AMBILLAH DIA KARENA MEMANG ENGKAULAH YANG PUNYA
Bismillah, sebagai seorang Ayah, saya sangat mencintai dan menyayangi anak-anak sepenuh jiwa raga. Setiap saat saya menggunakan waktu agar anak-anak kami tumbuh sehat, sempurna dan tak kurang suatu apa pun. Terkadang mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan anak-anak. Yah inilah risiko menjadi seorang Ayah, “Keluh hati kecilku suatu ketika.”
Hari-hari kami lalui dengan penuh riang gembira, tawa, dan canda, serta sekali-sekali emosi juga muncul. Perasaan itu kami lalui lebih kurang 14 tahun lamanya, hingga datang waktu yang sangat kami tidak harapkan. Sebagai orang beriman, tentu kami sadar bahwa semuanya pasti akan terjadi. Akan tetapi tak pernah ada dalam benak saya akan terjadi secepat ini.
Hari jumat terakhir bulan Februari, saya baru saja pulang shalat dan khutbah dari salah satu masjid yang ada di kota Makassar. Seperti biasa begitu sampai di rumah, langsung saya periksa cek anak-anak di kamarnya masing-masing. Waktu itu puteri saya Nurul Istiqamah (semoga Allah merahmatinya) tidur sambil memegangi perutnya. Kamu belum shalat yah? Tanya saya sambil mendorong-dorong kecil punggungnya. Sakit perutku pa…langsung saya periksa, oh ternyata perutnya bengkak dan keras. Dalam hati saya mengatakan “Ini bukan sakit biasa harus segera dibawa ke dokter.” Alhasil dokter mengatakan ada gejala hepatitis karena kulitnya memang agak menguning.
Beberapa hari kemudian saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih intensif, dan hasilnya anak saya divonis mengalami penyakit kista di bagian empedunya. Namun rumah sakit tersebut menyarankan agar lebih detail diketahui penyakitnya harus dilakukan pemeriksaan dengan alat MRI. Sayang di rumah sakit tersebut tidak punya alat tersebut sehingga dirujuklah rumah sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Hal yang tak pernah juga saya perkirakan sebelumnya adalah, ketika puteri saya divonis positif Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Saya sendiri bertanya-tanya “Kok bisa yah?? Bukankah anak ini tidak pernah kemana-mana??? Sehari-harinya hanya di kamar, belajar, ngaji, tiktokan, atau praktek masak-memasak. Tapi yah sudahlah, itu ranah mereka. yang penting bagi kami adalah bagaimana anak ini bisa sembuh segera dari penyakit yang dideritanya. Maka sejak saat itulah kami bolak-balik dari rumah ke rumah sakit setiap harinya, kurang lebih 2 bulan lamanya. Saya tidak peduli hujan ataupun panas terik matahari. Yang ada dipikiranku anak saya harus sembuh.
Sampailah waktunya puteri saya dijadwalkan operasinya. Ketika dijemput oleh perawat yang akan membawanya masuk ke ruang operasi, saya lihat dia meneteskan air matanya. Lantas saya dan mamanya menguatkanya dengan doa dan motivasi bahwa sebentar lagi penyakit dan rasa sakit yang kamu rasakan selama ini akan segera hilang. Kurang lebih 6 jam di meja operasi barulah kami dipanggil oleh dokter dan menyampaikan bahwa telah selesai dioperasi. Jujur saya senang batin saya mengatakan insya Allah anak saya segera terbebas dari rasa sakit yang selama ini menderanya.
Hari-hari berlalu, tepatnya 7 hari pasca operasinya ternyata keadaannya mengalami penurunan kondisi. Suhu badan tinggi, HB darahnya turun sehingga dokter berencana melakukan operasi ulang karena terjadi infeksi dan pendarahan. Hanya saja kondisi sudah tidak memungkinkan sehingga jalan itu tidak jadi. Sampai akhirnya puteri saya tercinta pergi menemui Rabbnya, tepat pukul 22.30 tanggal 6 ramadhan 1442 H atau 17 April 2021 Masehi. Sungguh sesuatu yang sangat tidak kami harapkan, tetapi Allah sang pemilik sejati telah memanggilnya. INNALILLAH WA INNA ILAHI RAJI’UN.
Teringat pada satu bait lagu Rhoma Irama “Kutahu hukum dunia, semua akan terjadi. Tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah. Selamat jalan ANAKKU…Ayah Ibumu ridha dengan kepergianmu menemui Rabbmu. Mungkin DIA menyiapkan untukmu keluarga barumu, sahabat barumu, atau bahkan istanamu yang baru. Ayah dan bundamu … selalu mendoakanmu semoga kuburanmu menjadi taman dari taman-taman surga (raudhatun minriadhil jannah). Kuingin kau yang pertama menjemputku di pintu surga “Insya Allah”. Selamat jalan ANAKKU!!! Kini dunia kita sudah berbeda dan tidak akan mungkin lagi kita berkumpul tanpa melalui pintu yang sama, yang pernah kamu lalui yakni KEMATIAN. Ya Allah pertemukan dan kumpulkanlah kami kembali di bawah naungan ridha-MU.
Papa dan Mama sayang kamu nak tapi Allah lebih sayang kamu…masa-masa indah bersamamu telah berakhir, dan kini menjadi kenangan. Sangat susah kami lupakan tawa candamu, masih sangat terasa pijitanmu tatkala kau lihat papa dan mamamu mengerang kesakitan atau sekadar kecapean. Masih terngiang di telinga papa dan mama ketika kamu berkata “Tidak suka dengan belajar di masa pandemi karena tidak ada pemasukan”, masih rindu pada masakan yang kau bikin untuk menyenangkan hati papa dan mama. Oh …..Tuhan, andai ini bisa dibeli dengan harga, maka berapapun aku akan berusaha untuk membelinya meskipun menjual seluruh asset yang kami punya. Terkadang aku terbangun di tengah malam mencubit lengan sendiri sambil berucap “Apakah aku bermimpi???” Oh ternyata ini adalah fakta. Yah sudahlah inilah takdir kita anakku!!!! Selamat menikmati dengan sahabat barumu.
Penulis: Sage Al-Banna,S.Ag., M.Pd.

