Ulasan Buku: Cara Inovatifku Mengajar
Penulis Buku: Yugha Erlangga dan Tim Esensi
Pengulas: Yusminiwati, M.Pd. (Guru SMA Islam Athirah 1 Makassar)
Buku ini merupakan buku kedua setelah lahirnya “Seri
Berani Menginspirasi: Cara Kreatifku Mengajar”. Buku ini dilengkapi dengan lima
karya pilihan dari Lomba Guru Berani Menginspirasi (LGBM) 2016. Buku
ini terdiri atas enam bab, yaitu: (1) Menemukan Ide dalam Pendidikan Kita, (2)
Menemukan Ide Bersama Inovator Hebat, (3) Alam dan Lingkungan Sebagai Sarana
Mengajar, (4) Teknologi Informasi dan Terobosan Belajar, (5) Alat Bantu Ajar
Hari Ini, (6) Guru dan Alat Peraga.
Kisah pada bagian awal buku ini adalah tentang Erin
Gruwell, seorang guru Bahasa Inggris di California pada tahun 1994. Guru ini
mencoba ide-ide kreatif yang mampu mengubah karakter murid-muridnya yang
terlanjur dicap negatif menjadi sosok-sosok yang hangat, terbuka, dan
bersahabat di kemudian hari. Ide-ide kreatif seperti yang digagas oleh Erin,
bisa lahir dari mana saja, salah satunya adalah ruang kelas.
Profesor Cristopher Bjork, antropolog jebolan Stanford
University, Amerika Serikat melakukan survei yang berkaitan dengan metode
pengajaran yang dilakukan oleh guru di Indonesia. Dari hasil survei tersebut,
terungkap bahwa 57% guru di Indonesia kerap menggunakan metode pengajaran yang
berpusat pada siswa. Ternyata kebanyakan lebih dari separuh guru tidak memahami
konsep “pembelajaran aktif” dengan baik. Untuk itu diperlukan pengembangan
ide-ide kreatif untuk meningkatkan kualitas pengajaran di ruang kelas.
Ide tidak terbatas ruang dan waktu. Ide bisa datang kapan saja, bahkan tidak terduga. Seperti kisah apel jatuh yang menginspirasi Isaac Newton. Sebuah apel itulah yang di kemudian hari menjadi “teori gravitasi” yang kita kenal hingga hari ini.
Steve Jobs dan Mark Zuckerberg adalah dua nama yang
sanggup menghadirkan banyak terobosan dengan ide-idenya. Steve Jobs
menginspirasi banyak orang. Ia meyakini bahwa perjalanan hidupnya adalah bagian
dari menyatukan titik-titik. Menariknya, Steve Jobs tidak menyarankan anak-anak
muda menempuh jalan yang sama dengannya dengan putus kuliah. Pada sebuah
kesempatan di Stanford University, Steve Jobs memberikan pidato kehormatan yang
inspiratif dan menggugah di hadapan para alumnusnya.
Mark Zuckerberg adalah CEO Facebook yang telah mengubah
wajah dunia. Mark adalah individu yang dikenal cemerlang sejak kecil. Ia adalah
juara kelas dan meraih banyak penghargaan di bidang matematika, astronomi, dan
fisika, bahkan pelajaran klasik. Pada saat masih berstatus sebagai mahasiwa,
Mark meluncurkan Thefacebook, cikal
bakal media sosial Facebook. Setahun
kemudian ia drop-out dari kampusnya,
Harvard University dan bersama sejumlah kawannya membesarkan perusahaan
rintisan (start-up) Facebook.
Di buku ini diberikan naskah utuh yang dibacakan Steve
Jobs pada saat pidato di Stanford University dan Mark Zuckerberg pada saat
pidato di Harvard University. Steve Jobs menceritakan tiga kisah hidupnya,
yaitu: kisah pertama tentang menghubungkan titik-titik, kisah kedua tentang
cinta dan kehilangan, serta kisah ketiga tentang kematian.
Sedangkan Mark Zuckerberg menyampaikan tiga cara menciptakan
dunia di mana setiap orang memiliki kesadaran akan tujuan: dengan melaksanakan
pekerjaan bermakna secara bersama-sama, mendefinisikan kembali kesetaraan
sehingga setiap orang memiliki kebebasan untuk mencapai tujuan, dan membangun
komunitas di seluruh dunia.
Di buku ini pula
terdapat kisah dari tiga figur reflektif yang sangat menginspirasi, yaitu:
Ridwan Hasan Saputra, karakter fiktif si Doel, hingga ilmuwan sekaligus
negarawan kita, B.J. Habibie.
Di bagian lain
buku ini dikisahkan bagaimana kita bisa belajar banyak tentang bagaimana alam
dan lingkungan menjadi sumber utama inspirasi. Contohnya gagasan sekolah
berbasis alam oleh Rabindranath Tagore, Lendo Novo dengan Sekolah Alam-nya,
serta Nur Rohim dengan Sekolah Masjid Terminal Depok.
Pengaruh
perkembangan teknologi mempunyai dampak positif dan negatif. Bagi mereka yang
visioner dan memandang dunia dengan kebaikan, maka perkembangan teknologi
informasi bisa diterjemahkan menjadi pemberi kebaikan untuk banyak orang. Adanya
teknologi informasi mampu menghadirkan terobosan-terobosan bermanfaat,
diantaranya Ruangguru dan Khan Academy.
Ada empat media yang bisa menjadi alat bantu ajar dalam mendorong kreativitas di ruang kelas, yaitu: (1) Media visual (grafik, diagram, tabel, poster, dan komik), (2) Media audio (radio dan laboratorium bahasa), (3) Media gambar diam (over head projector), dan (4) Media gambar bergerak (film, televisi, video, dan komputer).
Di bagian akhir
buku ini terdapat lima kisah guru-guru kreatif dan inovatif yang menginspirasi
dengan karya-karya mereka dari Lomba Guru Berani Menginspirasi (LGBM) 2016.
Judul-judul karya inovatif mereka sebagai berikut: (1) Memanfaatkan Kardus
Bekas Sebagai Bahan Pembuatan Alat Peraga Geografi Sederhana (Agnas Setiawan,
S.Pd.), (2) Penggunaan Alat Bantu Ajar (Non Digital) Berupa Kalorimeter
Sederhana (Hidayat Sapari, M.Pd.), (3) Alat Bantu Hitung Perkalian Dua Bilangan
(Jumarsih, S.Pd.), (4) Media Antangin Mendeskripsikan Perpindahan Kalor Secara
Konveksi, Konduksi, dan Radiasi (Tuwanto, S.Pd.), (5) Yuk Bermain dengan “GSM”
Gerobak Sayur Multiguna (Ummu Kholidah Hanum, S.Pd.).

