Meraih Kebersamaan Allah SubhanahuWata’ala (Bagian 2)
Penulis : Andi Hasanuddin,L.c.
Seorang
hamba yang senantiasa dibersamai oleh Allah SubhanahuWata’ala maka, tidak
ada kekhawatiran baginya. Tetapi untuk meraih keutamaan ini, maka wajib baginya
untuk menapaki jalan yang tepat sehingga dia bisa sampai ke sana. Wajib baginya
untuk menempuh sebab-sebab sehingga dia pantas untuk mendapatkannya. Berikut ini
adalah beberapa sebab agar kita mampu meraih kebersamaan Allah SubhanahuWata’ala:
1.Iman kepada Allah
Iman
kepada Allah adalah merupakan sebab utama seseorang meraih kemuliaan dibersamai
oleh-Nya, hal tersebut berdasarkan penggalan terakhir dari surah Al-Anfaalayat
19 yang artinya,
“…
dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang beriman”
dan
hakikat keimanan ini, harus nampak pengaruhnya dalam akhlak, karakter, dan mu’amalah
(interaksi)nya dengan orang lain. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihiwasallam sabdakan:
"Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan
seorang mu'min (yang sempurna imannya)
yaitu orang yang manusia lainnya merasa aman darah mereka dan harta mereka
dari gangguannya.”
2.Takwa
dan Ihsan
Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefenisikan
takwa dengan defenisi yang menarik, sebagaimana berikut:
“Takwa adalah seseorang melakukan amal ketaatan
pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia
meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya.
Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan
kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah.”
Secara spesifik, Allah subhanahuwata’ala menjamin
kebersamaan-Nya dengan seorang hamba, apabila dia memiliki karakter takwa dan ihsan;
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan
(ihsan)”. (QS. An-Nahl, 16 : 128).
Pada satu kesempatan, ketika menjadi khalifah, Umar ibnu Khattab
radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya makna kata taqwa kepadaUbay ibnu Ka’abradhiyallahu
‘anhu:
“Apaarti at-Taqwawahai Ubay? Kata ini banyak disebut
oleh Allah subhanahuwata’ala di dalam Al-Qur’an.” tanya khalifah.
Dengan sangat logis, Ubay ibnu Ka’ab pun menjawab: “wahai Amirul
mukminin, pernahkah engkau melewati satu tempat yang banyak durinya?”
“iya, pernah!”
“apa yang engkau lakukan saat itu?” tanya Ubay ibnu Ka’ab kembali.
“saya mengangkat jubahku dan berjalan hati-hati”
jawab
sang khalifah.
“seperti itulah hakikat taqwa." kata Ubay ibn Ka’ab.
Adapun hakikat ihsan adalah sebagaimana yang
pernah didefinisikan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dalam hadits Jibril
‘alaihissalam, hadits shahih dari
Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu:
“Hendaklah engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia
melihatmu.”
Inilah puncak muroqobatullah, ketika seseorang mampu menghadirkan
kondisi di atas saat beribadah kepada Allah subhanahuwata’ala, bahkan setiap
gerak aktifitasnya. Dia yakin, bahwa Allah subhanahuwata’ala tidak pernah
lalai darinya, baik dalam kesendiriannya, maupun dalam keadaan ramai.
3.Sabar
Dalam bukunya, Tsalaatsatulushuul, Syaikh Muhammad bin
Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata bahwa sabar adalah meneguhkan
diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat
kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi
takdir Allah.
Ternyata sifat sabar merupakan salah satu sifat yang
menjadi penyebab sehingga Allah subhanahuwata’ala
membersamai hamba-Nya
secara khusus. Tak hanya itu, sifat ini juga merupakan salah satu karakter pengecualian
agar tidak merugi selain tiga karakter lainnya, sebagimana termaktub dalam
surah Al-Ashr yang sering diulang-ulang di penghujung setiap pertemuan di sekolah kita tercinta.
Masih ada beberapa
sebab yang tidak sempat penulis uraikan dalam tulisan kali ini, semoga di lain waktu
ada kesempatan untuk menguraikan semuanya.
Sebagai penutup dari tulisan ini, semoga kita semua dimampukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai dan karakter di atas ke dalam diri kita, sehingga Allah subhanahuwata’ala membersamai kita dalam setiap langkah, gerak, dan seluruh aktifitas kita sebagai pendidik di Sekolah Islam Athirah ini. Sebab tak diragukan lagi ma’iyyatullah (kebersamaan Allah subhanahuwata’ala) ini, merupakan pintu ketenangan diri, baik secara lahir maupun batin.

