Sosok Inspiratif, dr. Sabruddin, M.Kes, Sp. THTBKL Mengisi Kelas Inspirasi Sekolah Islam Athirah Bone, "Hidup Produkti dan Tebar Manfaat"
Kelas inspirasi, salah satu kegiatan rutin bulanan Sekolah Islam Athirah Bone, kembali digelar pada Selasa, 19 April 2022. Adalah dr. Sabruddin, M.Kes, Sp. THTBKL, seorang dokter speasialis THT di kabupaten Bone, yang juga merupakan orangtua dari Annisa Sabruddin, siswa kelas XI IPA Al Hamid SMA Islam Athirah Bone, menjadi pemateri pada kelas inspirasi edisi bulan April ini.
Beliau selain dikenal sebagai seorang dokter, ia juga sangat aktif dalam kegiatan dakwah dan kegiatan sosial. Di daerah tempat ia bermukim, di Kelurahan Palanga, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kab. Bone, ia merintis sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Sebelumnya, ia juga membangun masjid dari dana pribadi miliknya. Pada kelas inspirasi yang ia bawakan, ia lalu menjelaskan, "Saya ingin berbuat sesuatu untuk daerah saya. Kalau tidak bisa untuk negara, tidak apa-apa saya bangun kampung, tempat saya tinggal. Saya kemudian berpikir, apa ya yang bisa saya lakukan. Akhirnya saya teringat bahwa pada zaman Rasulullah SAW, masjid merupakan pusat semua kegiatan masyarakat diadakan. Lalu kemudian saya bangun masjid. Pelan-pelan, saya mau keberadaan saya di kampung Palanga, bisa membumikan Alquran. Nah muncullah ide untuk membuka taman pengajian Alquran (TPA). TPA ini bukan cuma untuk anak-anak yang baru mau belajar mengaji, tapi ada TPA for teens bagi yang mau menghafal Alquran, dan bahkan ada TPA khusus bagi lansia yang mungkin belum terlalu lancar membaca Alquran. Kita bina setiap hari, alhamdulillah manfaatnya dirasakan oleh masyarakat sekitar."
Pria kelahiran Tawau, 44 tahun lalu ini pun melanjutkan kisah hidupnya, mengapa pada biografi singkat yang ia sampaikan pada awal kegiatan, dirinya pindah sekolah dasar sampai empat kali. "Saya ini adalah anak rantau. Bapak saya dulu merantau sampai ke Malaysia untuk mencari penghidupan, makanya saya pernah sekolah disana. Setelah itu, karena kondisi ekonomi tidak membaik, akhirnya diputuskanlah beliau agar kami pulang ke Indonesia. Ketika pulang, sempat pindah daerah juga beberapa kali, mencari peruntungan, kira-kira dapat rejekinya dimana. Saya 9 bersaudara yang harus dihidupi oleh orangtua yang dari sisi finansial, jauh dari layak. Tapi orangtua kami selalu menyemangati kami untuk tetap sekolah, bagaimanapun keadaannya. Singkat cerita, setamat SMA, saya pikir mau bekerja saja. Tidak pernah terlintas mau kuliah. Tapi ibu saya mendorong saya supaya tetap melanjutkan sekolah. Bahkan, ia meminta saya menjadi dokter. Waktu itu saya tercengang, memikirkan lanjut kuliah saja, tidak pernah terpikirkan. Apalagi ini mau jadi dokter. Tapi karena ibu yang minta, akhirnya saya beranikan diri mendaftar FK UnHas. Saya belajar mati-matian supaya bisa lulus. Saya cari soal-soal tahun lalu, saya kerjakan. Alhamdulillah, tahun 1996, saya menjadi mahasiswa kedokkteran FK UNhas, seperti mimpi ibu saya", jelasnya.
dr. Sabri, sapaan akrab beliau, kemudian memotivasi siswa yang hadir pada kegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama seluruh guru karyawan Sekolah Islam Athirah Bone ini, "Beruntunglah kalian bersekolah di sekolah yang sebagus ini. Bukan cuma gedung dan fasilitasnya yang bagus, tapi saya tahu kualitas pengajaran dan pendidikan di sekolah ini sangat luar biasa. Saya sebelum naik ke tempat ini, melihat sandal berjejer rapi menghadap ke depan, salah satu karakter yang mencerminkan bahwa pembinaan di tempat ini memang sangat bagus. Oleh ya itu, gunakan kesempatan ini dengan baik. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Bentuklah pribadi anda semua di tempat ini, karena ini yang akan anda bawa terus kemanapun sampai kapanpun."
Di akhir kegiatan,

