Saatnya temukan kesadaran itu. Temukan makna itu agar hidup terasa lebih hidup.
Saya melihat minimal ada tiga hal yang perlu direnungi pada hari ini. Agar mudah diingat saya beri lagi singkatan: MOS. Ingat Masa Orientasi Siswa saat awal masuk sekolah. Tujuan MOS agar siswa baru memiliki bekal pengetahuan dasar untuk menjalani masa sekolah. Pengetahuan tentang lingkungan sekolah, tata tertib, motivasi belajar, strategi belajar, mencari teman dan lain sebagainya. Hidup juga perlu bekal pengenalan awal. Apa itu? Motivasi, Orientasi, Strategi.
Pertama, Motivasi. Coba cek di Al Quran surat Al Baqarah ayat 207. Allah berfirman: "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah.... ". Apa motivasi semua aktivitas kita di hidup ini? Mencari ridha Allah. Kata ridha diserap ke Bahasa Indonesia menjadi rela. Allah suka dan cinta pada apa yang kita lakukan sehingga rela menerima kita sebagai hamba-Nya.
Menyambut kita saat kembali kepada Nya sebagai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah). Kembali kepada Tuhan dalam keadaan ridha dan diridhai. Dipersilakan masuk dalam golongan hamba Allah. Juga dipersilakan masuk dalam surga Allah. Itu bisa dilihat pada Al Quran surat Al Fajr: 27-30.
Coba cek hidup kita selama ini. Ridha siapa yang kita cari? Mungkin kita sering mencari ridha manusia, bukan ridha Allah. Segeralah kembali mencari ridha Allah. Perbaiki niat di segala aktivitas. Ikhlas semata-mata karena Allah. Bukan karena pujian dan penghargaan manusia. Jika mendapat pujian, kembalikan semuanya kepada Allah. Segala puji hanya untuk Allah (Alhamdulillah). Segala terjadi karena kehendak Allah ( Masya Allah).
Kedua, yaitu Orientasi. Perhatikan Q.S. Al Baqarah: 199-200. Ada dua jenis orientasi manusia. Ada yang hanya dunia saja. Allah berfirman: Dan di antara manusia ada yang berdoa, "Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia". Dan di akhirat dia tidak memperoleh apapun.
Periksa doa-doa kita selama ini. Apa yang kita minta? Apa banyak atau hanya meminta harta, tahta, cinta, citra, dan wisuda? Uang, jabatan, pasangan, nama baik, gelar akademik? Dan semua hanya untuk dunia semata? Bahkan kadang ibadah yang kita lakukan untuk mendapatkan dunia. Bersedekah dan shalat agar dapat balasan rejeki lancar, jauh dari mara bahaya, sembuh dari sakit dan kehidupan dunia semata.
Apakah itu tidak boleh? Tentu saja boleh asalkan tidak semata untuk dunia tapi juga akhirat. Lihat Al Baqarah:200. "Dan di antara mereka ada yang berdoa " Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka". Maksudnya segala nikmat dunia jadikan sebagai alat untuk kebaikan akhirat. Harta, tahta, cinta, citra dan wisuda itu alat bukan tujuan. Alat untuk ibadah, dakwah dan manfaat (idaman). Konversi menjadi pahala, ampunan, syafa'at dan rahmat (pasrah) agar berguna di kehidupan akhirat.
Bagaimana caranya? Masuk pada bagian ketiga setelah Motivasi dan Orientasi yaitu Strategi. Lihat Al Quran Surat Al Baqarah: 208. "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu".
Maksudnya strategi hidup ini harus sesuai ajaran agama Islam. Ada aqidah, syariah dan akhlak. Ada ibadah dan muamalah. Sebelum berbuat periksa apakah sesuai syariat ajaran Islam? Apakah ada perintah dan atau tidak ada larangan? Apakah sesuai Al Quran dan Sunnah serta ijtihad para ulama? Apakah sesuai sunnatullah atau kaidah ilmiah, etika dan moral?
Jangan ikuti langkah setan. Jangan ikuti ajaran sesat. Jangan ikuti aliran yang tidak mengenal Tuhan, memuja materi, syahwat dan ketenaran. Ajaran yang bertentangan dengan syariat dan fitrah. Jangan ikuti hawa nafsu. Jangan ikuti nafsu serakah, dendam dan amarah. Jangan turutkan syahwat yang salah, angkuh dan bangga diri, iri dan dengki, dan hawa nafsu lain yang merusak dan menjerumuskan.
Itulah sedikit renungan di Hari Arafah ini. Diam dan berhenti untuk mengenali dan menyadari keberadaan diri(DiKSar). Mencari hakikat kehidupan pada motivasi, orientasi dan strategi (MOS). Semoga sukses menjalani puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Harapannya pada 10 Dzulhijjah dapat merayakan Idul Qurban dalam makna kembali dekat kepada Allah. Meraih hidup yang tenang dan bahagia dalam ridha Allah. Aamiin.
