Integritas Manifestasi Kedewasaan Athirah
Widitra Darwis : XI IPA AL HASIB
Bone, 23 Mei 2021
Mark Manson dalam bukunya “Segala-galanya Ambyar” memberikan definisi yang jelas mengenai kedewasaan. Seorang anak hanya berpikir tentang kenikmatannya sendiri, sementara seorang remaja belajar mengarahkan aturan dan prinsip-prinsip untuk mencapai tujuan dan berkutat pada perilaku transaksional.
Orang yang dewasa mampu mengekang kenikmatan pribadinya demi mempertahankan prinsip-prinsipnya. Dewasa bukan tentang benda berusia tertentu, remaja bukan usia peralihan, dan anak-anak bukan soal ukuran tubuh yang mungil. Ketiganya adalah sifat yang bisa dimiliki melampaui ukuran tubuh, usia, dan dimana benda itu berada. Dewasa saat prinsip-prinsip dan aturan adalah tujuan dan bukan sarana. Itulah yang membedakannya dengan remaja yang menuruti prinsip jika akan menghasilkan kenikmatan bagi dirinya. Kedewasaan menempatkan kejujuran sebagai tujuan seberapa pun pahit dan menderitanya akibat yang akan diterima.
Sekolah seperti manusia dengan masing-masing sifat yang membangun identitas dirinya. Anak-anak, remaja, dan dewasa juga merupakan kelompok-kelompok dimana setiap sekolah bisa dimasukkan ke dalamnya. Sekolah yang dewasa mampu mempertahankan prinsip-prinsip baik sebagai tujuan dan menyampingkan kenikmatan. Praktik suap dan “orang dalam” tak asing lagi di budaya masyarakat Indonesia, termasuk di dunia pendidikan. Budaya tidak bersih lain seperti menyontek dan bekerja sama saat ujian adalah hal yang biasa dijumpai atau bahkan, dilakukan. Mengedepankan kenikmatan masuk karena “orang dalam”, kenikmatan menyontek tanpa susah payah belajar menjadikan sekolah bersifat seperti remaja bahkan kekanak-kanakan, hanya berpikir tentang kenikmatannya sendiri. Integritas adalah prinsip yang dilanggar saat berusaha mencapai kenikmatan-kenikmatan tersebut.
Integritas adalah prinsip kedewasaan yang tidak hanya bermakna jujur, tapi juga tegas dan konsisten bahwa jujur sebagai nomor satu dan tujuan tertinggi. Integritas adalah hal yang dijunjung tinggi di Athirah. Dalam ujian, kejujuran di Athirah adalah mata pelajaran pertama. Percaya atau tidak, pernah mengalami atau tidak, Ujian Nasional di sekolah-sekolah biasanya disertai dengan pembagian kunci jawaban dan bantuan dalam bentuk lainnya. Di saat Ujian Nasional di Sekolah Islam Athirah, pengawas yang berasal dari sekolah luar menjadi saksi bagaimana proses ujian tidak lagi dilakukan dengan sifat kekanak-kanakan melainkan secara dewasa tanpa bantuan apapun dari luar dan murni dari kemampuan siswa. Ibarat manusia, Sekolah Islam Athirah adalah sekolah yang dewasa.
Lalu mengapa kedewasaan penting bagi suatu sekolah? Peristiwa 98’ adalah peristiwa sejarah memilukan bagi bangsa Indonesia. Krisis moneter yang melanda membuat ekonomi Indonesia luluh lantah. Di samping itu, penyebab utamanya adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah di masa orde baru. Poin utama ketidakpuasan masyarakat adalah, praktik KKN kala itu. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah budaya-budaya yang bertolak belakang dengan integritas namun langgeng di era tersebut. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagaimana ketidakdewasaan pemerintah membuat negara menjadi hancur. Begitu pula dengan sistem sekolah yang di bangun dengan rusaknya integritas, maka sistem yang berusaha dibangun akan hancur oleh kehausan oknum-oknum tertentu akan kenikmatan melebihi prinsip yang seharusnya dipertahankan. Tragedi pergantian kekuasaan tersebut juga memberikan contoh bagaimana integritas begitu penting untuk keberlanjutan suatu sistem agar terus bertahan menghadapi setiap tantangan masa depan yang berubah semakin pesat.
Tantangan yang akan dihadapi manusia di masa depan adalah perubahan yang terjadi dengan sangat cepat. Tantangan tersebut ibarat seleksi alam yang akan menyisakan manusia yang bisa beradaptasi dan sistem yang kuat untuk melewati setiap tantangan dengan sifat kedewasaan. Sedangkan, sistem yang seperti remaja akan runtuh secara perlahan karena tidak dapat mempertahankan prinsip integritas. Jika integritas menghalangi mereka dalam meraih kenikmatan, maka mereka akan melanggar prinsip tersebut dan kemudian lama-kelamaan integritas akan sirna dan sistem itu pun akan runtuh. Terlebih bagi sistem yang kekanak-kanakan. Kenikmatan adalah satu-satunya tujuan. Tak peduli prinsip baik atau buruk, selama membawa kenikmatan maka prinsip itulah yang akan dijalankan. Dalam kata lain, integritas menjadikan sekolah mampu melewati tantangan masa depan melalui sifat kedewasaan. Integritas adalah sifat kedewasaan yang dasar dan fundamental guna melewati dan memenangkan setiap tantangan masa depan. Hal tersebut sudah dimiliki dan akan terus diperkuat oleh Sekolah Islam Athirah.
Hanya sekolah-sekolah dengan sistem yang matang dan dewasa yang akan menghasilkan penerus bangsa yang dewasa pula. Budaya adalah modal penting untuk membangun generasi muda agar layak menerima tanggung jawab kepemimpinan di masa depan. Sistem pembiasaan yang membentuk budaya sekolah menguatkan integritas bagi siswa maupun guru-guru di Sekolah Islam Athirah. Melalui budaya integritas, siswa dan guru bisa menjadi dewasa. Merek yang dewasa adalah yang tidak haus dengan segala kenikmatan yang bisa diraih, tetapi mereka yang tegas dan tegar mempertahankan kebaikan. Sekolah adalah wadah pembentukan karakter pemimpin masa depan. Dari koruptor kita bisa melihat, meski dengan ilmu yang banyak, tanpa karakter integritas maka manusia akan menjadi hina. Siswa-siswi Sekolah Islam Athirah tidak hanya dibekali dengan ilmu dan pengetahuan yang mengisi otak mereka. Tapi juga dengan karakter dan prinsip-prinsip baik. Dalam suatu kata mutiara: “Kecerdasan membuatmu dikagumi, tapi akhlak membuatmu dicintai. Kecedasan bisa mengantarmu ke tempat yang kamu inginkan, tapi akhlak jualah yang menentukan posisimu.” Dari Ibu Andi Citra Rahmayani, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan SDM SMA Islam Athirah Bone. Siswa Sekolah Islam Athirah disiapkan menjadi pemimpin masa depan dengan sikap kedewasaan yang termanifestasikan ke dalam kultur integritas.
*Juara 3 lomba menulis inspiratif, Milad ke 37 tahun Sekolah Islam Athirah

