Renungan dan Refleksi (Bagian 1)
Hidup adalah sebuah rangkaian perjalanan waktu. Kita hidup mengukir kenangan dan menuai masa depan. Menyelesaikan masalah dan mencari harapan.
Wal ashr,
Kita tenggelam dalam pertaruhan untung dan ruginya kehidupan. Jadi memang sebuah kewajaran dan kodrati ketika semua orang menginginkan keuntungan. Jangankan akhirat, untung dalam hal kehidupan duniawipun sudah sangat memuaskan. Tapi tentu visi keislaman kita tidak boleh berhenti pada titik duniawi semata. Seorang muslim visi hidupnya haruslah keabadian, bukan kefanaan.
Perjalanan hidup kita pastinya akan bertemu dan melewati beberapa ujian. Nilai ujian itulah yang menjadi cerminan level kualitas diri kita. Tuhan pun sudah menegaskan hal itu dalam firmannya, “Allah tidak menguji seseorang melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya”.
Semakin tinggi tingkat ujian yang diterima, maka akan semakin kuat kualitas diri seseorang. Ketika merefleksi perjalanan diri kita, mungkin akan kita temui perasaan lucu dan rasa ingin tertawa sendiri mengingat banyaknya kesalahan-kesalahan masa lalu dan ujian-ujian yang telah dilewati. Semuanya kini menjadi kenangan indah, dan momen ini jugalah yang diharapkan bisa menjadi tumpuan untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Benar, ujian adalah peningkatan kualitas diri yang akan menuntun kita untuk bisa selalu belajar, merenung dan mengevaluasi diri dengan lebih baik.
Lantas bagaimana dengan harapan-harapan kita yang hingga saat ini belum bisa diraih, atau mungkin keinginan yang belum bersambut. Mari kita merenungi firman Allah Azza wajalla
"Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui." .
Apa yang sebenarnya kita inginkan, biasanya hanya terbatas pada apa yang bisa kita tangkap melalui panca indera. Dan harus kita sadari, bahwa panca indera ini sangat terbatas, seperti halnya mata terbatas melihat pada kondisi cahaya yang cukup, pendengaran yang terbatas pada frekuensi tertentu, dan rasa yang terbatas pada skala tertentu. Maka Allah azza wajalla Yang Maha Tahu, akan memberi tidak selalu sesuai dengan harapan dan keinginan kita, tapi apa yang kita butuhkan.
Jadi dari pada memaksakan diri pada apa yang tidak bisa kita raih, maka ada baiknya kita mulai berdoa agar diberikan hati yang tawadhu dan tetap tegar. Ujian dan harapan seperti halnya sisi mata uang kehidupan, sebagaimana sabar dan syukur yang juga selalu berdampingan. Semoga perjalanan wal ashr kita, tidak menuai kerugian, namun keberuntungan. Aamiin.
QS. Al Baqarah ; 286
QS. Al Baqarah ; 216
Penulis : Kasman, S.Pd. (Wakasek SMP Islam Athirah 1)

