RABIUL AWAL BULAN MAULID (seri 1)
Teringat waktu
penulis -mungkin juga pembaca- sewaktu
masih kecil, setiap memasuki bulan rabiul awal, merasa sangat senang karena ada
kegiatan hajatan tahunan yang selalu dilaksanakan di masjid dan/atau di rumah
rumah warga yakni peringatan maulid. Peringatan maulid selalu dirangkaikan
dengan acara makan-makan songkolo dan ayam atau telur dan segala macam makanan
dan minuman dihidangkan. Penulis dan
kawan-kawan sering bercanda “alangkah enaknya kalau setiap bulan diadakan
peringatan maulid”.
Peringatan
maulid di kalangan para ulama adalah hal yang dijadikan khilafiyah (berbeda
pendapat). Ada yang memandang bid’ah karena tidak pernah dicontohkan oleh nabi
Muhammad Saw. Yang lain berpendapat boleh dilakukan karena suatu bentuk inovasi
dalam berdakwah. Peringatan maulid tidaklah termasuk rana syari’at tetapi
tradisi masyarakat sebagai salah satu ungkapan
rasa cinta kepada rasulullah.
Hal menarik
dalam rangkaian peringatan maulid adalah lahirnya pohon-pohon pisang yang
berbuah “telur” yang ditanam di dalam pot/ember
“songkolo”. Kenapa yah!. Ternyata itu memiliki makna pilosofi. Makna
telur sebagai symbol ajaran Islam yang terdiri atas aqidah, ibadah dan akhlak.
Telur memiliki 3 unsur yaitu cangkang, putih telur, dan kuning telur. Kuning telur adalah bagian terdalam pada telur
yang banyak mengandung lemak sebagai sumber kalori bagi tubuh. Melambangkan aqidah yang berada di dalam jiwa setiap mukmin sebagai
sumber motivasi untuk banyak melakukan amal shaleh. Putih telur adalah bagian
yang banyak mengandung protein sebagai sumber tenaga, sebagai symbol
ibadah dalam Islam yang memerlukan
banyak energy. Dan cangkang/kulit telur adalah bagian terluar yang memiliki
permukaan halus. Diibaratkan akhlak seorang muslim yang lembut dan tidak boleh
kasar kepada sesame.
Adapun makna
pilosofi “songkolo” adalah symbol
hubungan persaudaran antara muslim dengan muslim lainnya. Silaturrahim di
kalangan muslim harus tetap terjaga keeratannya sebagaimana songkolo yang
saling melekat antara satu dengan lainnya.
Demikian pula
telur-telur itu ditancapkan pada satu pohon pisang dimaknai sebagai symbol
persatauan. Jiwa persatuan harus ditancapkan dalam hati setiap muslim. Tidak
dibenarkan berselisih antara muslim dengan muslim yang lainnya.
Setidaknya setiap peringatan kelahiran nabi Muhammad saw., mengingatkan kita semua pada sosok beliau yang mulia. Sangat penting bagi setiap muslim untuk mengetahui pribadi belau. Sehingga sangat disayangkan kalau mengakui dirinya pengikut nabiullah tetapi tidak paham sosok nabinya. Dan zaman sekarang ini adalah zaman dimana kita sangat membutuhkan pengetahuan tentang kapan, dimana, dan siapa yang melahirkan beliau, serta bagaimana kepribadian beliau dalam sehari-hari, dll. Tak lain dan tak bukan tujuan dari memperingati dan merayakan kelahiran atau maulid Nabi Muhammad SAW itu adalah meniru gerak-gerik, kepribadian, dan Akhlak Nabi Muhammad SAW karena pada diri beliau lah terdapat suri teladan yang baik. Dalam kata lain, tujuan dari memperingati dan merayakan maulid Nabi Muhammad SAW itu adalah menanamkan bibit-bibit cinta di hati kita kepada Nabi Muhammad SAW, dan membangkitkan kembali semangat kita agar menjalankan segala perintah Allah dan sunnah rasulNya dan menjauhi segala larangan Allah dan rasulNya.
PENULIS : SAGE AL BANNA, S.Ag., M.Pd.

